
"Huuh..." Hela napas terengah Lilly begitu berhasil menuntun tubuh berat masuk ke dalam kamar nya yang berada di lantai dua.
"Kemana lari nya pelayan dan penjaga? Kenapa tidak ada satu pun batang hidung nya yang terlihat?!" Cerocos nya kesal.
"Mereka semua aku berikan cuti" Jawab Erlan yang sudah terbaring lemas di kasur king size milik nya.
"Apa?!" Mata Lilly membulat tak percaya mendengar ucapan Erlan.
"Aku sedang tidak ingin di ganggu" Lanjut Erlan.
"Lalu karena ini kamu jadi sakit karena belum makan, begitu?" Sambung jengah Lilly.
"Aku bisa masak lho"
"Ya terus kalau bisa kenapa ga masak buat diri sendiri hah?!"
Lilly kesal, benar-benar kesal. Stok kesabaran nya sudah tidak tersisa lagi di tambah diri nya sangat lelah karena terus memapah tubuh Erlan.
"Aku hanya ingin makan masakan istri ku" Jawab Erlan setelah beberapa saat terdiam.
"Sudah lah, cepat telepon dokter. Aku harus pulang sekarang" Ucap Lilly mengacuhkan jawaban Erlan.
"Setidaknya buatkan aku makanan terlebih dahulu"
"Tidak mau, memang aku pelayan mu?" Sinis Lilly bersedekap dada.
"Hah,, sudah lah" Pasrah Erlan dengan helaan napas panjang nya. "Kalau kamu mau pulang bawa saja mobil ku dan terima kasih sudah menolong ku sampai di sini" Lanjut nya.
"Telepon dulu dokter nya, baru aku pulang" Celetuk Lilly.
Erlan tersenyum tipis kemudian mengambil handphone yang berada di saku nya. Menelpon dokter pribadi sesuai perintah Lilly hingga akhirnya panggilan itu telah di akhiri.
"Sudah" Lapor Erlan.
Lilly mengacuhkan nya karena ia tau Erlan memang sudah menelpon nya. Kemudian wanita itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Erlan sendiri.
Erlan hanya menatap nanar pintu kamar nya yang sudah tertutup rapat dan tak lama setelah nya terdengar suara mesin mobil nya yang di hidupkan di iringi dengan suara nya yang mulai melaju meninggalkan rumah besar itu.
Erlan terkekeh pelan dan menutup wajah nya dengan lengan kekar nya. "Malang sekali nasib mu, Erlan"
*
__ADS_1
"Anda terlalu kelelahan, Tuan. Saya saran kan untuk beristirahat selama beberapa hari di rumah tanpa melakukan kegiatan yang dapat membebankan pikiran anda" Ujar sang dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Erlan.
"Utamakan juga untuk makan, bukan 'kah sudah dua hari anda tidak makan?"
Erlan mengangguk, memang benar dirinya belum makan sejak kembali ke rumah ini dan tinggal sendiri di sini tanpa orang tua ataupun istri.
"Baiklah, saya sudah tuliskan beberapa resep obat. Pada siapa saya harus memberikan nya?"
Erlan mengulurkan tangan nya. "Berikan pada saya dok, nanti saya akan meminta asisten saya untuk menebus nya"
Terlihat raut ragu dari sang dokter sebelum pada akhirnya dokter itu memberikan resep obat tersebut ke tangan Erlan.
"Harus segera di tebus dan anda harus segera meminum obat nya, Tuan" Peringat tegas dokter yang hanya di respon anggukan dari Erlan.
"Kalau begitu saya permisi" Pamit dokter tersebut.
"Terima kasih dok, dan maaf saya tidak bisa mengantar"
"Tidak usah sungkan, Tuan."
Setelah itu dokter pun berlalu meninggalkan kamar Erlan yang kembali membuat sang pemilik sediri di dalam kamar luas itu.
*
Setelah mendapat sahutan, panggilan di antara kedua nya berakhir bersamaan dengan langkah kaki sang dokter yang menuruni anak tangga itu.
"Dok" Panggil Lilly, menghampiri dokter yang baru saja keluar dari kamar Erlan.
"Bagaimana kondisi nya?"
"Kondisi Tuan muda cukup memprihatinkan, sudah dua hari beliau tidak makan dan itu dapat melukai lambung nya. Di tambah beliau terlalu banyak pikiran hingga kepala nya terus sakit"
Lilly menghela napas berat. "Baiklah dok, dimana resep obat nya?"
"Resep obat saya berikan pada Tuan muda, beliau bilang akan menyuruh asisten nya untuk menebus obat itu"
Lilly mengangguk. "Terima kasih dok"
"Sama-sama nyonya, kalau begitu saya permisi"
Lilly mematung mendengar panggilan itu kembali ia dengar hingga tak merespon ucapan pamit sang dokter yang sudah menghilang dari pandangan nya.
__ADS_1
"Ah siall, kenapa pipi ku panas!" Maki nya kesal seraya memegang pipi.
Tersadar akan bau sesuatu. Lilly pun menoleh dan teringat akan masakan nya. "Astaga bodoh!" Maki nya lagi seraya berlari ke arah dapur.
Dengan cepat Lilly mematikan api nya yang untung saja masakan nya belum gosong ataupun hancur.
"Untung tidak gosong" Ucap nya lega yang kemudian langsung menuangkan makanan tersebut ke piring sebagai teman nasi atau pun bubur yang dia hidangkan untuk Erlan.
Ceklek~
Membuka pintu kamar nya perlahan, Lilly karena takut sang penghuni tertidur tetapi ternyata kewaspadaan nya sia-sia kala melihat tatapan terkejut Erlan.
"Kamu.." Erlan tak mampu berkata-kata saat melihat sosok wanita yang sangat ia cintai kembali masuk ke kamar nya dengan tangan yang membawa nampan berisi makanan.
Aroma makanan itu langsung menyeruak masuk ke penciuman nya hingga membuat perutnya langsung berbunyi.
"Cih, cepat makan" Ketus Lilly melirik ke arah perut Erlan.
Tanpa basa-basi lagi Erlan langsung menyantap makanan tersebut yang ternyata masih panas.
"Hah..!!" Erang nya dengan mulut menganga kepanasan.
"Astaga bodoh, pelan-pelan itu semua masih panas!" Omel Lilly seraya memberikan segelas air pada pria itu.
"Hah.. Panas" Pria itu menjulurkan lidah nya dengan tangan yang mengibas nya.
"Benar-benar merepotkan!" Gerutu Lilly yang kembali mengambil nampan makanan tersebut lalu menaruh nya di nakas.
Setelah melakukan itu Lilly pun duduk di sebelah Erlan dan menghentikan tangan pria itu dengan mata yang memperhatikan lidah Erlan.
"Bisa sariawan kalau begini" Gumam Lilly melihat lidah Erlan yang memerah.
Memperhatikan begitu intens hingga akhirnya sang pemilik lidah langsung menarik tengkuk nya dan mempertemukan bibir kedua nya.
"Eemmphh..!!"
Lilly memberontak kaget, namun tak lama kala merasakan lidah panas Erlan memasuki sela bibir nya dan menerobos masuk di dalam sana.
"Astaga ini panas karena makanan atau karena tubuh nya yang sedang demam?" Batin Lilly.
...****************...
__ADS_1