My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 64


__ADS_3

Suara teratur yang keluar dari Elektrokardiogram (EKG) di dalam ruang rawat Lilly menjadi pengisi hening nya malam ini.


Setelah para orang tua pulang karena Erlan tidak ingin membuat orang tua nya kelelahan atau pun sakit. Kini diri nya benar-benar sendiri, ralat. Erlan tidak sendiri tetapi berdua bersama Lilly yang masih asik dengan tidur panjang nya.


"Cobaan rumah tangga kita berat banget ya?" Ujar Erlan di iringi kekehan pelan.


Sebelah tangan nya mengusap-usap pipi Lilly, dan yang sebelah nya lagi terus menggenggam tangan dingin itu, sesekali Erlan juga mengecupi punggung tangan Lilly.


"Sudah satu bulan aku menunda jadwal terapi. Sudah satu bulan juga aku tidak mendengar suara mu, sayang"


"Kapan kamu bangun eoh? Apa kamu tidak merindukan ku?"


Di hening nya malam ini dan ruangan tersebut membuat Erlan lagi-lagi meneteskan air mata nya. Penyesalan nya terhadap semua yang sudah berlalu tiada henti nya.


Sekarang diri nya hanya bisa menunggu keajaiban agar istri kecil nya tersadar dari tidur panjang nya ini.


"Aku merindukan suara mu hikss,, aku merindukan tatapan kesal mu" Isak Erlan dengan kepala yang sudah bersandar di lengan Lilly.


*


Lilly POV.


Samar-samar aku mendengar suara yang tidak asing ini setiap hari, berbisik, berbicara sendiri, bahkan suara pria ini bergetar menahan isak tangis nya

__ADS_1


Aku merasakan tangan ku basah dengan jejak air mata nya, sebenarnya ada apa dengan pria ini? Siapa dia?


Aku ingin membuka mata ku, kenapa tidak bisa? Aku ingin berbicara kenapa bibir ku terus merapat?


Suami? Istri? Apa pria yang selalu menangis ini adalah suami ku? Tapi sejak kapan aku menikah dan siapa dia?


Aku benar-benar ingin membuka mata ku dan melihat semua nya tetapi cahaya terang ini terus menuntun ku ke arah nya..


Lilly POV End.


*


"Dokter! Suster!!"


Ceklek~


Pintu ruangan di buka bersama masuk nya beberapa tenaga medis yang sigap dengan peralatan nya.


Erlan menyingkir dengan perasaan campur aduk kala melihat para tenaga media mulai memeriksa tubuh Lilly.


Mulai dari nadi tangan, leher, serta mata. Mereka memeriksa begitu teliti hingga akhirnya dua kata keluar dari sang dokter membuat para perawat lain nya bersiap.


"Siapkan pacemaker!"

__ADS_1


"Maaf tuan, lebih baik anda menunggu di luar" Ujar salah satu perawat pada Erlan yang mematung.


Erlan menurut tak memberontak, nyawa istri nya berada di ambang kematian. Air mata nya menetes semakin deras dengan rasa lemas yang menghantam diri nya.


"Bersiap sekarang!" Titah dokter sebelum pintu ruang rawat Lilly di tutup rapat.


Erlan terduduk di lantai dengan kedua tangan yang saling menyatu, menangis di antara kepalan tangan itu lalu Erlan membatin.


"Tuhan selamatkan nyawa istri ku. Jika kau ingin memberikan karma karena aku telah membunuh banyak orang, berikan lah pada ku jangan pada istri ku"


Hanya kalimat itu lah yang mampu Erlan ucapkan dalam batin nya. Jika Lilly adalah bayaran atas apa yang ia perbuat pada korban-korban nya, maka menit itu juga Erlan akan menyusul istri cantik nya.


Dengan tangan bergetar Erlan pun mengeluarkan handphone dari saku nya, lalu menghidupkan nya dan mengetikkan sesuatu pada room chat keluarga nya


^^^'Kondisi Lilly semakin memburuk'^^^


Pesan itu lah yang ia kirimkan pada grup chat yang berisi seluruh anggotak keluarganya dan keluarga Lilly.


Setelah nya Erlan pun menaruh asal handphone nya di lantai lalu kembali menenggelamkan wajah nya di antara kepalan tangan nya.


Tidak ada yang berlalu-lalang di koridor ini karena ruang rawat Lilly berada di lantai dua puluh sembilan dimana lantai ini hanya terdapat beberapa ruang VVIP


Dan hal ini pun semakin mendukung Erlan untuk mengeluarkan isak tangis nya, pasrag akan jalan hidup nya jika tidak ada Lilly di sisi nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2