
Satu malam telah berlalu, tidak ada yang tertidur baik Lilly atau pun si alter ego yang tengah menguasai tubuh Erlan. Arlan.
Lilly terus bersandar di kepala kasur sana dengan tangan yang memeluk kaki nya di balik selimut. Sedangkan Arlan, pria itu tengah berbaring di sebelah Lilly dengan mata yang terus tertuju pada nya.
"Kapan Erlan akan kembali?" Tanya takut Lilly yang sejak malam terus membungkam rapat mulut nya.
Arlan memejamkan mata sekilas mendengar pertanyaan Lilly, sampai pada akhirnya ia bangun dan mengusap pipi Lilly yang terlihat begitu takut pada nya.
"Makan dulu, yuk" Ajak nya dengan nada santai namun tetap terdengar mematikan di telinga Lilly.
"Aku ga lapar" Tolak Lilly.
Bohong jika Lilly tidak lapar, pasalnya dari semalam ia belum makan dan jika pun sekarang ia makan takut nya pria di depan nya ini meracuni makanan nya.
"Aku tidak akan meracuni mu, honey" Bisik Arlan di depan wajah Lilly membuat wanita itu langsung memalingkan wajah nya. "Ayo"
Kali ini Arlan tak menunggu jawaban, pria itu langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Lilly dan langsung mengangkat tubuh mungil itu.
"Ya--"
"Astaga ringan sekali, apa si lemah itu tidak memberi mu makan?"
"Si lemah?" Ulang bingung Lilly dengan nada terbata.
Arlan mengangguk, si lemah adalah panggilan dari nya untuk Erlan sang pemilik tubuh yang selalu mendapat ketidakadilan.
"Maksud mu, Erlan?"
Arlan kembali mengangguk dengan langkah yang menuruni satu persatu anak tangga.
"Astaga, seperti ini kah penderita DID? Saling membenci karakter lain nya?" Tanya Lilly dalam hati nya.
Seperti nya wanita itu harus belajar lebih dalan mengenai gangguan tersebut dan bagaimana cara mengembalikan nya ke pemilik tubuh.
__ADS_1
Sulit di percaya, tapi nyata nya memang seperti ini. Anggap saja saat ini Lilly memiliki dua suami di tubuh yang sama dan sikap yang berbeda.
Menurunkan perlahan Lilly di kursi, lantas Arlan pun duduk di sebelah nya dengan berbagai hidangan yang sudah tersedia.
"Ayo makan" Ujar nya.
Lilly menggeleng pelan, menatap makanan itu penuh kecurigaan dan hal itu pun berhasil membangkitkan emosi Arlan yang sedari tadi ia tahan.
Brak!.
Dalam sekali pukulan tangan nya pada meja makan itu berhasil membuat piring-piring sedikit terangkat hingga menghasilkan bunyi yang sangat nyaring itu.
Lilly menunduk, tak berani menatap wajah dan tatapan menyeramkan itu.
"Pantas kah seorang istri mencurigai suami nya, hah?!" Bentak murka Arlan seraya mencengkram dagu Lilly begitu kuat.
"Shh,, kamu bukan suami ku. Suami ku, Erlan bukan Arlan!" Sahut Lilly.
Benar, ia tidak boleh diam saja dan tidak boleh lemah. Rasa nyeri pada inti nya juga sudah berkurang dan dengan begini ia mungkin bisa melawan pria di depan nya.
Lilly menahan pergelangan tangan Arlan guna menahan tekanan pada dagu nya. Lantas wanita itu menarik nya dan mengigit jari Arlan.
"Erghh!! Sakit sialan!" Erang kesakitan Arlan seraya berusaha melepaskan jari nya dari gigitan kuat itu.
Tak kunjung di lepaskan dan jari nya terasa begitu berdenyut, Arlan pun mengangkat sebelah tangan nya yang mungkin akan menampar Lilly.
Tetapi secepat mungkin Lilly melepaskan gigitan nya dan bangun lalu menjauh dari jangkauan Arlan.
"Kalau begitu, persetanan juga dengan siapa aku berhadapan. Jika harus mati sekarang pun aku tidak peduli, cuih!" Balas Lilly yang entah dari mana muncul nya keberanian itu.
Arlan terkekeh sinis seraya mengusap-usap jari nya yang tercetak jelas barisan gigi rata Lilly.
"Berani melawan ku, huh?"
__ADS_1
"Kenapa tidak? Kamu tidak nyata dan kamu hanya lah khayalan Erlan untuk menjadi kuat, lebih tepat nya menjadi kejam yang tidak berperasaan!"
Kedua tangan Arlan terkepal begitu kuat, bahkan urat-urat di lengan kekar itu tercetak begitu nyata. Rahang nya semakin mengetat dan netra nya semakin menggelap.
Seraya melangkah mundur, Lilly terus memutar ingatan nya dimana ia pernah membaca buku tentang gangguan DID sejak mengetahui Erlan memiliki nya.
"Mendekat lah dan meminta maaf sekarang, maka aku akan memaafkan mu. Honey" Ujar lembut Arlan penuh penekanan.
Lilly tak merespon, tatapan nya mengedar ke segala mencari sesuatu karena ia mengingat terakhir saat pertama kali alter ego itu muncul.
"Pingsan, ya aku harus membuat Arlan tidak sadarkan diri agar Erlan kembali!" Monolog Lilly dalam hati.
Mata Lilly pun terhenti pada vas bunga yang jarak nya cukup jauh dari nya. Bukan kah vas bunga itu akan berguna untuk memukul Arlan hingga tidak sadarkan diri?
"Ya, aku harus mengambil nya!" Lilly kembali menatap Arlan yang ternyata semakin mendekati nya.
"Ayo lah honey, tidak usah berfikir macam-macam dan menurut lah pada ku" Suara rendah itu berhasil mengintimidasi Lilly selama beberapa detik.
Hingga akhirnya saat tangan Erlan hendak meraih tubuh Lilly, dengan cepat wanita itu menendang milik suami-Nya itu begitu kuat.
Bugh!
"Arghhh!!" Erang nya kesakitan dengan tubuh yang membungkuk dan kaki yang menyilang menekan rasa sakit.
"Rasakan itu!" Pekik geram Lilly yang langsung melangkah kan kaki nya begitu cepat ke arah vas bunga.
"Siall kenapa sangat ngilu!" Maki Lilly.
Tangan nya telah berhasil memegang vas bunga itu, baru saja ia ingin berbalik tetapi tiba-tiba vas tersebut sudah melayang dan hancur di lantai sana.
"Ingin membuat ku tidak sadar huh?!" Bisik Erlan tepat di samping telinga Lilly dengan tangan yang meremat pinggang wanita itu.
"Errghh!!"
__ADS_1
...****************...