My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 46


__ADS_3

Klik~


Pintu ruangan yang bertuliskan Maternity Room itu bergeser bersamaan dengan sepasang suami-istri istri yang melangkah keluar.


Namun, langkah kedua nya langsung terhenti kala mata mereka menangkap beberapa bodyguard yang mengelilingi ruangan itu dan ke empat orang tua mereka.


"Lilly..!!" Aili, sosok wanita itu langsung memeluk tubuh Lilly dan menumpahkan air mata khawatir nya di punggung sang anak.


"Kamu baik-baik aja? Ga ada yang luka hikss.." Tanya Aili terisak.


Lilly yang sempat mematung kini mulai membalas pelukan sang Mama. "Lilly baik-baik aja, Ma"


Baru kali ini Lilly melihat Mama nya menangis karena mengkhawatirkan nya. Biasa nya saja saat melihat wajah Lilly babak belur akibat kenakalan nya atau pun kecelakaan, Aili tidak pernah menangisi nya.


"Mama benar-benar khawatir pada mu, Ly" Ujar nya lagi.


Namun di lain sisi, kini Erick sudah menarik kerah kemeja Erlan dan melayangkan bogeman mentah nya pada wajah tampan itu.


"Papa!!" Pekik kaget Lilly yang langsung mengurai pelukan Aili.


"Baj*ngan! Brengsek!" Maki Erick emosi. Kembali mengangkat tangan nya berniat memukul wajah Erlan ya h dimana sudut bibir pria itu sudah berdarah, namun gerakan nya tertahan kala tangan sang putri menahan nya.


"Sudah Pa, jangan. Lilly baik-baik saja" Ujar nya dengan kepala menggeleng dan tatapan memelas.


"Minggir!" Sentak Erick.


Lilly menggeleng cepat. "Ingat jantung Papa" Peringat nya.


Mendengar itu Erick berdecih dan terkekeh sinis. Lantas pria itu melepaskan cengkraman nya seraya mendorong tubuh Erlan.


"Sejak kapan kamu peduli dengan jantung Papa? Kemana saja kamu selama ini?"


Lilly terdiam, mendengar itu tiba-tiba rasa bersalah menghantam diri nya. Dimana selama ini ia sama sekali tidak memperdulikan keadaan orang tua nya dan terus berbuat onar.

__ADS_1


"Mom, Dad.." Panggil Erlan menatap penuh bersalah pada kedua orang tua nya yang memasang wajah tanpa ekspresi.


Keheningan terjadi selama beberapa saat, para pasien dan beberapa orang yang berlalu lalang melewati ruangan itu pun mulai menghentikan langkah nya dan menyimak apa yang terjadi.


Dasar manusia kepo!.


"Pulang sekarang dan selesaikan semua nya!" Titah tegas Adam.


Mata nya mengode para bodyguard untuk menuntun langkah Erlan, namun pria itu malah mendekati Lilly dan berdiam meraih tangan nya sebelum pada akhirnya Erick menarik Lilly lebih dulu.


"Lilly bersama kami!"


"Tapi Pa--"


"Pulang sekarang Erlan!" Tekan marah Adam.


Tak ingin memperkeruh suasana, Erlan pun hanya bisa menatap sayu ke arah sang istri lalu melangkah di iringi para bodyguard dan keluarga nya.


Begitu pun dengan Lilly yang pasrah mengikuti langkah Aili yang menuntun nya berjalan, padahal ia tidak kenapa-napa.


Sesampai nya di rumah atau lebih tepat nya kediaman Adam's. Kini sepasang pasutri itu duduk berjauhan dan semua itu atas keinginan Erick.


"Papa cukup bangga dengan cara mu kembali, Erlan" Ucap Erick yang entah sebagai pujian atau sindiran. "Entah membawa Lilly kemana dan pulang langsung membawa nya untuk memeriksa kehamilan" Lanjut nya.


"Langsung saja, jangan menyudutkan Erlan!" Peringat Adam. Tentu pria itu takut jika tiba-tiba gangguan DID sang putra kumat saat ini juga.


"Baiklah sekarang bagaimana hasil pemeriksaan nya? Apa Lilly hamil agar kalian tidak bisa di pisahkan?"


Erlan hanya diam dengan tatapan datar nya. Ada kilat kemarahan, kehancuran dan kesedihan di tatapan itu yang mampu mereka lihat.


"Ayo tunjukkan" Desak Erick.


"Aku tidak hamil" Sahut Lilly seraya menyodorkan amplop besar berlogo rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Detik itu juga tatapan Erlan berpindah pada Lilly dna terfokus pada nya di saat para keluarga mulai memeriksa hasil pemeriksaan tersebut yang ternyata hasil nya Negatif atau lebih tepat nya Lilly di nyatakan tidak sedang mengandung.


"Hahaha bagus lah, dengan begini proses perceraian kalian akan berjalan dengan lancar" Ucap Eric dengan tawa bahagia nya.


Sekesal apapun Erick dengan tingkah Lilly sebelum nya, tetapi jika tau ternyata anak perempuan nya di sakiti. Erick tidak akan tinggal diam.


"Aku tidak setuju" Sahut Erlan yang beralih menatap bergantian keluarga nya.


"Sayang nya pengadilan sedang memproses nya dan mungkin beberapa hari lagi surat itu akan datang"


"Aku bilang, aku tidak setuju!" Sahut nya yang sedikit meninggikan nada bicara nya.


"Daddy dan Mommy pun setuju dengan keputusan Erick" Timpal Adam yang sejak tadi diam.


"Daddy apa-apaan sih?!"


"Ini semua yang terbaik, lagi pula Lilly belum juga mencintai mu"


Deg!.


Mendengar perkataan Adam jantung Lilly berdebar dua kali lebih cepat. Mata nya memanas dengan tangan yang meremat ujung dress nya.


"Li--"


"Hm, aku belum mencintai Erlan" Potong Lilly saat Erlan hendak berbicara.


"Lilly!" Sentak pria itu dengan mata memerah.


"Aku ingin bebas seperti saat belum menikah, aku ingin hidup seperti biasa nya dan yang terpenting aku tidak mau terus kamu sakiti saat alter ego itu menguasai diri mu"


Erlan menggeleng. "Kamu berjanji untuk menemani aku berobat, kamu berjanji akan tetap bersama ku. Ly" Suara nya melemah tidak seperti sebelum nya.


Tanpa mereka sadari tangan Lilly semakin kuat meremat ujung dress nya. "Anggap saja ucapan ku saat itu hanya mimpi. Lagi pula sudah terbukti aku tidak hamil jadi tidak ada yang perlu di pertahankan"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2