
Lilly menutup buku nya dengan jantung yang berdebar begitu cepat, tepuk tangan dari teman sekelas nya membuat kaki Lilly semakin melemas.
"Hmm bagus" Ujar dingin Erlan melirik Lilly dengan ekor mata nya.
Sedangkan ketiga sahabat nya di bangku sana saling tercengang mendengar presentasi Lilly yang begitu sempurna dan sangat mendetail.
Walaupun wanita itu menjelaskan dengan mata yang terus tertuju pada buku, tetapi yang terpintar sekali pun saat ini sedang bertepuk tangan. Merasa kagum dengan penjelasan Lilly.
"Karena kamu dapat menyelesaikan tugas ini dengan cukup baik, saya akan menambahkan poin kamu dan pasti nya kamu tidak akan tinggal di semester ini" Ujar Erlan yang masih mempertahankan wajah tanpa ekspresi itu.
Lilly masih diam di tempat nya, tak bergeming sedikit pun dan mata nya menatap Erlan dengan tatapan sulit di artikan.
"Kembali lah ke tempat mu!" Tegas Erlan.
"Terima kasih Mr.!" Sahut Lilly dengan nada yang sulit di definisikan.
Lilly pun kembali ke tempat duduk nya dan tentu nya wanita itu langsung di serang beribu pertanyaan dari sahabat nya.
Pasal nya mereka tau Lilly bodoh dalam pelajaran, dan jika pun di bantu oleh Nico. Pria itu tidak mungkin sepintar ini di tambah Nico mengambil jurusan hukum.
Tetapi dari semua pertanyaan itu, Lilly tidak menanggapi nya. Wanita itu terus menatap Erlan dengan tangan terkepal.
*
*
"Ayo cepat ke kantin, aku lapar!!" Seru ricuh Brita.
"Sebentar" Sahut malas Elena. Padahal ia sedang membereskan buku-buku nya, apa Brita tidak melihat?!
"Kalian duluan saja, aku ada urusan" Ujar Lilly seraya bangun dari posisi nya.
Baru saja berniat melangkah tetapi lengan nya di tahan oleh Brita. Sahabat nya yang kelewat rempong.
"Urusan apa? Kemana? Kok kamu sekarang gini sih?!" Cerocos Brita kesal.
"Kalian butuh penjelasan 'bukan?"
Seketika ocehan kesal Brita terhenti, Elena dan Alena pun langsung menatap Lilly.
"Aku akan menceritakan semua nya di cafe langganan kita setelah jam kuliah selesai, oke?"
"Sekarang saja!!" Desak Brita yang berusaha menarik Lilly agar duduk dan bercerita.
Ah, seperti nya wanita itu lupa akan rasa lapar nya.
Lilly menggeleng pelan. "Waktu nya ga akan cukup, kamu juga lapar 'kan?"
__ADS_1
Brita mengusap perut nya penuh kasih sayang. "Aku bisa tahan kok, asal kamu cerita apa yang terjadi dengan mu"
Lilly terkekeh pelan dan memukul gemas kepala Brita. "Jangan seperti itu, orang-orang bisa mengira kamu sedang hamil. Bodoh!"
"Oh tidak-tidak!!" Brita memukul-mukul meja, menolak ucapan dan memaki kelakukan nya barusan dan hal itu pun berhasil mengundang tawa para sahabat nya.
"Sudah, sana ke kantin duluan. Aku janji akan menceritakan semua nya"
"Janji ya?" Ucap serempak ketiga wanita itu.
"Iya wanita-wanita cantik ku!"
*
*
Brakk!
"Apa maksud kamu--"
"Astaga Lilly, dimana sopan santun kamu!!" Pekik Aili yang terjengkat kaget karena seseorang membuka pintu ruangan Erlan begitu saja dengan kuat.
Dan ternyata seseorang itu adalah putri nya, istri dari pemilik ruangan ini!.
"Ma-mama.." Gumam kaget Lilly.
Aili bangun dan mendekati Lilly di pintu sana. Secepat kilat tangan nya menarik telinga Lilly lalu menutup pintu ruangan Erlan.
Rasa nya telinga nya akan segera lepas dari tempat nya. Mama nya benar-benar tega.
"Sudah Ma tidak apa, Erlan sudah terbiasa kok" Ujar Erlan berniat menengahi.
Tetapi yang terjadi Aili malah menjewer telinga Lilly yang satu nya hingga membuat wanita itu mengerang kesakitan.
"Oh jadi gini? Kamu udah biasa seperti ini? Benar-benar tidak sopan!"
"Mama huaaa sakit..!!!"
Dengan cepat Erlan berdiri di antara kedua nya, melepaskan perlahan tangan Aili dari telinga Lilly yang sudah memerah.
"Ma sudah cukup, kasihan istri aku.." Bujuk Erlan sebelum pada akhirnya Aili melepaskan jeweran nya lada kedua telinga Lilly.
"Shhh.." Ringis kesakitan Lilly saat menyentuh telinga nya.
"Sakit?" Tanya iba Erlan yang langsung mendapat anggukan dari Lilly. "Maka nya lain kali ketuk dulu" Ujar nya lembut dan ikut mengusap-usap daun telinga Lilly yang memerah.
Perlakuan itu pun tak lepas dari mata Aili. Wanita setengah baya itu menyaksikan kedua nya dengan senyum yang menghiasi wajah nya.
__ADS_1
"Ada bagus nya juga mereka tinggal bersama besan ku. Dengan begini mereka jauh lebih romantis 'bukan?" Batin senang Aili.
"Ekhemm.."
Erlan dan Lilly tersadar dari keromantisan nya, lantas Lilly pun menjauhi tubuh Erlan dan menatap kesal sang Mama.
"Mama ngapain ada di sini sih?"
Aili bersedekap. "Kenapa? Ga boleh? Apa Mama ganggu keromantisan kalian?"
Lilly mendengus kesal, lantas mendudukkan diri nya pada sofa di ruangan itu.
"Mama ke sini karena kemarin Papa dan Mama ke rumah kalian tetapi yang ada hanya para pelayan saja dan mereka bilang kalian sementara tinggal bersama mertua kamu" Jelas Aili.
"Mama kan bisa telpon, kenapa harus ke sini"
Aili berdecak sebal, kenapa anak nya seakan tidak suka dengan kehadiran nya di sini?.
"Bukan nya aku ga suka Mama ada di sini, tapi nanti kalau teman-teman aku curiga gimana?"
"Bagus dong, dengan begitu kamu dan Erlan ga perlu sembunyi-sembunyi seperti ini"
Oke, Lilly diam. Bukan berarti dia membenarkan ucapan sang Mama tetapi jika terus di ladeni wanita yang berstatus sebagai Mama nya ini tidak akan berhenti mengoceh.
"Dasar anak ini!" Geram Aili karena Lilly hanya diam tak menanggapi nya lagi.
Lantas wanita itu pun mengambil tas nya dan menatap bergantian Lilly dan Erlan.
"Mama pamit pulang 'ya, Lan"
"Mau Erlan antar Ma?"
"Tidak perlu, ada sopir menunggu di tempat parkir"
"Baiklah, hati-hati Ma"
Aili mengangguk dan tersenyum, namun senyum nya langsung luntur begitu melihat wajah Lilly yang di tekuk.
"Mama pulang lho"
"Ya udah sana" Sahut ketus Lilly.
"Lilly.." Peringat Erlan.
Sang pemilik nama pun mendengus sebelum akhirnya bangun dan memeluk serta mengecup pipi Aili sekilas.
"Hati-hati, Ma." Aili tersenyum mendengar dan mendapat perlakuan yang sudah lama tidak ia dapat kan dari putri sulung nya ini.
__ADS_1
"Bye-bye, cepat buatkan Mama cucu yang imut!" Ucap Aili cukup kuat seraya berjalan mendekati pintu.
...****************...