My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 58


__ADS_3

Plak! Bugh! Dugh!.


Suara gaduh itu berhasil mengisi hening nya rumah besar milik keluarga Lawrance, dimana dari kamar hingga ruang tengah Erick terus mendapat pukulan dan timpukan dari sang istri Aili.


"Aaaa,, ampun Ma, ampun. Maafkan Papa!!" Teriak Erick mencoba menghindari timpukan sang istri.


"Bagaimana bisa Papa melakukan itu hanya dengan lima persen saham perusahaan Erlan dan sebuah mobil!" Ucap murka Aili.


"Ya-ya mau bagaimana lagi, Papa kasihan pada Erlan, Ma" Jawab terengah Erick.


Sungguh ia sangat lelah menghindari amukan Aili saat ini. Terlebih lagi setelah wanita itu tau bahwa selama dua hari ini Lilly di tukar dengan lima persen saham perusahaan Erlan.


"Lima persen saham itu juga Papa atas namakan dengan nama Lilly kok dan mobil itu untuk koleksi Papa"


Aili bingung harus mengatakan apalagi pada suami nya ini? Napas wanita itu memburu dan dengan kasar ia menghempaskan tubuh nya di sofa.


"Lalu bagaimana jika rencana kita gagal?!"


"Tidak, Papa pastikan rencana kita tidak akan gagal"


Aili diam mengatur napas nya, sedangkan Erick yang merasa bahwa istri nya mulai tenang pun perlahan mendekat.


"Mama tenang saja-- Aww!!" Ucapan Erick berganti dengan pekikan kala sebuah bantal melayang di wajah nya.


Bugh!


"Tenang mata mu?!" Sentak geram Aili.


Erick yang tak lagi melihat ada barang di sekitar tubuh istri nya lantas pria itu langsung duduk dan mendekap tubuh sang istri.


"Habis mau bagaimana lagi Ma? Papa benar-benar kasihan pada Erlan. Dia sendirian di rumah nya tidak ada pelayan atau penjaga terlebih lagi saat ini dia sedang sakit"


"Dia masih punya keluarga nya, kenapa Papa tidak telepon saja Adam dan jemput Lilly?!"


"Ya,, Kapan lagi Papa memeras menantu kita kalau bukan dalam keadaan seperti ini"

__ADS_1


"Lima persen di bilang memeras? Kenapa tidak sekalian setengah dari saham nya saja hah?!" Geram Aili.


Mendengar itu Erick langsung menepuk kening nya. "Astaga benar juga, kenapa harus lima persen saja?!"


*


*


Erlan tertawa puas setelah mendengar penjelasan orang suruhan nya di telepon terkait surat panggilan sidang dari pengadilan agama, kemarin.


Ia sudah menduga nya bahwa surat itu palsu dan ternyata benar saja seseorang yang memeriksa nya mengatakan bahkan stempel tersebut hanya jiplakan dan sidang perceraian tersebut tidak terdaftar di pengadilan agama.


"Baiklah, aku ikuti saja permainan kalian maka kita lihat sampai mana Lilly bertahan" Ujar nya penuh kemenangan.


Sejak awal mereka membicarakan soal perceraian nya saat itu, Erlan sudah menaruh curiga kepada orang tua nya dan juga kedua mertua nya.


Hingga pada saat dua orang berpakaian dinas itu datang dan menjelaskan sesuatu membuat Erlan semakin curiga akan kebenaran yang sebenarnya.


Ceklek~


Pintu kamar Erlan di buka oleh Lilly, dengan cepat pria itu menetralkan ekspresi nya dan menyembunyikan handphone cadangan nya.


"Hm, terima kasih dan setelah aku pikir-pikir lebih baik kamu pulang saja" Jawab Erlan di luar prediksi.


Alis Lilly terangkat bingung, bukan kah sebelum pria itu sangat senang dengan kehadiran nya?.


"Kita sedang dalam proses perceraian, tidak baik jika terus bersama 'bukan?"


Lilly terdiam sesaat sampai akhirnya wanita itu mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi nya. "Bagus lah jika kamu sadar dan segera tanda tangani surat itu" Ucap nya dengan tangan terkepal.


Baru saja Lilly berbalik tiba-tiba Erlan kembali bersuara.


"Sudah aku tanda tangani dan sudah aku kembalikan juga pada pihak pengadilan agar cepat di proses"


Kepalan tangan Lilly semakin kuat, wajah nya memerah menahan rasa sesak yang menghantam hati nya.

__ADS_1


"Sebentar lagi Liam akan datang, dia yang akan mengantar mu pulang dan terima kasih sudah mengurus ku"


Tanpa mengatakan apapun lagi Lilly langsung melangkah meninggalkan kamar itu, membanting pintu begitu kasar meluapkan amarah dan rasa kecewa nya.


Sedangkan Erlan yang melihat dengan jelas kekecewaan Lilly karena ia mengusir nya hanya bisa menghela napas.


"Oke, mulai sekarang kamu harus bisa menahan nya Erlan!" Ucap nya pada diri sendiri.


*


*


Lilly memasuki rumah besar nya dengan mood yang berantakan, bahkan tidak menghiraukan seseorang yang tengah duduk di ruang tengah itu hingga suara nya menghentikan langkah Lilly.


"Lilly..?" Panggil Aili dengan nada bingung.


Lilly menoleh menatap sang Mama.


"Kok kamu sudah pulang?" Tanya Aili yang sedetik kemudian menutup mulut nya.


"Apa surat perceraian itu sudah Mama ambil di kamar ku?" Tanya Lilly yang langsung mendapat gelengan dari Aili.


Tak berkata apapun lagi Lilly pun langsung menginjak setiap anak tangga menuju kamar nya.


"Lho bukan Lilly di rumah Erlan selama dua hari ya? Kok pulang? Terus kenapa nanyain surat itu?" Gumam Aili bertanya-tanya.


Tak ingin pusing sendirian, Aili pun langsung menelpon sang suami yang sedang bekerja dan menceritakan kronologi yang baru saja terjadi.


Sedangkan di dalam kamar nya, Lilly mengobrak-abrik meja belajar nya mencari amplop coklat berlogo pengadilan agama yang akhirnya ia temukan di sela-sela buku nya.


"Aku memang sudah menandatangani nya, tapi aku masih ragu untuk mengembalikan nya ke pengadilan. Sedangkan kamu? Kamu dengan mudah nya mengembalikan surat ini ke pengadilan?!"


Napas Lilly memburu mengingat betapa ragu nya ia untuk menyerahkan surat tersebut bahkan sempat merasa frustasi karena telah mendatangani surat perceraian itu.


"Sebelum nya kamu menolak untuk berpisah dengan ku 'bukan? Lalu kenapa sekarang kamu lebih bersemangat?!" Hardik nya marah menatap amplop coklat itu.

__ADS_1


"Dan sebelum nya bahkan hingga semalam kamu ingin terus bersama ku 'bukan? Lalu kenapa kamu seperti ini Erlan!"


...****************...


__ADS_2