
Sora sedang bercengkrama dengan Sofie, gadis kecil yang menjadi pelipur lara hatinya. Keduanya kini nampak bermain main di dalam kamar Alan. Kamar yang sudah lama di tingalkan oleh penghuninya, Alan sudah lama meninggalkan rumah Ibunya, karena memilih hidup berpisah dengan sang ibu setelah menikah dengan Sora.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, saat ini sudah menunjukkan tengah hari, Sofie gadis kecil itu telah tertidur di ranjang kamar Alan. Gadis kecil itu, tidur dengan lelap karena Sora yang menina bobokkan nya, momen seperti inilah yang Sora mau dalam kehidupan nya. Bukan malah menghabiskan waktunya seharian untuk bekerja di kantor. Baginya mengurus anak sangat mengesankan, dari pada menjadi seorang wanita karir.
Memang benar, menjadi wanita karir adalah keinginan dirinya sendiri. Namun, lambat laun Sora merasa kekosongan di dalam hidupnya, lama kelamaan ia merasa bosan. Seperti ada ruang hampa yang tercipta di dalam dada nya. Membuat Sora tidak bersemangat menjalani hari harinya.
"Ra," Alan menyapa Sora yang tengah melamun sambil membelai rambut Sofie yang bergelombang. Gadis kecil itu begitu mengemaskan, membuat Sora ingin memilikinya.
"Eh, sudah datang Mas?" Sora menatap Alan yang berjalan mendekat pada dirinya.
"Iya, tadi aku menyuruh sekertaris ku yang membereskan semua masalah kantor. Aku takut melewatkan acara Tante," jawab Alan.
"Ya sudah, Mas mandi dulu. Biar aku siapkan pakaiannya," ucap Sora.
Alan hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, namun bukan nya pergi ke kamar mandi Alan malah menciumi Sofie. Gadis imut yang ia rindukan dalam kehidupan rumah tangganya selama ini.
"Ke sini dengan siapa tadi, Sofie?" tanya Alan, karena tadi pagi tantenya hanya datang seorang diri. Pagi- pagi ia belum melihat kehadiran Sofie dalam rumah Ibunya.
"Diantar sopirnya tante Susan," jawab Sora.
"Loh, Bundanya Sofie kemana?"
"Ada kuliah pagi katanya,"
Alan langsung menghentikan pertanyaannya pada Sora, ia kini sibuk menciumi pipi Sofie yang kenyal. Dilihatnya gadis lucu itu, pandangan mata Alan seolah menginginkan seorang anak yang lucu seperti Sofie. Andai ia bisa memiliki seorang anak, hati Alan kembali galau. Bila memikirkan tentang ia dan Sora yang tidak kunjung mendapat momongan.
"Udah Mas, jangan gangguin Sofie. Nanti kalau terbangun bisa nangis." pinta Sora, yang melihat ulah suaminya. Alan terus saja menganggu tidur lelap Sofie. Gadis kecil yang sangat mengemaskan seperti boneka hidup saja.
Alan langsung bangkit, ia menyambar kain handuk yang ada di tangan istrinya.
"Aku mandi dulu ya," ucap Alan seraya mengecup kening Sora. Membuat pipi Sora merona. Kecupan lembut yang syahdu.
Setelah memperhatikan Sofie yang tengah tertidur dengan pulas, Sora melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Ia hendak memeriksa persiapan untuk acara yang akan diadakan sebentar lagi. Ternyata semua sudah siap, tidak ada apapun yang perlu Sora lakukan saat ini. Semua sudah beres, berkat bantuan tante Susan. Meski mulutnya super pedas, tapi tante Susan memiliki keahlian yang luar biasa. Begitulah manusia, ada kurang dan ada juga lebihnya. Sama halnya dengan tanye Susan.
Sora ikut membaur dengan keluarga Alan yang sedang duduk dengan santai di ruang tamu, sambil menunggu acara dimulai. Toh jarak rumah tante Susi yang punya hajatan cukup dekat, istilah nya cukup melangkah lima langkah.
__ADS_1
"Mana Sofie?" tanya tante Susan. Ia menanyakan cucunya yang sedari tadi mengekor pada Sora. Entah mengapa, tante juga heran. Cucunya begitu menyukai sosok Sora, padahal mereka berdua jarang bertemu. Paling juga sebulan sekali, itu pun kalau ada acara keluarga. Seperti saat ini misalnya, semua keluarga besar berkumpul menjadi satu.
"Sedang tidur tante, mungkin dia kecapekan," jawab Sora dengan singkat.
Ibu yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan sang mantu dan adik ipar, Beliau tiba-tiba menyahut.
"Kamu gak pingin anak yang lucu seperti Sofie, Ra?" tanya Ibunda Alan tersebut. Sebuah pertanyaan yang jelas ibu tahu jawaban nya.
"Jelas ingin Bu, Sora ingin"
"Terus gimana rencana yang kemarin?"
"Mas Alan tidak mau Bu. Bila saya terus memaksa, Mas Alan mengancam akan meningalakan saya,"
Bukanya prihatin, Ibu malah senang. Mendengar penuturan dari menantunya itu, tergambar jelas raut wajah bahagia di paras mertua Sora kala itu.
"Kamu tenang saja, selama kamu tidak keberatan. Ibu akan berusaha mencarikan istri kedua buat Alan,"
"Iya, Bu."
"Bagus kalau kamu nurut seperti ini, Ibu Akan selalu mendukung mu selama kamu mematuhi semua keinginan Ibu. Jangan takut akan istri kedua Alan nanti. Ibu ada di pihakmu," ucap Ibu seolah-olah memberi dukungan pada menantunya tersebut. Pada kenyataan nya, hatinya bersorak gembira. Keinginan Ibu akan tercapai sebentar lagi. Suasana menjadi tenang seketika saat Alan memasuki ruangan.
"Ngomongin apa Bu? Kelihatan serius banget," tanya Alan sembari duduk di dekat istrinya.
"Tidak ngomong apa-apa, biasa masalah wanita," jawab Ibu.
"Kirain ngomongin Alan, hehehe..," ucap suami Sora tersebut, sembari melayangkan senyum nya yang penuh canda.
Sora hanya bisa tersenyum masam, hatinya sudah tidak karuan.
"Ya sudah Mas, aku bangunin Sofie dulu ya..," Sora melangkah kan kakinya meningalkan ruangan. Ia berjalan menuju bekas kamar suaminya.
Sora dengan perlahan membangunkan putri kecil yang imut itu, diciumnya hidung Sofie berkali-kali. Rasanya Sora ingin memilikinya. Sebuah anak yang lahir dari rahimnya, namun sepertinya itu tinggal kenangan.
"Sofie, bangun sayang," ucap Sora seraya mengendong Sofie.
__ADS_1
Sofie tak kunjung bangun, gadis kecil yang imut itu masih mengelayut manja dalam gendongan Sora.
Alan tiba-tiba datang menyusul ke dalam kamar, ia ingin menyaksikan Sora bercengkrama dengan peri kecil yang imut itu.
"Sofie... Bangun dong. Nanti kita jalan-jalan, Sofie mau ikut apa tidak?" bujuk Alan. Sembari menciumi Sofie.
Mendengar kata jalan-jalan, Sofie perlahan membuka mata kecilnya yang bulat cantik. Berkali-kali ia mengedipkan kedua matanya.
"Sofie ikut jalan-jalan Papa Ayan," ucap Sofie setengah cadel.
"Kalau begitu, ayo mandi dulu. Mama Sora yang mandiin. Sofie mau?" ujar Sora pada anak kecil yang masih dalam gendongannya.
Sofie menganggukkan kepalanya yang mini, tidak ada aksi perlawanan. Ia menurut setiap kata-kata yang Sora ucapkan.
Setelah selesai memandikan Sofie, Sora pergi ke kamar sebelah. Ia ingin bertanya dengan tante Susan, dimana pakaian ganti Sofie.
"Tante, baju ganti Sofie mana ya?" tanya Sora.
"Itu, di tas warna pink. Bedak sama minyak telonnya juga ada di kotak warna biru itu," ucap tante Susan yang kini tengah sibuk merias diri untuk acara yang akan digelar sebentar lagi. Sedangkan cucunya, ia serahkan kepada Sora sepenuhnya. Toh Sofie sudah akrab dengan keponakannya itu.
"Sora ambil ya Tan," ucap Sora sembari meningalakan kamar tantenya.
Sora sudah selesai mendandani Sofie. Gadis cilik itu, ia sulap menjadi boneka super imut. Matanya yang bulat, bulu mata yang lentik, bibir munggil berwarna merah muda membuat Sofie terlihat bak seperti boneka sungguhan.
Belum lagi pakaian pesta yang ia gunakan, berupa rok tutu selutut warna pelangi, kaos mini dengan pita di kedua bahunya. Membuat Sofie seperti foto model bintang cilik. Sora berkali-kali memotret Sofie. Seakan ia ingin mengabadikan momen bahagianya bersama Sofie.
Sora terlihat sangat antusias dengan mainan barunya, seakan enggan waktu berlalu dengan cepat. Dalam hati Sora, ingin rasanya membawa Sofie tinggal bersamanya. Namun jelas bunda Sofie tidak alan mengijinkan dirinya.
Walaupun bunda Sofie masih sibuk kuliah, Sora tidak berniat memisahkan anak dari Ibunya. Kini kembali terbesit dalam benakknya. Menikahkan Alan untuk mendapatkan anak seperti Sofie. Bila memang ia tidak bisa hamil juga, jalan satu-satunya adalah Alan mencari istri lagi.
Bila di pikir-pikir, tidak apa-apa Alan menikah lagi. Toh nanti jika istri Alan yang baru melahirkan, ia akan merawat buah hati Alan. Ia bertekad akan mencurahkan segala kasih sayangnya untuk darah daging suaminya. Untuk saat ini, Sora melupakan sakit hatinya. Jika anak menjadi tebusan atas rasa sepi yang ia rasakan. Maka tidak apa-apa, asal ia bisa menimang seorang buah hati.
Sebegitukah Sora putus asa? Hingga menukar kebahagiaan dirinya dengan seorang buah hati yang lahir dari rahim orang lain.
bersambung
__ADS_1