
Brak!
Nico yang tengah menggila itu pun seketika menoleh ke arah pintu, begitu pun dengan Lilly dengan pipi yang sudah di aliri air mata.
"Nico!" Teriak murka seorang wanita bertubuh gempal yang baru saja menampakkan diri nya di balik pintu yang di dobrak tersebut.
"Mi-miss Vidan" Ucap panik Nico.
Lantas pria itu langsung melepaskan tubuh Lilly dan menjauh begitu saja dengan wajah panik.
"Apa yang kalian lakukan di area kampus!"
"Nico berniat memperk*sa saya, Ms." Sahut Lilly dengan tangan yang menyeka air mata nya. Tubuh mungil nya pun sudah berada di belakang tubuh gempal Ms.Vidan.
"Bohong Ms., bohong!" Sentak Nico sesaat sebelum akhirnya pria itu mencoba menetralkan ekspresi nya. "Lilly yang menggoda saya dan--"
"Tutup mulut lo, brengsek!" Potong Lilly. "Bahkan mahasiswa di luar sana tau bahwa lo yang narik gue ke sini!" Erang nya.
"Kamu benar-benar memalukan, Nico! Masalah mu yang sebelum nya saja belum reda dan sekarang kamu malah berniat melakukan hal kotor kepada Lilly?!" Ucap panjang Ms.Vidan dengan raut marah.
"Tida Ms., saya.. Saya--"
"Cukup!" Sentak Ms.Vidan, "Sekarang ikut saya ke ruangan dekan!"
Mata Nico melotot begitu lebar seakan ingin keluar dari tempat nya. "Tapi Ms.--"
"Ikut saya!"
Ms.Vidan langsung menarik tangan Nico dan menyeret pria itu keluar dari gudang, menyisakan Lilly yang menatap kepergian kedua nya dengan tangan yang mengusap sisa air mata yang tak sengaja mengalir di pipi nya.
"Hah,, sayang sekali drama nya berakhir begitu cepat" Desah nya kecewa namun tak lama kemudian bibir wanita itu mendesis. "Ah sial, aku jadi kotor!" Umpatnya.
"Ya kamu jadi kotor, honey..!"
Mendengar suara bariton itu seketika Lilly berbalik yang tiba-tiba saja sudah berdiri seorang pria bertubuh kekar di belakang nya.
"Astaga!" Pekik kaget Lilly dengan tubuh yang hampir terjengkang.
__ADS_1
Beruntung saja Erlan menahan pinggang nya, tetapi tak sesingkat itu dimana saat ini pria itu malah membawa tubuh Lilly hingga kembali terpojok ke dinding.
"Erlan!" Sentak Lilly, mata nya membulat sempurna dan tangan mungil nya berusaha menjaga jarak di antara tubuh kedua nya.
"Kamu kotor honey dan aku harus membersihkan nya" Desis berat Erlan tepat di depan wajah Lilly.
"Ap-- Emmhh..!!" Belum sempat Lilly melanjutkan ucapan nya tiba-tiba saja Erlan membekap mulut Lilly.
"Tidak di sini, tapi di rumah kita" Lanjut Erlan melirik ke arah pintu gudang tersebut yang terbuka.
"Ga ada istilah rumah kita!" Sentak Lilly menghempaskan tangan Erlan dan mendorong tubuh pria itu dengan sisa tenaga nya. "Ingat kita sudah pisah!" Lanjut nya tajam.
Setelah mengucapkan itu Lilly dengan cepat melangkah ke arah pintu, namun langkah nya terhenti kala Erlan kembali berbicara.
"Temani aku terapi setelah jam kuliah kamu selesai"
Melihat keterdiaman Lilly, Erlan pun melangkah mendekati wanita itu lalu memeluk nya dari belakang.
"Setidaknya tepati janji mu yang ini" Lanjut nya penuh permohonan.
Mendengar jawaban itu, Erlan pun melayangkan kecupan manis pada pipi Lilly dan melepaskan pelukan nya.
"Kalau gitu aku tunggu dan jangan lama-lama" Ujar nya dengan nada bahagia, mengabaikan mata membulat Lilly. "Bye, aku ada jam di kelas lain" Lanjut nya mengacak surai Lilly dan pergi begitu saja.
...----------------...
"Ly!" Panggil seorang wanita saat Lilly baru saja keluar dari kelas nya.
Lilly pun menoleh dengan alis terangkat, pasalnya ia tidak kenal siapa wanita yang baru saja memanggilnya dan mendekati nya.
"Sejak kapan kamu punya teman selain kita, Ly?" Celetuk Brita.
"Apaan sih, aku aja ga kenal" Sahut nya kesal.
"Emm, maaf jika aku menganggu" Ujar sang wanita.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Itu, tadi Mr.Erlan menyuruh ku untuk memanggil mu dan kamu suruh datang ke ruangan nya"
Kening Lilly mengkerut bingung, tetapi di sebelah nya Brita bak cacing kepanasan.
"Wah ada apa nih Ly? Aku ikut ya?" Seru nya antusias.
"Maaf tapi pesan Mr.Erlan, hanya Lilly saja yang yang datang keruangan nya"
"What!" Pekik heboh Brita.
Baru saja wanita itu berniat untuk mendekati Erlan dengan cara mengikuti setiap langkah Lilly, tetapi pria itu sungguh keterlaluan.
"Sudah lah mungkin ada yang ingin Mr.Erlan bicarakan, ayo pulang!" Ajak Elena menarik Brita.
"Tapi aku--"
"Ke mall dulu, nanti aku traktir lipstik terbaru" Potong Alena.
"Woah, ayo!" Seru Brita yang kini malah menuntun langkah si kembar.
Melihat itu Lilly hanya mampu terkekeh pelan, sahabat nya yang satu itu mau seaktif apapun jika berhubungan dengan make up gratisan pasti akan lupa dengan niat awalnya.
"Kalau gitu aku duluan, Ly" Pamit wanita itu yang takut menatap wajah Lilly.
"Hmm" Sahut nya singkat.
Seraya melangkah Lilly mengeluarkan handphone nya. "Apaan sih, kan tadi udah aku bilang tunggu di parkiran. Kenapa malah nyuruh datang ke ruangan nya?!" Batin nya kesal.
Mengaktifkan handphone berniat mengirim pesan pada Erlan, tetapi begitu membuka room chat pria itu. Ternyata Erlan sudah menghubungi nya berkali-kali dan mengirimi nya pesan.
'Ke ruangan aku, Ly. Kepala aku sakit banget' Isi pesan terakhir yang Erlan kirimkan.
Membaca itu langkah Lilly yang awalnya berjalan ke arah parkiran belakang, kini langsung berbelok menuju ruangan pria itu yang ada di ujung lorong
...****************...
.
__ADS_1