My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 43


__ADS_3

Helaan napas penuh penyesalan terus terdengar di telinga Lilly, tentu nya helaan itu berasa dari pria di sebelah nya yang tengah bersimpuh di samping kasur.


"Duduk yang benar, aku tidak menyuruh mu bersimpuh di situ" Ucap ketus Lilly.


Erlan menggeleng pelan, rasa bersalah dan penuh penyesalan dalam diri nya begitu besar. Terlebih lagi saat melihat lebam di tubuh Lilly.


"Setidaknya hentikan helaan napas menyebalkan itu!"


Di menit itu juga helaan napas berat Erlan tak lagi terdengar bahkan napas pria itu pun tak terdengar selama beberapa saat.


Yang Lilly tangkap dengan mata nya adalah wajah Erlan yang sedang menahan napas nya.


"Bodoh, bernapas lah!" Desis nya kesal.


Erlan mendongak dan kembali menghela napas nya begitu kasar.


"Oke baiklah, tapi ada satu syarat!" Putus pasrah Lilly.


Wajah murung itu seketika berubah menjadi ceria dan antusias. "Syarat apa, sweety?"


Lilly memutar bola mata jengah sebelum akhirnya menjawab. "Kamu harus terapi rutin untuk menekan gangguan DID itu!"


Erlan terdiam. Terapi? Bisa kah ia menjalankan hal yang rasa nya sangat menyiksa batin nya itu?.


"Kenapa? Ga mau?" Tanya sinis Lilly seakan melihat penolakan di wajah Erlan. "Ya udah gampang, kalau kamu ga mau kita--"


"Aku mau, tapi temani aku setiap terapi. Bagaimana?"


"Kenapa harus aku temani? Kamu bukan anak kecil lagi dan bisa mengurus semua nya sendiri"


"Sakit sayang, terapi itu menyiksa batin ku dan entah kenapa rasa nya aku baru saja memukuli diri ku sendiri" Jujur Erlan pada akhir nya.


Lilly terdiam tak mampu berkata-kata karena ia tidak tau bagaimana rasa nya. Tetapi saat melihat ekspresi Erlan, hal itu seperti nya benar-benar menyakitkan.

__ADS_1


"Haishh, baiklah-baiklah"


Erlan berdiri dan langsung menubruk tubuh Lilly dengan pelukan nya hingga tubuh yang tak kuat itu terhuyung dan terbaring di bawah tubuh kekar Erlan.


"Terima kasih sayang, terima kasih sweety" Gumam bahagia Erlan.


"Astaga aku tidak bisa bernapas!" Erang kesal Lilly menepuk-nepuk punggung Erlan.


Erlan pun berguling ke samping tetapi tidak melepaskan pelukan nya pada tubuh Lilly.


"Jangan senang dulu, lebih baik pikirkan bagaimana dengan orang tua ku" Peringat Lilly saat melihat raut bahagia itu.


Seketika senyum bahagia itu memudar, kepala nya menunduk menatap wajah Lilly yang saat ini tengah menatap nya juga.


"Bagaimana?" Tanya Erlan.


"Entah lah, masalah ini kamu yang buat apalagi sampai menculik ku ke sini" Jawab acuh Lilly.


"Hah.. Sudah lah pikirkan nanti, aku sangat lelah" Pasrah Erlan mendekap begitu erat tubuh Lilly.


Tetapi Lilly masih marah dan kesal pada pria itu atas perlakuan nya, catat ini!


"Kapan pulang? Bagaimana dengan kuliah ku?"


"Saat kamu mendiami ku waktu itu, aku sudah mengajukan cuti dua minggu untuk mu"


"Apa?!" Pekik kaget Lilly menarik paksa kepala nya untuk menatap wajah pria itu. "Kok gak bilang dulu sama aku?!"


"Bagaimana mau bilang jika kamu saja terus mendiami ku"


"Ck, mau menyalahkan ku?" Decak kesal Lilly yang langsung mendapat gelengan dari Erlan.


"Tidak sayang, ini salah aku dan sekali lagi maafkan aku" Sahut nya cepat dan mengecup berkali-kali kening Lilly.

__ADS_1


"Lalu kapan kita pulang? Dan dimana ini?" Tanya kesal Lilly mendorong wajah Erlan agar berhenti mengecupi nya.


"Selagi di sini lebih baik kita nikmati, anggap saja honeymoon kilat dan kita berada di pulau pribadi milik ku"


"Mana ada honeymoon kilat" Cibir Lilly. "Arlan sudah mengatakan itu, tetapi ini dimana? Maksud aku masih di negara kita atau--"


"James Island" Potong Erlan.


"Apa?!" Lilly memekik kaget, ralat bukan kaget tetapi shock. "Ja-jadi kamu pemilik James Island yang identitas nya pembeli nya di privat?"


Erlan mengangguk pelan. "Memang nya kenapa? Kok kaget gitu?"


Gemas, itu lah kata yang cocok untuk menggambarkan kegemasan Lilly pada pria sok lugu di depan nya.


Bisa-bisa nya ia bertanya kenapa di saat Lilly baru mengetahui bahwa suami nya adalah pemilik pulau pribadi termahal di dunia yang harganya diperkirakan mencapai USD75 juta atau setara dengan Rp1,07 triliun!.


Gila, memang gila. Erlan benar-benar crazy rich yang berkedok sebagai dosen di kampus nya, ah bahkan kampus itu nanti nya akan jatuh ke tangan Erlan.


Tak kunjung mendapat jawaban, sebuah ide pun muncul di otak Erlan mengenai bagaimana cara mengatasi mertua nya nanti.


"Aku punya ide" Ujar Erlan membuat Lilly tersadar.


"Hah? Ide apa?" Tanya nya masih dengan rasa terkejut.


"Papa dan Mama tidak akan bisa memisahkan kita jika kamu sedang hamil!"


Mulut Lilly membeo, sedikit tidak mengerti. "Maksud kamu, aku harus hamil? Gitu?"


Erlan mengangguk cepat dan di menit itu pula Lilly langsung menendang nya hingga pelukan itu terlepas dan tubuh Erlan terjungkal ke lantai.


"Awww sweety..!!"


"Enak aja! Aku ga mau ya!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2