
"Sebelum nya selama libur semester kita berencana untuk menghabiskan waktu di pulau jeju, tetapi yang terjadi malam itu kamu kecelakaan" Jelas Alena masih dengan nada sendu nya.
"Pada akhirnya kami memilih untuk membatalkan liburan itu dan diam di rumah, sesekali kami menjenguk kamu yang masih terbaring di kasur ini" Timpal Elena.
"Maafkan aku.." Ujar Lilly merasa bersalah, menatap satu persatu sahabat nya yang sudah berada di dalam ruangan nya ini sekitar setengah jam. "Gara-gara aku, kalian tidak jadi liburan"
"Tidak, kamu tidak salah. Di sini kami yang memutuskan untuk membatalkan liburan nya" Sahut cepat Brita. "Tidak mungkin kami liburan tanpa kamu, terlebih lagi kamu sedang kritis, Ly" Lanjut nya.
Perlahan Lilly mengerti akan sikap wanita-wanita di hadapan nya ini, terlebih lagi sebelum nya Elena menjelaskan akan kegenitan Brita pada setiap pria.
Namun yakini lah, wanita itu tidak benar-benar akan merebut Erlan dari sisi Lilly. Tidak mungkin seorang sahabat merebut suami sahabat nya kecuali di dalam dunia nyata!.
"Lalu bagaimana dengan kuliah ku? Bukan kah aku sudah lama tidak masuk bahkan sejak awal semester"
"Tenang saja Ly, pemilik universitas itu mertua mu dan suami mu pemegang tahta tertinggi di universitas itu"
Wow, Lilly langsung speechless mendengar penuturan Alena. Benarkah apa yang di katakan ole wanita itu? Rasa nya mulut Lilly gatal untuk bertanya langsung tetapi saat ini Erlan dan mertua perempuan sedang keluar mencari makanan.
"Kamu tau dari mana?" Tanya Lilly pada Alena.
Tuk!.
Wanita itu mengetuk pelan kening Lilly, begitu pelan saking gemas nya. "Kamu yang memberitahu aku saat itu"
"Oh.." Lilly menggaruk tengkuk nya merasa bodoh, andai saja ingatan nya tidak hilang mungkin semua ini akan terasa lebih mudah.
Ceklek~
__ADS_1
Pintu ruang rawat Lilly pun di buka bersamaan dengan masuk nya Erlan dan Moon yang menenteng plastik makanan berlogo restoran itu.
"Makanan datang, apa kalian lapar?" Tanya Moon dengan nada bersahabat nya.
"Uh,, kebetulan aku belum makan tante" Jawab cepat Brita tak tahu malu.
Wanita itu pun langsung mendekati Moon di sofa ruangan itu yang tengah membuka bungkus makanan.
"Astaga.." Gumam malu Elena.
Selain genit dan centil, Brita juga tidak punya urat malu jika berhubungan dengan makanan. Tetapi hebat nya tubuh wanita itu tetap ramping dan ideal walaupun banyak makan.
"Ayo sini duo kembar, kita makan bersama" Ajak Moon saat melihat Alena dan Elena hanya diam di tempat nya.
"Emm tidak usah tante, kami masih kenyang" Tolak halus Alena merasa tidak enak.
"Haishh sudah ayo sini, di kasih enak malah nolak!" Dengus kesal Brita yang sudah menikmati makanan berwarna merah itu.
"Cepat ayo sini, nanti di habiskan teman mu lho" Desak Moon.
Mau tidak mau Alena dan Elena pun berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Menikmati makanan pedas dan bervariasi itu.
"Kamu makan ini" Ujar Erlan membereskan beberapa makanan tanpa warna yang terlihat pucat di meja khusus yang menyatu dengan ranjang rawat Lilly.
"Aku mau yang di sana" Cicit pelan Lilly.
"Ga boleh, makanan itu pedas semua dan kamu sedang dalam masa pemulihan. Ada seafood nya juga, nanti bekas jahitan operasi kamu bisa gatal" Jelas panjang Erlan.
__ADS_1
Mata Lilly berbinar memelas, menatap tidak tertarik pada berbagai jenis makanan pucat itu. Seperti tidak ada kehidupan.
"Ayo aaaa" Erlan memegang sendok berniat menyuapi Lilly, tetapi wanita itu menjauhkan kepala nya.
"Mau nyoba itu.." Lirih nya menatap Brita yang tengah memakan paha ayam berwarna merah yang begitu menggoda dari harum pedas nya.
"Sayang.." Peringat Erlan cukup kesal, jika tau akan begini seharusnya Erlan menyuruh mereka makan di meja luar.
Mendengar suara Erlan yang penuh peringatan itu seketika kegiatan makan ketiga wanita muda dan seorang wanita setengah baya pun terhenti lalu beralih menatap ke arah Lilly.
"Ada apa Erlan?" Tanya Moon.
"Tidak, kalian lanjutkan saja makan nya" Jawab Erlan masih dengan mata yang menatap wajah Lilly.
"Ada apa Lilly?" Tanya lembut Moon yang beralih menatap menantu nya.
"Lilly mau coba paha ayam itu" Tunjuk Lilly pada paha ayam yang berada di tangan Brita.
"Aku bilang tidak sayang, tidak. Saluran pencernaan kamu belum membaik"
Lilly tak bersuara lagi, wanita itu langsung mengambil paha ayam berwarna pucat itu lalu memakan nya dengan kepala menunduk.
Moon menatap kasihan pada Lilly. Namun saat ink ia tidak bisa bernegosiasi dengan putra nya karena kondisi Lilly pun belum sepenuhnya membaik.
"Aku jadi tidak enak.." Gumam Brita menaruh paha ayam pedas itu di piring nya dan menatap makanan itu tidak minat.
...****************...
__ADS_1