
"Pokok nya aku tidak mau tau Lilly harus segera di temukan!" Hardik marah Erick.
Adam mengusap pelipis nya berkali-kali, begitu pun dengan Moon yang mencoba menenangkan Aili di sebrang sana.
"Bagaimana jika Lilly di perlakukan kasar lagi hikss,, bagaimana jika Lilly--"
"Tidak Aili, aku yakin Lilly akan baik-baik saja. Erlan lah yang membawa pergi Lilly" Potong Moon.
Berbohong, hanya itu yang bisa Moon lakukan untuk menutupi siapa yang membawa pergi Lilly. Walaupun tubuh Erlan tetapi yang membawa kabur Lilly adalah alter ego nya, Arlan.
Kedua pasutri yang anak perempuan nya di bawa kabur pun sudah mengetahui kondisi Erlan, tentu nya Adam dan Moon harus menceritakan ini.
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kalian, kenapa bisa-bisa nya kalian menjodohkan anak ku dengan pria yang memiliki gangguan seperti Erlan!" Sentak Erick mulai tak sudi.
Sontak hal itu pun mengundang tatapan tajam dari Adam dan tatapan sedih dari Moon. Hati mereka tentu nya terluka mendengar perkataan Erick.
"Awal nya Erlan baik-baik saja, bahkan sejak memasuki sekolah menengah atas alter ego itu tidak lagi muncul!" Sahut Adam emosi. "Dan kau tau karena apa dia muncul kembali?" Tanya nya.
Erick terdiam, menatap tajam sang sahabat yang entah ke depan nya masih sahabatan atau tidak.
"Karena putri mu!" Sentak Adam. "Kalau dia tidak mempermalukan anak ku di depan umum semua ini tidak akan terjadi!"
Isak tangis Aili pun terhenti, menatap jauh ke arah Adam yang sama emosi nya seperti suami nya.
"Andai sedikit saja putri mu itu bisa memperlakukan anak ku dengan baik, hal seperti ini tidak akan terjadi!"
"Oh jadi sekarang kamu menyalahkan putri ku?" Sahut tak senang Erick. "Lalu sebelum nya siapa yang meminta dan memohon agar anak nya bisa menikah dengan anak ku?"
Adam terdiam sesaat, ia kalah telak karena memang sejak awal ia lah yang meminta bahkan memohon agar Lilly mau di jodohkan dengan Erlan, dan itu semua tak lepas dari permintaan Erlan.
"Tapi setidaknya dengan ini Lilly dapat berubah 'bukan? Dan yang terpenting anak ku mau dengan perempuan nakal seperti nya" Jawab Adam yang berhasil membuat Erick berdiri dan memukul meja di hadapan nya.
Brak!.
__ADS_1
"Jangan kamu pikir putri ku tidak laku ya! Banyak yang menyukai nya walaupun akhlak dia minus!" Pekik nya emosi.
Adam ikut berdiri, bahkan memukul meja juga.
Tatapan tajam penuh kemarahan itu saling menghunus jantung sepasang sahabat itu satu sama lain.
Para istri yang semula berusaha menenangkan diri masing-masing pun kini langsung mendekat dan menenangkan suami-suami nya terutama Aili.
"Sudah Pa, jangan terlalu emosi ingat jantung mu.." Ucap Lirih Aili seraya mengusap bahu suami nya.
"Sudah Dad, mau bagaimana pun saat ini anak kita yang salah" Ujar Moon yang juga mengusap-usap punggung Adam.
Mendengar segala ucapan penenang dari para istri masing-masing pun perlahan napas memburu itu telah berangsur menjadi tenang.
Adam dan Erick yang awal nya berdiri kini sudah kembali duduk, di susul oleh istri mereka.
"Temukan Lilly secepatnya, jika sampai anak ku kenapa-napa kalian akan aku tuntut!"
"Hei--" Adam yang berniat membalikkan perkataan Erick pun seketika terhenti kala mendapat cubitan pada lengan nya bersamaan usapan pada bahu nya.
"Huh!" Adam mendengus menahan kekesalan, pria itu memilih untuk diam dan meminum kopi nya.
...----------------...
Sedangkan di pinggir pantai sana, baik tubuh Lilly atau pun Arlan tidak ada lagi yang bisa menghindar dari pasir basah pantai itu.
Kedua nya sama-sama berbaring menikmati panas nya matahari yang berada di atas kepala mereka setelah perang pasir sebelum nya.
Puas memejamkan mata dan menghilangkan rasa lelah nya, kepala Arlan pun menoleh menatap ke sebelah nya dimana ada Lilly yang masih memejamkan mata dengan senyum yang menghias wajah nya.
"Sudah menyerah?" Tanya Arlan yang langsung mendapat gelengan dari Lilly.
Arlan mendecih kesal, lantas menggeser tubuh nya dan mengangkat kepala nya dengan sebelah tangan yang menopang nya.
__ADS_1
"Kalau gitu ayo lanjutkan sampai aku benar-benar mengubur mu di pasir ini" Bisik nya di depan wajah Lilly.
"Tunda dulu, aku masih lelah untuk melawan iblis seperti mu" Jawab Lilly dengan tangan yang melingkar di leher Arlan lalu menarik nya hingga kepala itu terjatuh di dada nya.
"Hei--"
"Stt,, aku sedang menikmati sejuk nya matahari di pantai" Potong Lilly. Mata nya masih terpejam, tak terbuka sedikit pun.
Sedangkan Arlan yang mendengar penuturan Lilly seketika kembali mendecih. "Dimana-mana matahari itu panas, tidak ada yang sejuk sedikit pun kecuali di dalam kulkas!" Ketus nya.
Lilly terkekeh pelan dan mengusap-usap kepala yang ada di pelukan nya itu. "Sekarang aku tau, sebenarnya kamu sama baik nya dengan Erlan tetapi--"
"Tidak! Aku jahat!" Sentak Arlan menarik kepala nya dari pelukan Lilly.
Mendengar itu Lilly pun membuka kelopak mata nya dan menatap samar ke arah tubuh Arlan yang sudah duduk.
"Jangan karena ini--"
Brugh!
Tubuh Arlan kembali berbaring karena tarikan yang cukup kuat dari Lilly. Tangan wanita itu juga menahan kepala nya dan langsung membawa nya ke dalam pelukan seperti sebelum nya.
"Baiklah, apa sebenarnya tujuan mu kembali menguasai tubuh Erlan?"
"Tidak ada alasan, dia terlalu bodoh bahkan untuk mempertahankan mu saja dia tidak bisa" Sahut nya yang perlahan menikmati posisi itu.
Lilly terdiam sejenak, tangan nya masih mengusap-usap kepala pria itu.
"Jadi kalau aku bilang, aku akan bertahan pada Erlan. Kamu mau mengembalikan nya?" Tanya ragu Lilly.
"Tergantung kamu menepati ucapan mu atau tidak!"
Lilly menarik napas nya begitu dalam lalu menghembuskan nya begitu kasar.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak jadi meninggalkan Erlan ya walaupun aku masih marah pada nya dan juga pada mu yang menculik ku!"
...****************...