
Tok tok tok...
Terdengar suara pintu rumah Alan yang diketuk dari luar, ternyata ada ibunda Alan yang sedang menunggu di teras rumahnya.
Ibu nampak binggung, suasana rumah terlihat sepi seperti tiada berpenghuni. Namun mobil putranya masih ada di garasi yang terbuka pintunya.
"Rumah kok dibiarkan pagarnya terbuka, mobil juga dibiarkan begitu saja. Ini kemana pula Pak Dadang?" gerutu Ibu Alan.
Sembari menunggu dibukakkan pintu, Ibu mencoba menghubungi Sora.
"Halo, Sora Ibu sudah di depan. Alan kemana ya? mobilnya kok masih ada tapi rumahnya dikunci, sedang pagar terbuka lebar," ucap Ibu kepada anak menantunya.
Deg, Sora langsung cemas. Jangan sampai mertuanya mengusik rencananya. Ia memutar otak untuk mengusir Ibu mertuanya dari rumah.
"Eh Ibu, Mas Alan mungkin sudah berangkat,"
"Berangkat apanya, tuh mobilnya masih ada. Lagian kamu tuh ya, suami belum berangkat kerja sudah pergi duluan. Istri macam apa?"
"Kantor Mas Alan kan dekat Bu, beda dengan lokasi kantor Sora. Biar tidak macet, Sora berangkat lebih awal," wanita itu berusaha memberikan alasan pada mertuanya.
"Alasan,"
Karena pagi pagi mertuanya sudah memperlihatkan amarahnya, Sora menarik napas dengan dalam. Ia sedang mengumpulkan banyak kesabaran untuk menghadapi duel dengan sang mertua.
"Ibu sudah telpon Mas Alan?" tanya Sora.
"Sudah, tapi tidak diangkat. Padahal ibu bawa makanan kesukaannya, ya sudah ibu taruh di meja teras rumahmu saja. Titip buat suamimu, ibu mau langsung ke tempat arisan."
"Iya Bu, makasih makanannya."
Sora merasa lega, hampir saja ibu mertuanya mengagalkan rencananya yang ia susun sejak semalam.
__ADS_1
Lalu dimana dua insan yang sedang mabuk itu? Alan masih berada dalam kamarnya. Ia masih asik bermain main dengan Stella, wanita muda yang menawan. Dengan sekejap mata mampu memikat hatinya.
Stella begitu menikmati permainan yang di mainkan Alan, ia bahkan rela bila tidak dibayar. Asal lawan mainnya adalah seorang pria yang saat ini sedang bersamanya.
Alan sepertinya dirasuki banyak roh jahat, buktinya ia berkali kali menyerang Stella tanpa ampun. Mungkin yang menjadi kupu kupu saat ini bukanlah Stella, melainkan suami Sora.
"Dasar laki laki, semuanya sama saja," batin Stella.
Alan kini menyingkap rambut Stella yang menutupi dahinya yang bersinar karena pantulan cahaya lampu kamar. Paras wanita muda itu sunguh menawan, tiada satu garis penuaan di atas dahinya. Kulit wajahnya begitu glowing dan kenyal, mirip seperti kulit bayi.
Berbeda sekali dengan saat pertama ia hampir menabrak wanita itu, wajahnya penuh dengan make up yang berantakan. Kali ini Stella begitu cantik, usianya yang muda semakin membuatnya mendapat nilai plus dimata para pria.
Mungkin Alan mulai kepincut dengan paras ayunya. Sepertinya seisi rumah Alan dan Sora sudah gila semua. Banyak kejadian di luar nalar yang seharusnya tidak terjadi. Namun, karena terlalu banyak bisikan setan di telinga para penghuni rumah membuat semua terjerumus dalam jurang kehancuran.
Sora dengan egonya, mendorong Alan untuk kepentingan dirinya. Sedangkan Alan sebagai pria normal, ketika dihadapkan pada ujian yang maha dasyat ia pun akhirnya tergoda. Lain halnya dengan wanita kupu-kupu malam, mungkin jika ada seorang yang mau memungut dirinya ia akan berhenti dari rutinitas menyimpangnya selama ini.
Dengan senang hati ia akan menjadi nyonya besar di rumah yang megah ini. Apa lagi yang ia cari? Uang adalah satu-satunya yang ia cintai. Hidupnya hanya untuk mengejar uang dari para pria hidung belang.
Entah mengapa, ada rasa yang berbeda saat ia melakukannya dengan Stella. Apa mungkin karena Stella yang pandai melayani dirinya? atau karena ia bosan dengan Istrinya? Entahlah, hanya hati Alan yang mengetahuinya.
Stella sendiri semakin mempererat pelukannya, ia mencengkram dada Alan yang bidang. Wanita tersebut seakan tidak akan melepas jeratannya pada Alan.
Alan yang merasa gerah, mencoba melepaskan tangan Stella yang terus memeluknya.
Akibat Stella yang terus memancing Alan , permainan kedua pun akhirnya di mulai sudah. Cukup lama Stella dan Alan tengelam dalam permainan mereka, hingga tidak terasa waktu sudah berganti siang.
Alan menatap kosong langit-langit kamarnya, ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada istrinya. Tatapan matanya kini mulai sendu, singa buas itu kini mendadak galau.
Ia tidak habis pikir dengan apa yang ia lakukan bersama wanita yang ada dalam rumahnya. Pikirannya kacau, Alan merasa memikul dosa berat. Dengan kasar ia mengusap wajahnya.
Alan merutuki tindakannya, bagaimana bisa ia tergoda dengan seorang wanita. Sampai sejauh ini? Pria itu mengamati kamar yang amat berantakan. Pakaiannya berserakan di mana-mana, belum lagi seprai yang nampak acak-acakan.
__ADS_1
Di dalam kamarnya seperti baru saja terjadi sebuah perang besar. Bila hal itu terjadi bersama istrinya, pasti raut wajahnya nampak puas. Namun, kali ini nampak jutaan penyesalan terukir dalam raut mukanya.
"Siapa namamu?" tanya Alan. Kata kata Alan memecah kesunyian diantara keduanya.
"Stella,"
"Boleh aku menanyakan satu hal?"
"Silahkan!"
"Apa pekerjaan mu?"
Deg, jantung Stella langsung terasa berhenti. Ia tidak pernah malu atas pekerjaan dirinya selama ini. Namun, pertanyaan dari Alan terasa menusuk sebelum ia berhasil menjawabnya.
Stella sadar, ia hanya wanita penghibur. Namun, entah mengapa kali ini dirinya merasa sakit hati ketika Alan bertanya tentang pekerjaan dirinya.
Stella hanya diam, tiada satu kata apapun yang keluar dari bibir manisnya.
Melihat lawan bicaranya hanya diam tanpa suara, Alan kembali menanyakan hal yang sama.
"Mungkinkah kau seorang wanita penghibur?" tebak Alan dengan amat tenang. Tanpa rasa terkejut, sepertinya Alan sudah menduga wanita yang ia tolong bukanlah wanita baik-baik.
Hati Stella semakin terbakar, aneh sekali. Ribuan caci maki sanggup ia tahan, namun tidak untuk kali ini.
Tiap kata yang keluar dari mulut Alan mampu membuat jantungnya berhenti sejenak. Stella menggengam tangannya, kuku-kukunya mencengkram telapak tangannya yang lembut. Ia merasa marah, dengan pandangan mata yang tajam ia melirik Alan.
Stella seakan sakit hati karena Alan sudah memandang dirinya sebelah mata, setelah apa yang sudah mereka berdua lakukan. Stella merasa begitu kecewa dengan sikap Alan.
Apakah yang akan dilakukan Stella selanjutnya?
bersambung
__ADS_1
Hallo para pembaca, jangan lupa dukung author ya.. Like, Komen, Vote ... Dukungan kalian sangat berarti bagi author
Terimakasih