My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 40


__ADS_3

"Bermain lah sepuas nya, jangan sampai terluka atau pun terbawa ombak!" Peringat tajam Arlan pada Lilly.


Kaki kedua nya sudah menyentuh pasir basah yang terkena ombak laut itu, namun tangan Arlan tak kunjung melepaskan rangkulan nya pada bahu Lilly.


"Tunggu, sebenarnya kita dimana?" Tanya penasaran Lilly.


"Pulau pribadi milik ku"


"Apa?!" Lilly memekik kaget saat mendengar penuturan yang seperti nya tidak masuk akal itu.


Sekaya apa pria di samping nya sekaligus pria yang berstatus sebagai suami nya ini sampai bisa membeli sebuah pulau dan villa mewah di belakang nya.


"Aku jauh lebih kaya dari pada dugaan mu, honey" Bisik Arlan yang mengerti isi pikiran Lilly.


Lilly menggerakkan tubuh nya hingga rangkulan pria itu terlepas dan berhadapan dengan tubuh kekar yang terbalut kaos putih dan celana pendek itu.


"Sebenarnya kamu itu masih Arlan atau sudah berganti Erlan?" Tanya Lilly dengan nada sedikit kesal.


Ia benar-benar tidak bisa menebak pria di depan nya ini jika berlaku lembut seperti ini. Bahkan saat makan pun pria itu malah melayani nya.


"Jadi kamu lebih suka aku ya kasar, hm?" Jawab nya menarik pinggang Lilly hingga tubuh kedua nya menempel tak berjarak.


Lilly pun tersadar dan seketika menjauhkan tubuh nya. "Iya-iya maafkan aku"


Arlan terkekeh pelan. "Sudah lah sana bermain aku duduk di sana" Ujar nya menunjuk sun lounger dengan dagu nya.


"Aku tidak bertanya" Sahut ketus Lilly yang langsung berjalan cepat meninggalkan Arlan.


Arlan menggeleng pelan memainkan lidah nya di dalam mulut, kaki mya mulai melangkah ke tempat tujuan untuk memantau Lilly sekaligus bersantai.


Tetapi lain hal nya dengan Lilly yang sebatas mata kaki nya sudah terendam air laut itu.


Wanita itu terdiam menatap lelah hamparan laut dengan ombak tenang nya itu, ia mencoba mengingat pulau apa ini?


Namun kapasitas otak nya terlalu kecil hingga hembusan angin laut mampu menenangkan pikiran nya dan mata nya pun terpejam.

__ADS_1


"Persetanan dengan alter ego itu, setidaknya dia tau bahwa aku menyukai pantai!" Batin Lilly. "Aku harus menikmati pantai indah ini sebelum dia membunuh ku" Lanjut nya.


Menoleh ke belakang menatap Arlan yang saat ini tengah menatap nya juga, Lilly pun mengacungkan jari tengah pada pria itu.


"Fu'ck!" Pekik nya yang pasti nya dapat di dengar oleh Arlan.


Tetapi pria itu tidak merespon nya, memilih untuk meminum air kelapa dengan mata yang tak beralih dari tubuh Lilly.


"Ah siall, aku harap dia marah dan menenggelamkan ku di laut ini" Gumam nya kesal.


Tanpa membuang waktu lagi Lilly pun mulai bermain. Ya, bermain layak nya anak kecil yang baru bertemu pasir laut.


Menggali pasir basah itu dengan wajah riang dan membentuk sebuah benteng, bahkan menuliskan sesuatu sampai kata-kata itu terbawa arus ombak.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh itu, mata elang Arlan terus memperhatikan Lilly. Memperhatikan tawa bahagia wanita itu walaupun bermain sendiri.


Memperhatikan lucu nya tingkah wanita berusia lebih dari dua puluh tahun itu yang seakan baru berusia tiga tahun.


Dan memperhatikan lekuk tubuh basah itu karena Lilly yang bermain air.


Setelah nya pria itu langsung bangun dan menghampiri Lilly yang masih belum sadar akan ke datangan nya.


Brk!.


"Upss,, tidak sengaja" Ucap lirih Arlan yang terdengar mengejek saat kaki nya dengan sengaja menginjak istana pasir yang sudah Lilly buat.


"Arlan..!!" Pekik Lilly murka.


Tatapan nya begitu tajam seiring dengan wajah nya yang memerah membuktikan betapa marah nya ia saat ini.


Bayangkan saja, istana pasir yang hampir terbentuk sempurna hasil kerja keras nya harus hancur karena kaki besar bak raksasa itu.


"Baiklah ayo-ayo aku buatkan lagi" Ujar Arlan ya g sudah berjongkok dan bersiap membentuk istana Lilly.


Buk!

__ADS_1


Sebuah bulatan kecil pasir basah itu mengenai dada Arlan, dan tentu itu semua ulah Lilly. Menatap tajam baju nya yang kotor, lalu bergantian menatap Lilly.


"Apa hah! Mau marah?!" Tanya sewot Lilly.


"Kamu benar-benar kurang ajar 'ya?"


"Kenapa? Aku tidak takut!" Sahut nya berani. "Ayo sini lawan aku, biar aku tenggelamkan kamu di laut!" Lanjut nya dengan nada menantang.


Arlan pun terkekeh sinis sebelum akhirnya pria itu dan berniat mencekal tangan Lilly. Tetapi Lilly menghindar begitu cepat dan kembali menimpuk Arlan dengan pasir itu.


"Lilly!" Bentak murka Arlan.


"Apa? Aku tidak takut pada mu!" Sahut nya.


Arlan mengangguk-angguk. "Baiklah kalau begitu aku beri waktu selama lima detik, dan berlari lah sejauh mungkin sebelum aku tenggelamkan di pasir ini"


"Cih, mengancam saja!"


"Satu!"


Tatapan tajam penuh keseriusan itu perlahan membuat keberanian Lilly runtuh, di tambah pria itu terus menghitung.


"Run Lilly, Run!" Pekik nya. "Tiga!"


Perlahan Lilly melangkah mundur, tatapan Arlan begitu menyeramkan. Apa ucapan pria itu benar-benar akan ia lakukan?


"Empat!"


"Astaga siall!" Lilly langsung berlari melawan rasa berat pada kaki nya yang menginjak pasir dan melawan angin laut itu.


"Lima!" Arlan pun langsung mengejar Lilly yang saat ini menoleh ke arah nya.


"Mama,, Papa,, tolong Lilly!!" Teriak nya ketakutan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2