
Lilly memundurkan langkah nya kala Erlan berjalan mendekati nya dengan tatapan menusuk itu.
Pria itu juga terus diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun membuat Lilly semakin merasakan hawa mencengkram yang sedari tadi ia rasakan.
"Aku bikin salah lagi? Tapi apa?" Batin bertanya-tanya Lilly.
Merasa posisi nya semakin terancam karena punggung nya sudah membentur tembok lantas Lilly pun berniat untuk kabur.
Tetapi niat nya pupus begitu Erlan mengungkung tubuh nya bahkan menahan kedua tangan nya di atas kepala.
"Erlan--"
"Kalian masih berhubungan?" Potong Erlan bertanya dengan nada dingin.
Lilly terdiam bingung, alis nya bertaut dengan ekspresi yang menunjukkan kegelisahan karena perilaku Erlan saat ini.
"Kalian masih berhubungan?" Ulang Erlan menaikkan nada bicara nya.
Lilly tersentak kaget, kini gadis itu mengerti apa maksud perkataan Erlan dan Lilly mengerti bahwa mungkin tadi Erlan melihat nya saat menarik Nico.
"Jawab Lilly!" Bentak Erlan semakin menunjukkan kemarahan nya.
"Kalau iya kenapa hah?!" Sahut cepat Lilly tak kalah kuat. "Bukan kah sebelum nya kamu tidak masalah? Lalu kenapa sekarang marah?!"
Erlan menggeram, mulut nya terus mengeluarkan umpatan marah nya sampai akhirnya pria itu melepaskan cekalan tangan nya dan menjauhi tubuh Lilly.
"Kerjakan sekarang!"
Setelah mengatakan itu, Erlan kembali duduk di kasur dengan mata yang tak lepas menatap Lilly yang masih termenung di tempat nya.
Deru napas berat pria itu mengisi hening nya kamar tersebut selama beberapa saat hingga akhirnya Lilly melanjutkan niat nya untuk membuka jendela.
"Dasar tidak jelas!" Gerutu pelan Lilly seraya kembali ke meja belajar nya.
__ADS_1
Lilly mulai mencari berita yang ada di materi nya saat ini. Dan benar saja, ternyata banyak media yang memberitakan tentang masalah yang terjadi di perusahaan cabang milik Erlan suami kaya-Nya.
Namun tidak ada satu pun yang menjelaskan secara rinci masalah apa yang terjadi yang ternyata hanya ada di file yang Erlan berikan.
"Siall, bagaimana aku mengerjakan nya? Sedangkan aku saja tidak mengerti materi yang di jelaskan pria pemarah itu!" Batin Lilly yang lagi-lagi memaki.
Entah memaki diri nya yang terlalu bodoh atau memaki tugas nya yang terlalu memusingkan. Tetapi yang pasti Lilly terus membolak-balikkan kerta itu.
Mencoba mencari kata-kata yang sekira nya bisa ia jadikan jawaban. Namun nihil, rentetan huruf-huruf itu membuat kepala Lilly menjadi pusing.
Dengan penuh keterpaksaan kepala Lilly menoleh ke arah Erlan yang ternyata terus menatap nya. Menelan susah payah salivanya, pada akhirnya Lilly mengeluarkan suara nya.
"Ta-tadi kata nya mau bantu aku" Ujar terbata Lilly.
"Apa yang aku dapatkan jika membantu mu?" Tanya Erlan yang seakan meminta balas budi.
Padahal sebelum nya pria itu bilang akan membantu nya, tidak ada kata-kata seperti yang baru saja di ucapkan oleh Erlan.
"Kok gitu, tadi kamu bilang akan membantu aku" Tegur Lilly yang mulai kesal.
"Bermesraan bersama pria itu bisa, tetapi memecahkan masalah seperti ini saja tidak bisa!"
Lilly bangun dari posisi nya, sungguh ia tidak terima Erlan berkata seperti ini. Bukan kah pria itu tau bahwa Lilly memang bodoh dalam pelajaran!
"Kenapa? Ga senang di bilang begitu?" Tanya sinis Erlan. "Kalau ga senang sana minta bantuan sama pria itu!"
"Oke!" Sahut singkat Lilly.
Lantas gadis itu membereskan buku-buku nya dan memasukkan ke dalam tas, tak lupa laptop nya pun ia masukkan.
Melihat hal itu kepalan di tangan Erlan semakin menguat, bisa-bisa nya Lilly mengiyakan begitu saja tanpa membujuk nya dengan sikap manis seperti sebelum nya.
"Ini semua kamu yang suruh 'ya!" Ucap Lilly seraya meyampirkan tali tas nya di bahu.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Lilly berjalan, tetapi tubuh nya terhentak dan melayang begitu saja. Lalu tanpa aba-aba tubuh nya pun di jatuhkan ke atas kasur empuk itu.
"Aaww.." Ringis kaget Lilly. "Kamu apa-apaan sih!" Teriak nya marah.
Erlan benar-benar tidak jelas, bukan kah dia yang menyuruh Lilly untuk meminta bantuan pada Nico? Lalu kenapa sekarang bersikap seperti ini?
Srek! Srekk!
Erlan menyobek kaos yang Lilly pakai begitu saja hingga tak berbentuk. Jangan tanyakan kemana lari nya tas berisi buku dan laptop itu. Yang pasti saat ini sudah berada di lantai sana bersama dengan sobekan kaos kebesaran Lilly.
"Erlan!!.." Teriak kaget dan takut Lilly yang langsung menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.
Tidak mengatakan apapun, Erlan terus bungkam tetapi tidak dengan gerakan tubuh nya. Pria itu mulai menyerang Lilly.
Tangan nya kembali merobek penutup gunung kembar milik Lilly hingga terekspos begitu saja. Bahkan dengan tidak segan-segan Erlan pun mer*mas nya begitu kuat.
"AARRGGHH..!!!"
"Mulai sekarang aku tidak mau berbagi atau pun terbagi" Ujar Erlan tanpa ekspresi nya.
Sedetik kemudian pria itu langsung menyerang leher jenjang Lilly, menghantam nya dengan gigitan dan his*pan kuat nya hingga meninggalkan tanda merah.
"Erlan! Lepas!!" Ronta Lilly menjambak rambut Erlan.
Erlan yang kesal kegiatan nya di ganggu pun lantas langsung mencekal kedua tangan Lilly di atas kepala nya dan memberikan tatapan maut nya.
Srekk!!
Dengan satu tangan nya Erlan merobek hotpant yang Lilly pakai di balik baju kebesaran nya. Tak hanya luaran bahkan dalaman nya saja di robek sampai-sampai tubuh itu sudah toples.
"Erlan!!.." Teriak panik Lilly.
"Berteriak lah hingga suara mu habis, kamar ku kedap suara. Sweety"
__ADS_1
...****************...