
Setelah berperang dengan pikiran nya dan memeriksa berulang kali hasil pemeriksaan Lilly di hari ini, tepat minggu ke tiga Lilly tersadar dari koma nya.
Pada akhirnya Erlan pun mengizinkan Lilly untuk keluar dari rumah sakit walaupun di minggu lalu sebenarnya dokter sudah memberi izin jika Lilly ingin pulang.
Lilly menghirup dalam udara di sekitar nya saat kaki nya baru saja melangkah keluar dari gedung rumah sakit itu.
"Akhir nya aku bisa menghirup udara segar" Gumam bahagia Lilly.
"Memang sebelum nya kamu menghirup udara bau gitu?" Celetuk sinis Erlan.
Lilly menghentikan kebahagiaan nya dan beralih menatap wajah Erlan yang terlihat kesal. "Kenapa sih?" Tanya nya gemas.
"Ga tau!" Jawab nya ketus.
Saat ini kedua nya tengah menunggu orang tua mereka yang masih berjalan di belakang nya, terlalu lama mengobrol dengan sang dokter membuat Erlan menarik Lilly keluar lebih dulu.
"Suami aku kenapa hum?" Tanya Lilly semakin menggoda, bahkan wanita itu mencubit-cubit gemas pipi Erlan.
"Ga tau!" Sahut Erlan semakin ketus.
"Astaga masih merajuk kah pria tua ini?" Ujar tiba-tiba Adam dengan mata yang tertuju pada putra nya.
"Daddy!" Tegur tidak terima Erlan.
"Hum, Erlan masih merajuk Dad. Lihat saja pipi nya menggembung seperti bakpao" Jawab Lilly meledek Erlan.
Sedangkan Erlan yang mendapat ledekan itu membuang pandangan nya dan segera berjalan lebih dulu ke arah parkiran.
"Hei pria tua, ingat umur mu!" Ledek Adam dengan suara yang cukup keras.
"Berkaca lah Dad!" Sahut Erlan tak kalah keras.
Sontak gelak tawa langsung mengisi halaman tersebut, begitu pun dengan Lilly yang ikut mentertawakan tingkah suami nya.
"Padahal Lilly hanya berpamitan pada dokter dan perawat yang menjaga nya, tetapi pria itu malah merajuk hahaha" Ujar Adam.
Memang benar apa yang di katakan Adam, Lilly berpamitan pada dokter dan perawat yang menjaga nya selama koma dan selama beberapa minggu ini.
Tetapi Erlan merajuk pada nya, lebih tepat nya saat Lilly berpamitan pada dokter penanggung jawab nya dan beberapa perawat pria.
__ADS_1
"Suka sekali meledek anak mu, padahal kamu sendiri sama" Celetuk Moon membuat tawa bahagia Adam terhenti seketika.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohon nya" Ujar Aili seraya terkekeh.
Lilly yang melihat itu hanya menggelengkan kepala nya, tidak ada yang mengerikan di sini dan keluarga nya sangat menyayangi nya.
Memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang membuat Erlan yang sudah siap mengemudi menatap Lilly lewat spion dengan kesal.
"Ngapain di situ? Memang nya aku supir!" Celetuk nya.
"Lho kamu kok di depan, kita ga pakai sopir?" Tanya kaget Lilly.
"Oh jadi kamu ngira nya aku sopir? Iya?"
"Astaga nggak Erlan, aku--"
"Pindah ke samping aku" Potong ketus Erlan.
Tanpa keluar terlebih dahulu, Lilly langsung berpindah ke depan hingga kepala nya terantuk dashboard.
"Aww.." Ringis Lilly mengusap kepala bagian belakang nya.
Sedangkan Lilly, wanita itu terdiam kaget mendengan pekikan dan perlakuan Erlan.
"Untuk ga ada yang berdarah huh!" Hela lega Erlan.
Lilly menolehkan kepala nya hingga menatap Erlan dari posisi nya. "Berdarah? Memang nya aku terbentur ujung pisau atau--Ehh.."
Ucapan Lilly terhenti begitu dengan tiba-tiba Erlan melepaskan kepala nya hingga posisi Lilly kini terduduk sempurna di tempat nya.
"Aku masih marah, ga usah ngajak ngomong!" Celetuk nya seraya memasang seatbelt di tubuh Lilly lalu setelah nya ia memakai untuk diri nya sendiri.
Sesaat Lilly mengigit bibir nya menahan tawa, astaga Erlan benar-benar menggemaskan jika sedang terbakar api cemburu seperti ini.
Padahal tidak tau saja Lilly bahwa sebelum nya jika Erlan benar-benar terbakar api cemburu maka pria itu akan menghabiskan tenaga nya di atas ranjang.
*
*
__ADS_1
"Apa lebih baik Mama tinggal bersama kita di sini?" Tawar Erlan yang saat ini tengah duduk berkumpul di ruang tengah rumah besar nya.
"Tidak Lan, Mama lebih nyaman tinggal di rumah sendiri lagi pula Mama kan masih punya Lala" Jawab nya. "Lalu saat Lala masih di sekolah Mama berada di butik, jadi kamu jangan terus mengkhawatirkan Mama"
Erlan menghala napas lalu mengangguk. "Baiklah"
Erlan menyerah menawarkan mertua nya untuk tinggal bersama nya setelah beberapa waktu ini, wanita itu sama keras kepala nya dengan Lilly.
"Em,, Ma..?"
Aili beralih menatap putri nya yang sedari tadi duduk diam di samping Erlan. "Kenapa sayang?"
"Kata Mama aku jago memasak 'bukan?" Tanya Lilly ingin menagih janji sang Mama beberapa waktu lalu.
"Ben--" Belum sempat Aili melanjutkan perkataan nya tiba-tiba saja Erlan memotong.
"Jangan aneh-aneh, lebih baik sekarang masuk kamar dan istirahat!"
"Ishh kamu kenapa sih?" Kesal Lilly memandang Erlan dengan bibir yang cemberut. "Dari tadi sensi mulu bawaan nya"
Erlan tak menjawab, pria itu beralih meminum kopi nya. Sedangkan para orang tua ikut diam menyaksikan drama secara langsung itu.
"Iya deh iya, maafin aku" Pasrah mengalah Lilly. "Aku cuma mau pamitan sekaligus berterima kasih pada mereka"
"Ya nggak sampai mau peluk tuh dokter juga kali!" Sahut ketus Erlan.
Benar, Lilly kelepasan dan hendak memeluk dokter pria itu setelah memeluk beberapa perawat yang sangat baik pada nya.
Namun dengan sigap Erlan menarik nya dan berakhir sensi seperti wanita sedang kedatangan tamu bulanan.
"Iya suami ku, iya aku salah" Ujar lembut Lilly, begitu lembut hingga menggelitik telinga para pendengar.
"Astaga lebih baik sekarang kita masak" Ajak Aili seraya menarik Moon.
"Aku ikut!" Timpal Adam mengikuti langkah dua wanita itu, meninggalkan sepasang pasutri yang tengah membuat skenario cinta.
Lilly terkekeh malu, tetapi yang terpenting sekarang adalah membujuk suami nya yang super-super tampan saat tengah merajuk seperti ini.
"Jangan marah-marah terus, aku udah sembuh lho" Bisik Lilly penuh makna.
__ADS_1
...****************...