
"Maaf Mas," ucap Sora dengan mata yang masih berkaca kaca. Bulir bening itu masih meninggalkan noda basa pada pipi dan ujung dagunya. Namun, deras air mata Sora tak seberapa jika dibanding luka hati yang ia goreskan dalam hati suaminya.
Alan yang masih dalam pengaruh alkohol, ia merancau tidak karuan.
"Suruh pria brengse* itu kemari, suruh dia kemari, sekarang," murka Alan di tengah mabuknya.
Sora kembali memeluk suaminya, ia menengelamkan kepalanya dalam pangkuan Alan. Sora dengan rasa sesalnya yang sudah terlambat, memohon pengampunan dari sang suami. Berharap Alan memaafkan dirinya.
Malang bagi Sora, karena Alan menghempaskan tubuhnya. Sora tersungkur di lantai, tidak jauh dari tempatnya semula. Tangis wanita itu semakin menjadi, ia merintih bersama rasa bersalah yang terus mengikuti.
Alan begitu terhenyak ketika sadar dengan apa yang ia lakukan. Pria itu dengan sempoyongan berdiri mendekati sang Istri.
"Ra...," ucapnya lirih. Meski ia sangat marah, Alan tetap tak kuasa menatap istrinya yang ia lempar barusan. Menyesali apa yang ia perbuat, Alan pun mendekati Sora. Memeluknya dengan erat.
"Akan ku buat perhitungan dengan pria sialan itu," bisik Alan di telinga Sora.
Sora seketika itu menajamkan kedua bola matanya, ia terkejut sekaligus takut. Apa yang akan dilakukan suaminya pada Ferry?
"Aku tidak akan menemuinya, aku janji," imbuh Sora, ia tidak ingin hal buruk menimpah dua orang pria yang ia sukai.
Sora di depan Alan berjanji tidak akan menemui Ferry lagi, lalu percayakah Alan pada istrinya? Tidak!
Mata Alan menyalah, rasa marah bercampur pengaruh alkohol membuatnya lepas kendali lagi.
Alan bangkit dengan sisa sisa kekuatan yang ia punya, ia menyeret pergelangan tangan istrinya dengan kasar. Hingga wajah Sora menyiratkan sebuah rintihan tanpa suara. Wanita itu hanya menahan sakit, tanpa bisa mengutarakannya. Ia tidak berani mengeluh akan sakitnya cengkramannya tangan suaminya. Ini semua tidak sebanding dengan perbuatan dirinya. Dia sadar betul, bahwa dirinya salah.
Alan terus menyeret tangan istrinya menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, dengan kekuatan penuh ia membanting pintu kamarnya.
Sora yang menyaksikan kejadian tersebut, bergidik ngeri. Ia bisa merasakan bola api yang ada dalam mata suaminya. Sora yakin, sebentar lagi dirinya akan terbakar.
Benar, apa yang ada dalam benak Sora. Karena saat ini suaminya menyeret dirinya ke dalam kamar mandi. Dengan kesal, Alan menceburkan istrinya ke dalam bathtub yang kosong tak berair.
__ADS_1
Alan yang masih setengah mabuk, menyalakan keran air nya. Ia menyiram tubuh istrinya bagai tanaman. Seperti mawar, indah tapi berduri. Alan kini tengah terkena duri-duri dari mawar yang telah ia tanam. Dan ia kini sudah gelap mata, Alan dikuasai oleh cemburu butanya.
Puas sudah membasahi Istrinya dengan air, kini Alan kembali melakukan aksi gilanya. Ia dengan paksa, melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuh istrinya. Begitu tidak ada yang melekat pada tubuh Sora, kini giliran dia yang tersungkur oleh kenyataan pahit yang ia lihat.
Begitu banyak tanda asing dalam tubuh istrinya, dan itu jelas bukan perbuatan dirinya. Alan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menangis dalam kekecewaan.
Sora hanya bisa terdiam, menikmati tiap bayaran dari apa yang sudah ia kerjakan. Rasa dingin yang menyerangnya, tidak begitu terasa. Dadanya begitu sesak, ia sudah kehabisan air mata. Hal yang paling membuat dadanya sesak bukan karena tindakan Alan padanya. Namun melihat Alan yang kesakitan karena ulahnya, jauh lebih menyakitkan baginya.
Semua rasa sesalnya sudah tamat, semua sangat terlambat, sudah banyak hati yang menjadi kepingan. Mungkin akan sulit menyatukan kembali seperti semula.
"Apa pria brengse* itu yang melakukannya?" tanya Alan dengan sorot mata yang mematikan.
Sora tidak berani menjawab, ia hanya bisa menundukkan kepalanya jauh lebih dalam.
"KATAKAN!!!" teriak Alan, hal itu sukses membuat Sora mengangkat dagunya.
Tubuh Sora bergetar hebat, ia sudah semakin ketakutan. Andai waktu bisa ia putar, Sora ingin lari dari kenyataan.
Karena istrinya hanya diam saja, Alan mendekat dan tangannya mencengkram kedua pundak Sora.
Sora hanya bisa menangis sesengukan, ia merintih kesakitan. Karena Alan berkali kali mencengkram dirinya. Pergelangan tangan Sora masih terlihat bekas cengkramannya dari suaminya. Begitu pula kini pundaknya, tetasa sakit karena Alan menekannya cukup kuat. Pria tersebut benar-benar sudah dirasuki iblis jahat.
Alan semakin emosi, ia mengambil ember dan menyiram istrinya berkali kali. Tangannya meraih sabun cair dan menyemprotnya di sekujur tubuh Sora. Alan seolah ingin membersihkan tubuh istrinya yang kotor karena di jamah pria lain.
Dengan kasar ia mengosok semua bagian tubuh istrinya, Sora tak banyak bicara. Ia sudah pasrah menerima hukumannya. Hukuman karena telah berani berselingkuh di belakang suaminya.
Alan mengosok semua tanda pada leher Sora, meski ia gosok berkali-kali tanda itu tak luntur jua. Malah semakin membekas melebar. Karena ia mengeseknya cukup kasar. Kini malah kulit putih Sora, menjadi merah menyala semua. Mungkin kulit Sora sebentar lagi akan iritasi, hingga nanti ia akan butuh kaladine cair guna mengobati ruam ruam merah, jejak baru yang Alan tinggalkan.
Alan semakin memanas, ia menjadi hilang akal karena menyaksikan bekas kecupan yang Ferry tinggalkan pada tubuh istrinya.
"Shiiiit...," Alan berkali-kali mengumpat kesal. Tangannya mulai mengepal. Ia tidak akan memukul istrinya. Sebesar apapun ia marah pada Sora, ia tidak akan meluncurkan bogem mentah pada istri tercintanya itu. Tidak ada pilihan lain, untuk melampiaskan rasa marahnya, akhirnya Alan hanya bisa memukul dinding kamar mandinya.
__ADS_1
Berkali-kali Alan mendaratkan pukulan ke dinding kamar mandi. Sora yang melihat kelakuan suaminya, langsung bangkit dari bathtub. Tanpa sehelai benang apapun yang menutupi tubuhnya, Sora berlari menghampiri suaminya.
Sora memegangi tangan Alan, dengan kuat ia berusaha agar Alan menghentikan perbuatan yang hanya menyakiti dirinya sendiri.
"Hentikan!! Aku yang salah, aku yang salah...," rintih Sora sembari tangannya tetap memegang Alan dengan erat.
Alan tak bergeming, ia seolah tidak percaya dengan buaya betina tersebut.
Alan menghempaskan tangan Sora, hingga istrinya kembli terhenyak.
"Mari kita pindah, aku tidak akan bekerja. Aku memang salah.. aku tidak akan menggulanginya," mohon Sora seraya memeluk kaki suaminya.
Ternyata apa yang dilakukan Sora ada efeknya juga, karena setelah kata-kata yang keluar dari bibir manisnya, Alan nampak sedikit tenang. Mungkin karena ia juga merasa lelah. Amarahnya sudah menguras habis semua tenaganya.
Alan memungut tubuh Sora yang masih memeluk kakinya.
Wahai perempuan ku, bukan disitu letakmu. Harusnya kamu ada disini. Alan memegang dadanya. Disinilah tempatmu seharusnya, rasa marah telah membutakanku. Bila bisa waktu aku putar, tak ingin aku menyakitimu walau seujung kuku. Suara hati suami Sora.
Alan merangkul tubuh istrinya yang mulai mengigil, ia mulai tersadar. Ia pun mengambil handuk untuk menutupi tubuh Sora yang sudah kedinginan. Alan membopong tubuh istrinya keluar kamar mandi.
Pikiran pria itu sudah sedikit waras, puas sudah ia melampiaskan semua amarahnya. Kini tinggal memperbaiki sayap-sayap yang terlanjur patah. Besar harapan bagi keduanya memulai semua dari awal di tempat yang berbeda.
Alan dan Sora berencana meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan buruk ini. Keduanya akan memulai semua dari awal, meninggalkan jejak masa lalu yang penuh dengan noda hitam.
Lantas kemanakah kapal Alan dan Sora akan kembali berlayar? Akankah godaan demi godaan akan menghilangkan begitu saja? Ataukah akan ada badai besar yang menanti keduanya di tempat baru mereka?
Bersambung
***
Hallo Para Pembaca dan Author kesayangan jangan lupa pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya..
__ADS_1
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author.
Jangan bosan-bosan dukung author ya Terimakasih 🍒