My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 68


__ADS_3

Dengan penuh kesabaran saat ini Erlan tengah menyuapi Lilly makan, memakan makanan rumah sakit yang tidak ada rasa nya itu membuat Lilly membungkam bibir nya berkali-kali tanda menolak.


"Ayo buka mulut nya, aaaa" Ujar Erlan dengan mulut terbuka, memperagakan agar Lilly membuka mulut ny.


"Ga mau Erlan, aku kenyang" Tolak Lilly membuang pandangan nya ke arah lain.


"Sayang, kamu harus makan"


"Ga mau, ga ada rasa nya"


Erlan menghela napas melihat makanan yang di berikan dari pihak rumah sakit itu masih utuh karena Lilly baru saja memakan beberapa suap.


"Baiklah, kamu mau makan apa?" Putus Erlan pasrah, dari pada istri nya tidak makan.


"Apa aja yang penting bukan makanan rumah sakit"


"Baiklah tunggu sebentar, aku akan menyuruh penjaga di luar untuk membeli nya"


Baru saja Erlan berdiri tetapi tangan nya sudah di cekal oleh Lilly membuat mata nya kembali tertuju pada wanita itu.


"Dimana keluarga ku? Maksud ku, keluarga kita?" Tanya Lilly yang sebenarnya sedari tadi ingin menanyakan nya.


"Astaga benar, aku lupa mengabari mereka!" Sahut Erlan setengah memekik kaget kala mengingat ia belum mengabari keluarga nya.


Melihat ekspresi pria di depan nya membuat Lilly terkekeh pelan, sungguh menggemaskan!.


"Tunggu sini ya, jangan kemana-mana aku akan menghubungi mereka terlebih dahulu sekalian memesan makanan"


Lilly mengangguk sebagai jawaban, sudut bibir nya pun saling terangkat membentuk senyum manis dan hal ini lah yang membuat Erlan semakin bahagia.


Cup!


Erlan mengecup sekilas bibir Lilly, setelah nya pria itu langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan Lilly yang masih mematung karena gerakan cepat itu.


"Astaga.." Desis Lilly memegang kedua pipi nya yang terasa panas. "Aku benar-benar sudah menikah? Dan pria tampan itu benar-benar suami ku?" Gumam nya dengan pipi bersemu.


Jantung Lilly berdebar tidak karuan, begitu pun dengan perasaan nya. Kini wanita itu kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepala nya.


"Aku beruntung sekali memiliki suami tampan seperti nya aaaa..!!"


*


Sedangkan di sisi lain, kini Erlan memasuki mobil nya setelah memesan makanan sehat untuk istri nya pada salah satu penjaga yang menjaga ruangan Lilly.


Pria itu mengutak-atik handphone nya hingga terdengar sambungan telepon yang mulai terhubung.


"Halo Dad" Sapa Erlan yang ternyata menghubungi Daddy nya.

__ADS_1


"Ada apa, Lan?"


"Lilly sudah sadar"


"Apa? Benarkah?!"


Erlan tersenyum tipis mendengar pekikan kaget sang Daddy. "Benar Dad, saat aku pulang dari pemakaman tadi ternyata Lilly sudah sadar setengah jam yang lalu"


"Astaga baiklah Daddy akan memberitahu yang lain!"


"Tunggu Dad"


"Ada apa lagi?"


"Dokter berpesan untuk jangan memberitahu Lilly kabar duka ini, dan aku.. " Erlan pun mulai menceritakan kebohongan nya pada sang Daddy dan menceritakan semua yang ia katakan pada Lilly beberapa jam yang lalu.


"Oke baiklah, untuk kali ini Daddy memaklumi kebohongan mu. Dan Daddy percaya ini semua yang terbaik"


Erlan menghela napas lega, Daddy nya memang sangat pengertian. "Terima kasih, Dad"


"Hm, kalau gitu Daddy mau kasih tau yang lain dulu. Daddy juga akan ceritakan hal ini pada mereka"


"Ya lebih baik mereka tau dari pada saat di sini mereka salah bicara"


"Dad!! Aili pingsan lagi!!" Teriakan memekik itu dapat Erlan dengar sebelum sang Daddy mengucapkan sesuatu.


"Aili terus pingsan sepulang dari pemakaman, nanti Daddy kabarin lagi kamu jaga Lilly dengan benar!"


Tutt..


Panggilan pun langsung berakhir begitu Adam mengucapkan kalimat tersebut, rasa bahagia yang Erlan rasakan karena sang istri sudah sadar.


Kini ia kembali merasakan khawatir dan tidak tenang akan kondisi sang Mama dan adik ipar nya.


Semua ini terjadi begitu saja, entah siapa yang harus di salahkan di sini. Apakah para keluarga nya yang membuat rencana sebelum nya.


Atau Erlan sendiri yang ikut dalam rencana tersebut bahkan membuat berita besar itu hingga membuat Lilly kecelakaan.


"Brengsek!!" Pekik frustasi Erlan memukul setir nya.


Kepala nya beberapa kali ia benturkan pada setir, kembali menangis mengingat kepergian sang Papa.


Andai Lilly tidak lupa ingatan, mungkin begitu mengetahui Papa nya telah tiada kondisi Lilly lebih buruk dari perkiraan.


"Erlan janji akan menjaga Lilly sampai napas terakhir Erlan, Pa. Maafin Erlan sempat buat Papa khawatir hikss.." Isak Erlan mengingat diri nya, ralat tetapi Arlan yang saat itu membawa kabur Lilly.


...----------------...

__ADS_1


Ceklek~


Pintu ruang rawat Lilly di buka oleh Erlan yang langsung di sambut tatapan kesal dari sang pemilik ruangan.


"Kamu kemana aja huh?" Dengus kesal Lilly tidak sabaran. Padahal saat ini Erlan baru saja menutup pintu dan berjalan mendekati nya.


"Kenapa? Merindukan ku?" Goda Erlan namun tak menatap wajah Lilly.


"Mata kamu--"


"Makanan nya sudah sampai? Kenapa belum di makan?" Potong Erlan seraya membuka bungkus makanan yang ia pesan.


"Aku menunggu mu" Jawab singkat Lilly menatap penuh tanda tanya wajah Erlan.


Mendengar itu Erlan tersenyum tipis dan menatap wajah Lilly dengan mata yang masih memerah akibat tangis nya di dalam mobil tadi.


Deg!


"A-ada apa?" Tanya Lilly mengusap pipi Erlan. "Kamu habis nangis?" Lanjut nya khawatir.


"Tidak sayang, tadi aku habis cuci muka pakai sabun dan busa nya masuk ke mata ku" Jawab Erlan setengah jujur.


Karena memang benar ia habis cuci muka namun mata nya yang merah bukan karena busa sabun.


"Kamu suami aku 'kan?" Tanya tiba-tiba Lilly dengan nada tidak yakin seperti sebelum nya.


"Astaga sayang, apa aku benar-benar harus mengambil buku nikah kita?"


Lilly berdehem samar. "Jika memang kamu suami ku, seharusnya kamu jujur pada ku. Ada apa..?" Nada tegas sebelum nya berganti dengan nada lembut pada kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lilly.


Jelas wanita itu bisa membedakan mana mata yang perih akibat terkena busa sabun atau pun mata memerah karena habis menangis.


Bibir Erlan mengerucut, lalu pria itu kembali menaruh makanan pada nakas di samping ranjang rawat itu dan langsung membenamkan wajah nya pada ceruk leher Lilly.


"Aku kesal sampai menangis karena keluarga kita tidak bisa pulang sekarang" Adu bohong Erlan.


"Huh?"


"Mereka sedang ada perjalanan bisnis ke Meksiko dan malam ini cuaca di sana sangat buruk jadi mereka tidak bisa pulang secepat nya huu"


Mendengar itu Lilly termenung sesaat. "Tidak apa, yang penting mereka baik-baik saja dan lagi pula masih banyak waktu"


"Tapi tetap saja aku kesal"


Lilly terkekeh pelan mendengar nada penuh rajuk itu. "Apa kamu pria yang manja?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2