
Dengan penuh hati-hati kedua pembantu itu keluarga dan berjalan kearah dua orang pemuda yang sangat tampan seperti pangeran-pangeran di negeri dongeng. Dimana Riki yang sedang duduk di sofa sedangkan Orlando masih berdiri tegap kearah pintu kamar miliknya.
Tepat disaat itu Kevin dan Natalia tiba di dalam mension Orlando. sedangkan Khira masih berada didalam helikopter, masuk nya Kevin membuat Orlando tambah murka dan dengan cepat berjalan kearah Kevin dengan melayangkan satu pukulan diwajah Kevin yang membuat Natalia terkejut dan berteriak.
' 👊 '
" aw ..... "
Kevin tersungkur kebelakang untung saja alat medis nya di bawa olah Natalia kalau tidak bisa terpental dengan diri Kevin.
Kedua Pembantu yang keluar dari kamar utama terkejut sambil menutup mulut mereka dengan tangan mereka agar tidak ikut teriak. Sementara Riki hanya bisa terdiam di tempat duduknya. Natalia berjalan kearah Kevin untuk membantu tuan nya berdiri.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah belakang Kevin dan Natalia.
" biarkan saja, jangan di bantu "
Natalia langsung menoleh kearah belakang dan langsung diam di tempat.
Kevin menatap Natalia sambil tersenyum dengan memegang sudut bibirnya yang berdarah karena satu tonjokkan dari sahabatnya itu.
" sudah puas "
Tanya Kevin santai yang membuat Natalia bingung dibuatnya. Tuan nya baru saja di tinju dengan satu pukulan tetapi tidak marah dan hanya bertanya apakah sahabat nya sudah puas dengan melakukan hal itu.
" ayo masuk kedalam "
kata Orlando kepada Kevin sambil berjalan masuk kedalam kamar utama, disusul oleh Natalia, Riki dan Khira. Orlando membuka pintu kamarnya lebar agar semuanya dapat masuk. Saat Kevin masuk dirinya dikejutkan dengan seorang gadis kecil dan imut sedang berbaring tidak berdaya di atas ranjang Orlando.
[ " gadis ini bagaimana bisa sampai kemari dengan keadaan yang sangat parah " ]
Batin Kevin dengan mata memandang gadis itu.
Dengan cepat Natalie mengeluarkan alat-alat medis yang di perlukan oleh Kevin untuk memeriksa Aurora. Saat stetoskop mengarah ke bawa leher Aurora tiba-tiba Orlando berkata,
" apa yang mau kau lakukan "
" kau buta atau bodoh "
cetus Kevin dengan menatap Orlando, pria yang di tatap hanya memandang Aurora dan tanpa disadari tangan Orlando mengelus pipi Aurora.
" tuan muda yang terhormat, jika kau melarang aku untuk memeriksa Aura akan aku balas tinju mu tadi "
" apa maksud mu ? "
teriak Orlando yang membuat semua yang berada di dalam kamar tersenyum pelan. Ibu asuh Orlando berjalan kearah Orlando dan menarik tangan pria arogan itu dengan lembut.
" biarkan Kevin memeriksa gadis ini, jika di tunda lagi itu akan membahayakan nyawa gadis ini. ayo nak, sini dekat ibu asuh, ayo ... "
mendengar ucapan dari ibu asuh membuat Orlando berdiri dengan perasaan berat hati. Orlando tidak berani membantah perkataan ibu asuh nya, dirinya selalu mengalah dan menuruti semua apa yang di ucapkan oleh Lidya sang ibu asuh.
Kevin menarik nafas panjang dengan perasaan lega karena Orlando jauh darinya, hal itu mempermudah dirinya dan Natalie sang asisten untuk memeriksa Aurora.
__ADS_1
" bagaimana keadaannya "
Kata Khira pelan sambil berjalan kearah Kevin. Kevin hanya menggelengkan kepalanya pelan. Melihat gadis manis itu terbaring membuat hati Khira semakin sakit.
Khira berjalan kearah Aurora dan membuka selimut tebal berbahan sutra itu dengan paksa membuat Orlando dan Natalie terkejut.
" apa yang kau lakukan "
teriak Orlando dengan keras dan berjalan kearah Khira. sedangkan Khira hanya cuek dan tidak peduli akan kemarahan Orlando. Khira melihat dari atas kepala hingga ujung kaki Aurora, mata Khira berhenti ke telapak kaki Aurora, dilihat dan dipegang kaki gadis manis itu sambil menatap Kevin.
Kevin yang di tatap dengan cepat merespon apa yang di maksud Khira.
" Natalie .. pasangkan infus sekarang "
" baik tuan "
Natalie dengan penuh teliti memasangkan infus ke tangan Aurora.
Khira langsung tersenyum manis melihat saudara nya yang cepat tanggap atas apa yang harus di lakukan.
" selesaikan tuan muda "
Kata Khira kepada Orlando dengan penuh tekanan di setiap ucapannya , Khira pun berjalan keluar kamar dengan santai dan tenang. Orlando menatap kepergian Khira dengan raut wajah yang sangat kesal. Bagi Orlando menghadapi Khira sama dengan menghadapi dirinya sendiri sangat susah.
" tenang saja, dia hanya kelelahan karena melakukan perjalan jauh, jujur saja waktu itu aku menemukan nya pingsan di basement perusahaan mu, dan tepat di pagi hari dia menghilang "
" apa maksud mu Kevin ? "
" virus ... lambang phoenix "
cetus Riki penasaran, Orlando duduk di samping Aurora sambil mengelus rambut silver gadis itu dengan pelan.
Natalie berjalan mundur dan berdiri disamping Kevin.
" siapa yang melakukan ini pada mu ? "
tanya Orlando pelan. Tiba-tiba Riki berbicara yang membuat semua orang menatapnya, dan membuat Natalie tidak sengaja menjatuhkan tas medis milik tuan nya.
" My Queen .. jangan-jangan dia My Queen "
" tidak mungkin dia My Queen, jika dia benar My Queen dia pasti mencari ... "
Ucap Kevin tiba-tiba yang hampir saja membongkar jati diri nya.
Suara tas medis yang jatuh tidak di dengarkan oleh semua orang yang ada di dalam kamar.
Orlando hanya menghiraukan apa yang terjadi saat ini.
" Riki .. dimana Om Johan dan Tante Isabel "
" mereka menginap di hotel perusahaan, Gracia mungkin di kamar nya, sedangkan Daniel dari tadi aku tidak melihat nya "
__ADS_1
jawab Riki dengan santai.
Gracia masuk dengan pelan kedalam kamar Orlando,
" kak ... "
" kakak siapa yang kau panggil "
" dimana kak Daniel ? "
" dari tadi dia menghilang, kemari "
Kata Orlando dengan pelan. Gracia berjalan kearah Orlando dan berdiri di samping nya.
" ada apa kakak sepupu "
" malam ini kau tidur disini, menemani Aura "
" apa ??? tidak salah yang aku dengar ini, kakak sepupu kau sedang bercanda bukan "
" berisik .. jaga dia , tidurlah di samping nya, jika dia bangun kabari aku segera "
Gracia hanya mengangguk saja tanda setuju, jika dirinya bertanya lagi bisa-bisa Gracia akan di tendang dari kamar megah tuan muda ini.
Orlandoberjalan keluar, diikuti oleh Riki, Kevin, Natalia, dan Lidya ibu asuh Orlando. Saat berjalan keluar kamar Natalia menoleh kebelakang dan tidak sengaja menatap Gracia begitu juga dengan Gracia sehingga membuat keduanya tersenyum canggung. Keduanya belum mengenal satu sama lain sehingga memiliki rasa canggung tersendiri.
Saat semua sudah keluar dari kamar Gracia langsung duduk di samping Aurora dan menatap tajam wajah gadis yang seusia dengan dirinya.
" ini kedua kalinya aku melihat kamu tidak sadarkan diri, aku ingin tau banyak tentang mu, siapa tau kita bisa jadi teman yang lebih akrab lagi, dan aku sangat berterima kasih pada mu karena ada dirimu aku dapat menikmati apa yang jadi milik kakak sepupu ku, contoh nya kamar ini "
Saat Gracia menatap wajah Aurora dirinya langsung dikejutkan dengan tatapan Aurora, begitu juga dengan Aurora yang membuat keduanya langsung mundur menjauh sedikit.
" kau ... kau .. kak ..."
dengan cepat Aurora bangkit dan menutup mulut Gracia dengan pelan agar tidak berteriak sambil Aurora menggelengkan kepalanya dengan pelan.
.
.
.
.
.
Hallo pembaca yang setia jangan lupa di like yang dan jadikan favorit agar tidak tertinggal.
.
.
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝