
Malam kembali tiba, Sora sedang berdiri di dapur. Ia nampak kebinggungan, menu apa yang akan ia siapkan untuk malam ini. Sora berjalan menuju kulkas, ia memeriksa bahan apa saja yang ia punya. Tanpa ia sadari bibirnya tersenyum getir. Istri seperti apa dirinya, kulkasnya kosong tak berisi. Hanya beberapa botol air mineral dan susu murni kemasan yang ada di dalam kulkasnya.
"Mas, antar aku ke supermarket ya," pintanya pada Alan yang sedang duduk di depan televisi.
"Tidak usah masak, Ayo makan di luar saja," ajak Alan.
"Aku ganti baju dulu, makan dimana Kita?"
"Kita ke kafe tempat nongkrong dulu, anak-anak lagi ngumpul disana. Barusan aku lihat postingan mereka di Instagram."
Deg, perasaan Sora sudah tidak karuan. Baru kemarin ia dari sana bersama Ferry. Mendadak wajahnya menjadi pucat kembali.
"Sora, kamu sakit kayaknya. Dari pagi tadi wajahmu pucat sekali!" kata Alan sembari memegang kening Sora.
"Tidak Mas, aku sehat kok. Kita ke kafe itu lain kali saja ya. Aku ada tempat makan yang enak, sepertinya Mas akan menyukainya," Sora memikirkan cara untuk menghidar dari ajakan suaminya, bisa berbahaya jika dia bertemu dengan Ferry disana, batin Sora.
"Oke, kamu cepat siap-siap. Aku panasin Mobil dulu."
"Iya Mas," Sora menuju kamar, ia hendak menganti pakaian. Berbeda dengan Alan, suaminya cukup mengenakan kaos pendek dan celana selutut sudah terlihat sangat keren di mata Sora.
Pak Dadang terlihat membukakkan pintu gerbang rumah Alan, ketika mobil pemilik rumah akan keluar.
"Pak, kami keluar. Jagain rumah ya," pamit Alan pada laki-laki paruh bayah yang setia menjaga rumahnya selama ini.
Mobil melaju memecah kesunyian malam. Entah merasa lelah atau apa, Sora nampak diam tanpa bersuara. Setelah sampai tempat yang dimaksud Sora, barulah ia mengucapkan kata lewat bibirnya.
"Ah.. Sudah sampai rupanya," ucap Sora.
"Lumayan sih tempatnya," komentar Alan. Ia turun dari mobil yang di kendarainya. Ia melangkah masuk ke sebuah kafe bertemakan outdoor, begitu banyak lampu-lampu hias yang di pasang di segala tempat. Membuat kesan romantis bagi para pengunjungnya.
"Bagus kan, enak banget disini," ucap Sora dengan senyum manisnya.
"Sering kesini Ra?" tanya Alan sedikit curiga.
"Tidak juga, cuma beberapa kali di ajak sama teman-teman kantor," jawab Sora.
Keduanya kini sudah duduk di halaman yang luas, di bawah ornamen lampu hias yang mengujani mereka. Suasana nan romantis melanda keduanya. Seakan-akan mereka sedang berkencan. Pada kenyataannya, mereka hanya keluar untuk mengisi perut yang kosong.
__ADS_1
Tidak tersa waktu pun berlalu. Sora dan Alan sudah menghabiskan makanan mereka, kini keduanya nampak berbincang santai.
"Ra, tadi Ibu telpon. Anaknya Tante Susi habis melahirkan." ucap Alan, membuat Sora menelan ludahnya. Apa lagi ini, batin Sora.
"Trus?" tanya Sora pada pria yang kini sedang menatap dirinya.
"Ibu minta kita menjenguk mereka,"
Kepala Sora mendadak merasa pusing, kalau sampai ketemu dengan keluarga besar Kardinov. Ia pasti akan menjadi bahan perbincangan di dalam forum pertemuan keluarga besar itu.
Hal apa lagi yang akan mereka bahas, kalau bukan menyangkut tentang dirinya yang tak kunjung hamil juga. Sora merasa berat sekali kalau harus melangkahkan kakinya ke rumah para kerabat Alan. Namun, dia juga tidak bisa menolak jika suaminya mengajak kesana. Sora hanya perlu menebalkan kedua telingganya. Dan mengunci rapat bibirnya, jangan sampai ia mengeluarkan umpatan kasar pada para kerabat suaminya yang tidak sopan dalam menyikapi keadaanya.
Kebanyakan mereka mengangap Sora lah yang mandul, tidak bisa memiliki keturunan. Padahal, ia dan Alan sudah sama-sama memeriksakan diri ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menyatakan keduanya subur, hanya saja memang benar ada sedikit masalah pada kandungan Sora. Tetapi semua sudah ditangani pihak Dokter.
Keduanya benar-benar subur, hanya Tuhan belum memberikan kepercayaan pada mereka untuk mendapat sebuah momongan. Pernah suatu kali, mereka berencana mengangkat anak dari panti asuhan. Namun urung, karena pihak keluarga menolak dengan mentah-mentah. Alhasil gagal lah mereka mengadopsi anak.
Entah berapa kali jarum suntik menembus rahim sora lewat perutnya, hanya untuk beberapa program kehamilan. Namun hasilnya nihil, tidak membuahkan apapun. Justru kecewa dan kecewa yang mereka dapat. Oleh sebab itu, untuk saat ini keduanya memilih menjalani hidup seperti apa adanya.
Kembali lagi kepada tuntutan keluarga besar, itu membuat rumah tangga Alan dan Sora kembali terkoyak. Entah berapa tetes air mata yang Sora keluaran, atas rasa putus asa ketika belum sempurna menjadi seorang wanita.
"Ra!"
"Sora!" Kali ini Alan menaikkan nada suaranya, karena Sora tak bergeming.
"Iya Mas," jawab Sora dengan lesu. Pikirannya terbang ke acara keluarga yang akan ia hadiri bersama sang suami nanti.
"Mikir apa kamu, Ra?" tanya Alan yang penasaran dengan hal yang ada dalam kepala istrinya.
"Aku hanya memikirkan jawaban apa nantinya yang akan ku berikan pada keluarga besar Mas nanti,"
"Tidak usah dipikirkan," Alan seakan tahu isi hati dari istrinya.
"Bagaimana tidak dipikirkan, bila semua orang menanyakan pertanyaan yang sama," protes Sora pada suaminya. Ia seakan-akan marah pada keluarga besar Alan yang terus meneror dirinya.
"Kamu lebih perduli mereka dari pada perasaan mu sendiri?"
"Bukan begitu, aku hanya tidak suka. Mereka seakan menjadi Hakim dalam kehidupan ku,"
__ADS_1
"Jangan dipikirkan, kamu cukup memikirkan aku dan dirimu sendiri Ra," pinta Alan.
"Sudahlah. Bila membahas tentang ini, tidak akan ada habisnya," Sora bangkit dari kursinya, ia beranjak dari sana menuju tempat parkir.
"Tunggu Sora." Alan menghentikan langkah Sora, ia menyambar tangan istrinya.
"Sudahlah, ayo kita pulang. Sudah malam, aku lelah," ucapnya lirih.
"Kamu cemburu Ra, bersabarlah. Jika waktunya tiba, mungkin kita akan memilikinya."
"Siapa yang cemburu? Mana mungkin aku cemburu pada kebahagiaan orang lain! Aku justru ikut senang dengan kelahiran baru di keluarga besar Mas,"
"Bibirmu boleh berkata tidak, namun matamu tidak bisa berbohong,"
Alan mengusap bulir bening yang jatuh menetes di pipi Sora. Ia tahu betul istrinya kini sedang iri dengan anak Tantenya, yang baru beberapa bulan menikah kini sudah melahirkan. Sedangkan mereka sudah cukup lama menikah namun tidak kunjung diberi keturunan.
Ia seakan tahu semua yang dirasakan Sora, Alan hanya mampu menghapus air mata Sora. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Bila ia bisa, Alan akan memberikan banyak anak pada istrinya itu. Namun apa daya, ia tidak punya kuasa. Hanya usaha dan kesabaran yang ia punya. Alan mengusap lembut rambut istrinya, ia mengecup halus rambut Sora.
"Mas, berikan aku anak!" ucap Sora lirih, air mata masih menetes di kedua pipinya.
"Andai aku bisa, aku berikan sekarang Sora,"
"Berikan aku anak dari rahim wanita lain,"
"Sora, kau sudah gila," ucap Alan dengan marah. Matanya langsung memerah menahan amarahya pada Sora.
"Aku rasa masalahnya ada padaku, persis seperti yang mereka katakan," ucap Sora dengan sesengukan. Tangisnya pecah ketika memikirkan semuanya.
"Jangan pernah perduli kata orang! Ingat jangan sekali-kali mengucapkan omong kosong itu lagi!" Alan memperingati istrinya, ia memandang Sora dengan tatapan yang tajam.
"Mungkin itu jalan satu-satunya, asal itu benih dari Mas aku rela. Aku akan merawat anak itu Mas. Tolong pertimbangkan permintaan ku, Aku sudah lelah jika terus menunggu."
"Sora, kamu sangat keterlaluan,"
Alan meningalakan Sora sendirian di kafe itu, ia melajukan mobilnya dengan amat kencang. Ia merasa Sora benar-benar sudah tidak perduli pada perasaannya.
Sora telah sukses membuat dirinya kecewa dan marah. Alan mencengkram kemudinya, mobilnya melaju sangat cepat. Entah berapa orang yang sudah ia balap dan mengumpat kesal pada aksi liarnya. Alan tidak perduli, perasaannya kini sedang kalut. Rasa marah menguasai hatinya.
__ADS_1
Sedangkan Sora kini sudah duduk di dalam taksi, pipinya masih nampak basah. Sesekali ia mengelap kedua matanya dengan sapu tangan yang ia punya. Sora dilanda kegalauan, namun itu sudah menjadi keputusannya. Lambat laun Alan pasti akan mengerti perasaannya. Posisi sebagai seorang istri yang tak kunjung bisa memberikan seorang anak. Posisi seseorang yang selalu di rundung pertanyaan yang menyiksa batinnya.
Bersambung.