My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 65


__ADS_3

Erlan, pria itu masih menangis bahkan tak malu walaupun saat ini keluarga nya dan keluarga Lilly berkumpul.


Pria itu menangis di dalam pelukan sang Mommy, menunggu sejak saat ini dokter dan para tenaga medis lain nya belum juga keluar dari ruang rawat Lilly.


"Lilly akan selamat kan Mom?" Tanya terisak Erlan untuk yang ke sekian kali nya.


"Iya Erlan, Lilly akan selamat dan baik-baik saja" Jawab Moon untuk yang ke sekian kali nya juga.


"Ma, kak Lilly.."


"Stt,, kakak mu akan baik-baik aja. Ingat kakak mu perempuan yang keras jadi dia akan tetap bertahan"


Lala mengangguk samar, diri nya juga memeluk tubuh sang Mama dengan air mata yang ikut menetes. Beda nya saat ini mereka duduk di bangku panjang depan ruangan itu, namun Erlan masih di lantai bersama dengan Moon yang terus menenangkan putra nya.


Hingga hampir satu jam lama nya pintu ruangan itu terbuka bersamaan dengan sang dokter yang membuka masker nya.


"Bagaimana dok? Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya cepat Erlan seraya mencoba bangun.


Dengan sigap Moon dan Adam membantu Erlan, tentu mereka mengerti seberapa lemas putra nya saat ini, tak jauh berbeda dengan mereka yang begitu shock mendengar kabar ini.


"Kondisi pasien masih kritis setelah satu jam dalam pemantauan. Detak jantung nya semakin melambat bahkan sempat hilang beberapa waktu lalu. Kami akan menindaklanjuti untuk memindahkan kembali pasien ke ruang ICU"


"Lakukan dok, lakukan yang terbaik untuk menantu saya!" Ujar Adam penuh perintah dan ketegasan.


Sang dokter mengangguk sebelum akhirnya berbalik berniat masuk kembali, namun gerakan nya tertahan saat Erlan menahan tangan nya.

__ADS_1


"Boleh kah saya masuk sekarang dok?"


"Mohon maaf tuan, tetapi saat ini pasien benar-benar tidak bisa di ganggu hal itu hanya akan semakin memperburuk kondisi nya"


Mendengar itu Erlan pun melepaskan tangan nya dari lengan sang dokter dan menyeka sisa air nata nya begitu kasar.


"Kami akan memindahkan pasien terlebih dahulu" Pamit sang dokter sebelum akhirnya benar-benar masuk kembali keruangan HCU khusus milik Lilly.


Di saat suasana sudah sedikit tenang, kini deru napas berat seseorang menjadi pusat perhatian.


Dimana saat ini lebih tepat nya di bangku sana Erick tengah memegang dada nya dan terus mengatur napas nya. Seperti nya penyakit jantung pria itu kembali kumat.


"Pa.."


"Papa hikss.."


"Astaga ayo cepat kita periksa!" Panik Adam yang langsung memapah tubuh sahabat sekaligus besan nya.


Begitu pun dengan Erlan yang ikut membantu, mengabaikan rasa lemas di kaki nya yang tidak pernah hilang semenjak mendengar berita kecelakaan istri tercinta nya satu bulan lalu.


Menuntun tergopoh-gopoh tubuh Erick hingga akhirnya di bantu oleh para tenaga medis yang membawa brankar dan langsung mendorong tubuh Erick ke ruang ICU.


"Ja-ga Li-lilly" Ujar lirih Erick dengan nada terbata pada Erlan.


Tangan pria itu pun menggenggam cukup erat tangan dingin Erlan yang ikut mendorong brankar nya.

__ADS_1


"Papa, aku dan yang lain harus menjaga Lilly, jangan bicara seperti ini!" Tegas Erlan yang sudah berpikiran buruk.


Bukan tanpa alasan Erlan berpikiran seperti itu, pasal nya saat ini wajah Erick terlampau pucat. Belum lagi semenjak kecelakaan Lilly penyakit jantung pria itu terus-terusan kumat.


Beberapa langkah sebelum memasuki ruangan ICU genggaman di tangan Erick pada tangan Erlan dan istri nya terlepas bersamaan dengan hembusan napas terakhir nya.


"PAPA!!!"


Langkah mereka terhenti, tangis semakin pecah begitu salah satu tenaga media itu memeriksa nadi di tangan dan leher Erick yang di nyatakan bahwa Erick sudah tiada.


"Tidak hikss,, tidak! Papa bangun hikss,, bangun Pa hikss" Lala memeluk erat tubuh tak bernyawa di atas brankar itu.


Sedangkan Aili? Wanita itu berada di ambang kesadaran nya, tubuh nya meluruh ke lantai dengan tangis histeris dan rasa sesak di dada.


"Periksa, periksa dia terlebih dahulu dan pasti ada cara agar Erick tertolong!!" Perintah Adam dengan mata memerah.


Dengan sekuat tenaga Adam menarik tubuh Lala agar para tenaga medis itu bisa mengupayakan kemustahilan itu yang mungkin menjadi keajaiban.


"PAPA HIKSS..!!" Raung Lala hendak menerobos masuk ke dalam ICU itu namun tubuh nya tetap di tahan oleh Adam.


Lalu bagaimana dengan Erlan?


Pria itu mematung, membeku, dan air mata nya kembali menetes tanpa isak tangis. Cobaan seperti apa ini? Apa harus seperti ini? Ini semua mimpi 'kan? Pikir Erlan menampar pipi nya cukup kuat hingga perhatian teralihkan pada nya.


"Erlan! Jangan berulah!"

__ADS_1


"Ini bukan mimpi.."


...****************...


__ADS_2