My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 59


__ADS_3

"Dua hari lagi ujian selesai, bagaimana kita liburan ke pulau jeju selama libur semester ini?" Usul Brita yang langsung di angguki oleh Alena dan Elena.


"Boleh juga tuh, kebetulan libur semester ini keluarga kita tidak ada jadwal liburan bersama 'kan Al?" Sahut Elena bertanya pada kembaran nya.


"Hm tidak ada, mereka sedang sibuk jadi tidak mungkin ada waktu" Jawab Alena.


"Oke, aku sama Alena pasti mau!" Ujar semangat Elena.


"Kamu Ly?" Tanya Brita pada sang sahabat yang sedari tadi hanya diam seraya menyeruput jus nya hingga tak tersisa lagi.


"Tiga hari lagi aku ada jadwal sidang perceraian" Jawab singkat Lilly yang berhasil membuat wajah antusias ketiga sahabat nya pudar.


"Ya udah gapapa, kita berangkat dua hari setelah kamu sidang. Hitung-hitung refreshing otak dan tubuh dari semua hal ini"


Lilly menoleh dan tersenyum tipis pada Alena yang saat ini merangkul bahu nya. "Baiklah" Putus nya.


Ketiga wanita di samping dan di hadapan Lilly pun seketika memekik senang mendengar jawaban dari Lilly.


Pasal nya beberapa hari belakangan ini wanita itu terlihat murung lebih tepatnya setelah Lilly memberitahu bahwa diri nya dan Erlan akan berpisah.


Usai memperhatikan raut bahagia para sahabat nya Lilly pun kembali mengalihkan tatapan nya pada gelas jus yang sudah kosong itu.


"Ya, memang lebih baik seperti ini agar aku bisa melupakan nya walaupun hanya sesaat"


*


*


"Ih kakak, ini jawaban aku sudah benar lho!!"


Lilly menghentikan langkah nya saat mendengar rengekkan kesal seorang remaja perempuan pada pria dewasa di samping nya.


Lagi, ketika memasuki rumah nya lagi-lagi Lilly di suguhkan pemandangan seperti ini di ruang tengah yang luas itu.


"Ini salah Lala, sudah kak Erlan bilang cara mengerjakan nya menggunakan perbandingan dan aritmetika sosial"

__ADS_1


Lala mengerucutkan bibir nya kesal di iringi helaan napas nya. "Aku sudah menggunakan rumus itu lho.."


"Rumus apa? Persamaan dan ketidaksamaan linear?" Goda Erlan gemas.


Sudah berkali-kali ia menjelaskan, tetapi gadis remaja di samping nya ini terus saja salah menggunakan rumus materi yang sedang ia ajari.


Lala menghapus kasar jawaban nya yang lagi-lagi salah dengan ekspresi yang masih sama. "Lagian siapa sih yang bikin soal kayak gini? Ngasih contoh mah yang gampang-gampang, giliran soal malah di kasih yang ga ada jawaban nya!" Gerutu nya.


Melihat dan mendengar itu Erlan di buat tertawa gemas dan mencubit pipi gadis itu. "Semua soal pasti ada jawaban nya, cantik..!" Sahut nya gemas


"Aaaa sakit kak Erlan--"


"Ekhemm"


Kedua manusia itu menoleh serempak ke arah suara, dan terlihat lah sosok Lilly dengan wajah tanpa ekspresi serta kedua tangan yang di lipat di bawah dada.


"Eh, kak Lilly sudah pulang?" Tanya Lala basa-basi, namun berbeda dengan Erlan yang kembali membolak-balikkan buku milik Lala.


"Menurut mu?" Sahut sinis Lilly setelah nya wanita itu langsung meninggalkan ruangan itu menuju kamar nya dengan perasaan kesal.


"Mungkin dia sedang halangan" Sahut ngasal Erlan.


"Ah iya benar juga, kak Lilly memang sering marah-marah dan bersikap tidak jelas jika sedang datang bulan. Tapi kasihan juga setiap malam nya kak Lilly selalu merasakan nyeri"


Sesaat Erlan menoleh menatap ke arah tangga dimana saat ini Lilly tengah menaiki satu persatu anak tangga dengan hentakan kaki yang cukup kuat.


"Memang benar, setiap malam saat dia sedang datang bulan. Pasti dia selalu merengek merasakan nyeri" Batin Erlan yang tanpa sadar tangan nya mematahkan pensil milik Lala di tangan nya.


Krek..


"Astaga kak, pensil limited edition Lala!!" Pekik nya shock.


Erlan yang tersadar pun lantas menatap pensil bermerk HB Black Esprit itu yang sudah terbelah dua pun ikut menganga kaget.


"Astaga maaf La, maaf kakak tidak sengaja" Panik nya saat melihat Lala merebut pensil itu dan memeluk nya di iringi isak tangis penuh dramatis itu.

__ADS_1


"Hikss.. Pensil kesayangan Lala hikss hikss.."


"Aduh maaf La, nanti kak Erlan ganti deh" Ujar nya masih dengan nada panik.


"Yang banyak!" Jawab Lala cepat penuh semangat.


"Iy--"


"Cih caper!" Teriak Lilly di ujung anak tangga terakhir sana.


Brak!.


Suara pintu kamar yang di tutup begitu kuat itu dan tentu nya karena ulah Lilly yang membuat dua orang itu mematung kaget.


"Astaga anak itu.."


Erlan melirik Aili yang baru saja datang membawa nampan berisi cemilan, namun berbeda dengan Lala yang kembali melanjutkan drama nya.


"Huaa Mama, Kak Erlan mematahkan pensil limited edition Lala hikss.."


"Udah dong Lala, nanti kak Erlan ganti yang banyak kalau perlu seluruh stok nya kak Erlan beli buat kamu"


"Oke deal!"


"Astaga Lala.." Gemas Aili saat melihat keantusiasan putri bungsu nya yang berhasil menipu Erlan dengan drama membosankan nya itu.


"Deal ya kak!" Lala mengulurkan tangan kanan nya meminta untuk berjabat tangan.


Sedangkan Erlan hanya bisa menggeleng pelan seraya terkekeh dan menjabat tangan Lala. "Deal!"


*


"Apa-apaan mereka berdua hah?!" Hardik jengkel Lilly melemparkan tas nya ke kasur. "Cubit-cubitan, ketawa, merengek. Cih!"


"Apa setelah bercerai kamu mau turun ranjang pada adik ku hah?!" Lanjut nya menekan-nekan wajah Erlan pada bingkai foto pernikahan mereka. "Sampai mati pun aku tidak akan merestui kalian!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2