My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 78.


__ADS_3

Suara erangan rendah keluar dari mulut Lilly, membuat hasrat Erlan yang selama beberapa bulan ini ia tahan semakin menjadi.


Tak sabar, Erlan pun mendorong tubuh Lilly ke atas kasur berukuran besar di belakang wanita itu lalu menindih nya.


"Ah perlahan, please.." Lilly merengek dan rengekan itu terdengar begitu se*xy bagi Erlan.


Tangan Erlan yang tidak sabaran membuka piyama yang di pakai oleh Lilly bahkan nyaris merobek nya jika saja Lilly tidak menahan nya.


"Perlahan, ini semua milik kamu.." Ujar lembut Lilly bermaksud meredakan hasrat sang suami, tetapi suara itu malah semakin membuat keinginan nya semakin menjadi-jadi.


Tanpa berlama-lama Erlan menaikkan kacamata penutup gunung tak berpohon itu, sesaat pria itu tertegun melihat sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia lihat.


"Ah..!" Lilly memekik dan menjambak pelan rambut Erlan kala pria itu langsung meng*lum puncak nya.


Tidak ada suara atau obrolan lagi, yang terdengar hanya erangan dan suara decapan ribut dari bibir Erlan hingga terus turun ke perut rata itu.


Setengah memaksa, Erlan menurunkan celana dari piyama yang sebelum nya sudah terlepas itu bersama dengan dal*man nya.


Mata Erlan menggelap kala melihat tempat yang menjadi rumah favorit untuk sang adik bersinggah dan menyebarkan benih-benih nya.


Erlan pun kembali merendahkan tubuh nya dan menenggelamkan wajah nya pada ceruk leher Lilly, menghirup dalam aroma favorit nya.


"Sudah siap, sweety?.." Tanya berat Erlan mengecupi perpotongan leher Lilly.


"Perlahan, ini terasa seperti pertama kali nya bagi ku" Jawab jujur Lilly yang merasakan rasa asing ini.


Erlan terkekeh pelan kemudian mengangkat kepala nya hingga berada tepat di depan wajah Lilly. "Kali ini aku pastikan akan membuat mu kenyang selama sembilan bulan"


Mata Lilly melotot mendengar penuturan itu. Belum sempat bersuara Erlan kembali menyerang bibit nya dan dapat Lilly rasakan sesuatu di bawah sana sedang mencoba menerobos masuk.


"Emmhh..!!" Pekik tertahan Lilly merasa ngilu dan nyeri. Tangan nya memukul-mukul bahu Erlan.

__ADS_1


"Tidak-tidak, ini--"


"Ini bukan pertama kali nya sayang, hanya sedikit nyeri dan setelah itu kamu akan merasakan surga dunia.." Bisik Erlan menenangkan Lilly.


Sepertinya wanita itu mulai gentar dan berniat menghentikan semua ini. Tentu nya Erlan tidak akan menurut dan pria itu pun terus mengeluarkan rayuan penuh pancingan itu.


*


"Ah, Erlanhh..!!" Tubuh Lilly bergetar hebat bersamaan dengan kepala nya yang mendongak kala merasakan gelombang dahsyat menghampiri nya.


"Tu-tunggu ahhk..!!"


Erlan tidak menghiraukan ucapan Lilly yang meminta nya berhenti, sungguh ia tidak bisa menahan diri nya dan sebentar lagi gelombang dahsyat itu juga akan menghampiri diri nya.


Lilly yang masih sensitif lalu mendapatkan gerakan tak beraturan dan begitu cepat itu membuat gelombang besar seperti sebelum nya akan kembali keluar.


Erlan yang merasakan itu lantas menggenggam kedua tangan Lilly dan menyatukan kening nya.


Pria itu semakin memacu gerakan nya membuat Lilly meraung menambah paduan suara di dalam kamar terang itu.


"Bersama!" Erang Erlan dalam tiga tusukan terakhir pria itu menebarkan calon anak-anak nya melalui sang adik yang berada di dalam rumah nya.


Napas kedua nya sama-sama memburu, setelah mengejar sesuatu yang kini menghangatkan rahim Lilly.


"Sudah.." Ucap lemas Lilly saat merasakan Erlan kembali bergerak pelan.


"Lagi, sayang.." Sahut Erlan yang langsung membalik tubuh Lilly hingga telungkup.


...----------------...


Lilly menggeliat saat merasakan ucapan pada pipi nya. Kelopak mata nya perlahan terbuka, mencoba menyesuaikan cahaya di sekitar.

__ADS_1


"Good afternoon, my wife.." Sapa Erlan tersenyum begitu manis saat melihat netra coklat istri nya yang terkena sinar matahari menatap nya.


Lilly tersenyum tipis dan mengecup rahang Erlan sekilas. "Good after--what?!!" Sapaan nya berganti dengan pekikan kaget saat menyadari kata-kata sapaan tersebut.


"Kenapa honey?" Tanya bingung Erlan.


"Jam berapa ini? Kok afternoon? Harusnya kan morning!"


Mendengar itu Erlan terkekeh lucu. Sapaan seperti ini saja di permasalahkan.


"Ini sudah jam dua siang, istri ku" Jawab Erlan pada akhirnya.


Mata Lilly langsung melotot lebar.


"Santai saja, lagi pula semalam kita bermain sampai pukul empat pagi jadi wajar saja kalau kamu bangun jam segini" Lanjut Erlan mengingatkan.


"Astaga.." Lilly mengusap wajah nya, baru teringat akan kejadian selaman menjelang pagi itu. Tubuh nya pun baru terasa nyeri dan pegal-pegal nya.


"Ayo mandi, setelah itu kita makan"


"Kamu juga belum makan?" Tanya Lilly seraya memperhatikan gerakan Erlan yang saat ini tengah mengangkat tubuh nya.


"Belum dong, aku 'kan suami setia jadi makan nya nunggu istri"


Plak!


Lilly menampar gemas lengan Erlan. "Setia sih boleh, tapi gimana nanti kalau kamu sakit huh?!"


"Gapapa 'kan ada istri ku yang baik dan perhatian ini" Sahut Erlan semakin menggoda.


Lilly berdecih sebal, tetapi berbeda dengan pipi nya yang sudah menampilkan guratan memerah nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2