My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 35


__ADS_3

"ARGHHH..!!"


Erangan penuh kesakitan itu menggema, memenuhi sebuah gedung kosong di pinggiran kota.


Seorang wanita dengan tubuh yang di ikat pada tiang besar di dalam bangunan itu menjerit kesakitan kala paha nya di tusuk oleh pria di depan nya.


"Maafkan saya, tuan.. Maafkan saya erghh..!!"


Pria itu terkekeh mendengar kata maaf tersebut. "Apa anda lupa, dengan siapa anda bermain huh?!"


Wanita itu menggeleng, jelas ia tau siapa pria di depan nya ini. Pria yang memiliki kekuasaan di usia muda nya dan seorang pria dengan kepribadian tertutup.


"Siapa yang memberi mu nyawa tambahan hingga berani bertindak seperti ini?" Tanya pria itu yang terus menyayat paha terbuka wanita itu dengan belati di tangan nya.


Wanita itu menggeleng, tak mampu berbicara. Yang terdengar hanya erangan kesakitan dan permohonan maaf nya.


"Hanya seorang tikus kecil, berani sekali anda menjebak saya!"


"Maaf tuan Erlan, maaf erghhh!!"


"Jangan menyebut nama ku, brengsek!"


Jleb!


Dalam sekali gerakan belati itu menancap di pinggang wanita yang sudah di penuhi darah itu.


Erlan murka, karena wanita di hadapan nya ini ia jadi melukai Lilly dan sekarang istri tercinta nya itu mendiami nya.


Jleb! Jleb! Jleb!

__ADS_1


Lagi dan lagi, Erlan menancapkan belati tersebut ke sekujur tubuh wanita yang hanya bisa mengerang kesakitan tanpa bisa melawan.


Meluapkan rasa marah, kesal dan murka nya lewat tusukan itu hingga sang korban menghembuskan napas terakhir nya dengan mata melotot dan mulut terbuka.


Erlan berdecih kala melihat korban nya sudah tidak bernyawa, padahal ia belum puas menyiksa nya.


"Sayang sekali padahal saya sangat suka dengan cara kerja anda, nona Lin" Hardik Erlan menatap tubuh tak bernyawa itu.


"Tuan.." Panggil seorang pria yang kini berada di belakang Erlan.


"Urus mayat sialan ini, dan kirimkan uang belasungkawan pada keluarga nya" Titah dingin Erlan.


"Baik tuan"


Erlan pun berlalu meninggalkan gedung kosong itu, membuka kemeja nya yang sudah di penuhi darah lantas Erlan gunakan untuk menyeka darah yang menempel di belati kesayangan nya.


"Seratus satu" Gumam Erlan dengan tangan yang terus mengusap sayang belati nya.


Menarik napas nya begitu dalam seusai berganti pakaian di dalam mobil nya, tangan nya pun meremat setir begitu kuat.


"Brengsek!"


*


*


Adam dan Moon menatap tak percaya putra mereka yang saat ini tengah menjelaskan semua nya.


Seperti biasa, tidak ada yang Erlan tutupi pada kedua orang tua nya bahkan pria itu tidak malu untuk meceritakan masalah ranjang nya.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah.." Moon menggantung perkataan nya dengan napas yang terasa tercekat.


Erlan mengangguk dan mengusap kasar wajah nya merasa frustasi. Pasal nya hingga pagi menjelang siang ini Lilly masih mendiami nya.


Bahkan wanita itu tidak mau makan atau pun beranjak dari kasur, terlebih lagi tatapan wanita itu pada nya membuat Erlan khawatir.


"Daddy benar-benar bingung harus berkata apa pada mu, son" Ucap geram Adam seraya memijit pelipis nya.


Baru saja masalah sebelum nya berlalu dan seperti nya Lilly menerima kondisi Erlan. Tetapi kini? Putra nya malah membuat masalah yang cukup besar.


"Lalu Erlan harus bagaimana? Sebelum nya juga kesalahan Lilly, kenapa dia menjawab seperti itu sampai membuat Erlan terpancing emosi dan berakhir memaksa nya"


"Seharusnya kamu lebih sabar lagi, Erlan!"


"Gak bisa Dad! Pria mana yang bisa sabar saat melihat istri nya menarik seorang pria ke tempat sepi dan pria itu adalah kekasih istri nya sendiri!"


Adam dan Moon saling diam, bingung ingin berkata seperti apa. Mereka juga tidak bisa terlalu mencampuri urusan rumah tangga Erlan.


"Mom, Dad, Erlan harus bagaimana?" Tatapan pria itu sungguh terlihat memelas seiring dengan helaan napas lelah nya.


"Daddy tidak tahu, urus saja masalah yang kamu buat sendiri!" Ketus Adam seraya berlalu meninggalkan ruang tengah itu.


"Mom--"


"Mommy juga tidak tahu, urus saja sendiri!" Sela Moon tak kalah ketus nya.


Kemudian wanita setengah baya itu berlalu menyusul langkah suami nya yang mungkin akan bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Arrghh brengsek!" Erang Erlan mengacak rambut nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2