My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 24


__ADS_3

"Baiklah, dua kelompok terakhir telah menjelaskan. Apa sejauh ini kalian mengerti bagaimana cara memecah masalah yang berkaitan dengan manajerial?"


"Mengerti Mr." Sahut kompak para mahasiswa.


Erlan mengangguk pelan, setelah hampir satu bulan tugas ini baru selesai di bahas tetapi kini mata nya tertuju pada Lilly.


"Lily Lawrence" Panggil Erlan.


Lilly mengangkat pandangan nya, menatap Erlan dengan tatapan tak seperti biasa nya. "Saya, Mr." Sahut nya lemas seraya berdiri.


"Bagaimana dengan tugas nomor tiga?"


"Maaf Mr., saya tidak sanggup untuk mengerjakan nya. Lebih baik hukum saja" Pasrah nya membuat para mahasiswa mencelos.


Semudah itu kah Lilly mengucapkan kata Maaf saat ini? Dan.. Ada apa dengan gadis itu? Selama beberapa hari ini Lilly seperti kehilangan jati diri nya.


"Setelah materi selesai, urus pengurangan poin mu di ruangan saya" Ucap tegas Erlan yang kembali menatap buku tebal di meja nya.


Membahas materi baru setelah materi sebelum nya telah terselesaikan. Para mahasiswa itu kembali di pusingkan dengan materi-materi yang Erlan jelaskan.


Padahal penjelasan Erlan termasuk ke dalam penjelasan simpel dan mudah di mengerti, hanya saja otak mereka yang terlalu lambat untuk bekerja terutama Lily Lawrence.


*


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Masuk!"


Lilly membuka pintu ruangan Erlan begitu mendengar perintah dari sang pemilik ruangan. Tak ada raut kesal atau jengkel seperti sebelum nya jika harus memasuki ruangan Erlan.


"Duduk" Titah Erlan yang langsung di turuti oleh Lilly. "Ada apa dengan mu?"


Lilly mengangkat pandangan nya, menatap sekilas Erlan lalu kembali memalingkan wajah nya.


"Tidak ada, Mr." Jawab Lilly sopan.

__ADS_1


Kening Erlan semakin berkerut bingung. Apa benar Lilly sudah berubah dan menjadi mahasiswa pada umum nya?


"Ini kesempatan terakhir saya, bukan?" Tanya Lilly karena sedari tadi Erlan hanya diam.


Erlan hanya menjawab nya dengan deheman, mata pria itu terus menatap gelagat Lilly dengan tatapan penuh intimidasi nya.


"Baiklah terima kasih, saya akan tetap berada di semester ini. Menjadi orang bodoh dan di tertawakan oleh mereka"


Mendengar perkataan Lilly, sontak Erlan bangun dari posisi nya dan mendekati gadis itu. Memutar kursi yang Lilly duduki lalu mengungkung nya di kursi itu.


"Ada apa dengan mu?" Tanya Erlan kedua kali nya dengan nada dan tatapan yang begitu serius.


"Saya tidak apa-apa, Mr."


Erlan berdecih, kenapa ia tidak suka mendengar perkataan formal Lilly yang biasa nya di gunakan para mahasiswa untuk berbicara dengan dosen nya.


Bukan kah seharusnya ia senang karena Lilly bersikap sopan dan sudah berubah sejauh ini?


"Aku akan memberikan kesempatan terakhir pada mu"


Lilly mendongak menatap wajah Erlan yang berada sedikit tinggi dari posisi wajah nya.


"Tugas apa itu?"


Terlihat sorot antusias dan penuh binar dari mata Lilly dan hal itu pun membuat Erlan menahan senyum nya.


Mengecup sekilas bibir Lilly, lalu Erlan kembali menegakkan tubuh nya dan berjalan menuju lemari arsip di ruangan nya.


"Ini" Ucap Erlan seraya menyodorkan guide berisi puluhan lembar kertas. "Pecahkan masalah apa yang terjadi di salah satu cabang perusahaan ku"


Sorot penuh binar dan antusias itu langsung lenyap, punggung nya kembali bersandar pada sandaran kursi itu.


"Bisa berikan yang lain. Kamu tau aku bodoh dalam hal ini" Ujar memelas Lilly.


Melihat ekspresi memelas itu membuat Erlan tak mampu menahan rasa gemas nya. Lantas pria itu mengacak pelan surai Lilly.

__ADS_1


"Masalah ini sudah terselesaikan dan banyak di internet, tetapi yang aku minta kamu harus menjelaskan nya secara rinci"


Lilly menggeleng, mata nya berkaca-kaca. Seperti nya Lilly harus pasrah pada takdir dan akan tinggal di semester ini.


"Aku tidak bisa.."


"Usaha terlebih dahulu, sweety. Baru setelah itu kamu berbicara seperti ini"


"Mau usaha seperti apapun otak aku tidak sampai ke situ. Kapasitas otak ku sangat kecil"


Erlan terkekeh mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Lilly. Tangan nya pun kembali terangkat untuk mengusap pipi Lilly.


"Aku akan membantu mu di rumah"


"Benarkah?!" Pekik antusias Lilly yang langsung mendapat anggukan dari Erlan.


Lilly yang kelewat senang pun kini langsung bangun dan memeluk tubuh Erlan yang sedari tadi berdiri di hadapan nya.


"Terima kasih, terima kasih dosen ku yang sangat baik.!!" Seru bahagia Lilly.


Tangan Erlan menahan dan melingkar di pinggang Lilly membuat gadis itu tersadar akan kelakuan nya.


"Aku suka kamu yang seperti ini, dari pada pendiam dan pembangkang" Bisik Erlan tepat di depan bibir Lilly.


Lilly berdehem pelan, mulai bergerak mencoba melepaskan tangan Erlan pada pinggang nya. Namun nyata nya Erlan semakin menahan pinggang nya hingga tubuh kedua nya saling menempel.


"Jujur pada ku, malam itu kamu menangis 'kan?"


Mendengar pertanyaan yang kembali Erlan lontarkan Lilly langsung terdiam. Memang malam itu ia menangis hingga tertidur di lantai kamar itu.


Lalu dimana Erlan? Pria itu pergi setelah perdebatan kecil dengan sang Mommy dan kembali tepat pukul tiga pagi dimana ia mendapati tubuh Lilly di lantai dingin itu.


"Kamu masih memikirkan perkataan Mommy?"


Lilly masih bungkam dan hendak menundukkan kepala nya, tetapi dengan cepat sebelah tangan Erlan menahan dan mengusap pipi berisi itu.

__ADS_1


"Kamu benar-benar akan meninggalkan ku?" Tanya Erlan lagi dan lagi.


...****************...


__ADS_2