
Pemakaman, tempat yang menjadi saksi bisu atas tangis pilu setiap keluarga yang di tinggalkan. Begitu pun dengan keluarga Lawrence yang setelah kepergian semua kerabat langsung memeluk gundukan tanah basah itu.
Semua yang di upayakan oleh tenaga medis tidak bisa melawan kehendak yang maha kuasa. Kepala keluarga Lawrence telah di jemput oleh nya dan tidur untuk selama nya di bawah gundukan tanah itu.
Semua hadir di pemakaman kecuali Lilly yang sampai saat ini masih kritis di rumah sakit sana. Penjagaan di rumah sakit dan sekitaran makam ini di perketat oleh Adam.
Puluhan awak media berlomba meliput berita ini yang tentu nya menjadi berita besar, ratusan ucapan duka pun telah di dengar nya namun tidak semua ucapan itu tulus.
"Kamu janji kita akan hidup menua bersama, tapi kamu mengingkarinya hikss,, kamu ninggalin aku Pa hikss"
"Lala masih butuh Papa hikss,, kenapa Papa tinggalin Lala hikss"
Kedua perempuan yang menangis tersedu-sedu itu di tarik oleh Moon ke dalam pelukan nya. Tanah yang masih basah itu bercampur dengan air mata mereka.
"Sudah hikss,, Erick tidak akan tenang jika kalian seperti ini" Ujar terisak Moon.
"Erlan janji, Erlan janji akan menjaga Lilly sampai hembusan napas terakhir Erlan, Pa.." Ujar lirih Erlan mengusap batu nisan Erick dengan air mata yang menetes.
Cukup lama kelima nya berada di makam itu, membujuk Aili dan Lala agar mau pulang hingga akhirnya kedua perempuan itu mau.
"Mom, Dad, tolong jagain mereka aku harus kembali ke rumah sakit" Ujar Erlan menatap punggung Aili dan Lala yang di tuntun oleh pelayan di rumah mereka.
"Tanpa kamu minta kamu pasti menjaga mereka, Lan" Jawab Adam.
Erlan tersenyum tipis, "Terima kasih Pa, aku berangkat duluan ya"
"Biar sopir yang mengantar mu ke rumah sakit" Ujar Moon tak ingin putra nya kenapa-napa dalam keadaan kacau seperti ini.
__ADS_1
"Iya Mom"
Tik.. Tik..
Rintik hujan mulai membasahi jalan tetapi untung nya saat ini Erlan sudah sampai di rumah sakit, berjalan menuju lift untuk naik ke lantai sepuluh dimana saat ini Lilly berada di dalam ruangan itu ICU khusus itu.
"Tuan Erlan!" Panggil seseorang membuat langkah Erlan terhenti.
"Dokter..?"
"Syukurlah anda datang lebih cepat" Ujar lega sang dokter yang kini berdiri di hadapan Erlan.
"Ada apa Dok?"
"Nona Lilly sudah sadar setengah jam yang lalu, dan saat ini kembali di pindahkan keruangan HCU"
Dokter tersebut mengangguk yakin, karena memang Lilly sudah sadar setengah jam yang lalu dalam keadaan linglung.
"Seperti yang saya ucapkan, nona Lilly kehilangan seluruh ingatan nya dan amnesia itu benar-benar permanen tidak dapat di pulihkan"
Sejenak mata Erlan terpejam, tangan nya terkepal. tetapi tidak masalah yang terpenting sekarang istrinya telah sadar.
Ia bisa memulai semua nya dari awal bersama Lilly 'bukan?
"Dan untuk berita duka hari ini, saya mohon agar tuan tidak memberitahu nona Lilly terlebih dahulu"
Erlan mengangguk, dengan cepat pria itu berlalu memasuki lift begitu pintu nya terbuka menuju lantai dua puluh sembilan seperti apa yang dokter katakan bahwa Lilly telah kembali keruangan HCU.
__ADS_1
Ceklek~
Erlan membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk, kini mata nya langsung tertuju pada tubuh Lilly yang berbaring di atas ranjang rawat itu.
"Sayang.." Panggil lembut Erlan, mata nya memerah dan kembali berair.
Mendengar suara yang tak asing di telinga nya Lilly pun menoleh, mata nya menangkap sosok pria bertubuh kekar yang di balut kemeja hitam yang mencetak lekuk tubuh nya serta celana bahan berwarna hitam yang menutupi kaki panjang nya.
"Sayang..." Bibir Erlan bergetar, tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Air mata nya pun kembali menetes.
Katakan saja Erlan pria yang cengeng, tapi hanya untuk beberapa saat ini. Semua kejadian selama satu bulan ini benar-benar menyakitkan bagi nya.
"Kamu..?" Gumam bingung Lilly.
Sedetik kemudian tubuh nya langsung di peluk oleh Erlan, di peluk begitu erat dan pria itu membasahi bahu Lilly dengan air mata nya.
"Akhirnya kamu sadar hikss,, terima kasih hikss,, terima kasih sayang" Isak Erlan di atas tubuh Lilly yang masih berbaring itu.
"Suara ini? Isak tangis ini?.." Batin Lilly menyadari suara tak asing itu.
Cukup lama Erlan menangis di atas tubuh Lilly, menumpahkan selaga kesedihan dan rasa sesak di hati nya selama Lilly koma.
Sedangkan Lilly, wanita itu hanya diam mematung. Bingung ingin berbicara atau mengatakan apa sampai akhirnya Erlan mengurai pelukan nya dan menyeka air mata nya sendiri.
"Maafkan aku hikss.." Ujar nya masih terisak.
"Kamu.. Siapa?"
__ADS_1
...****************...