Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Pertemuan Pertama


__ADS_3

"Apa betul ini dengan Mas Alan?" suara lembutnya kembali mengalun indah di telinga Alan.


"Iya, ini dengan saya sendiri!" mata Alan menyisir pemandangan di sekitar bandara, seolah ia sedang mencari seseorang.


"Mas Alan, ini saya putri Bapak Danu. Rencananya saya mau jemput Mas Alan dan istri Mas. Tapi mobil saya kebetulan mogok di tengah jalan. Bagaimana ini Mas?"


Alan seketika itu langsung menoleh pada istrinya, ia menatap Sora dari jauh. Kasian juga istrinya, perjalanan di atas awan membuatnya lelah. Belum lagi dari kemarin Sora sibuk mengemas semua barang mereka. Dari pada menunggu yang tidak pasti. Alan memutuskan untuk naik taksi.


"Ya sudah, tidak masalah. Kami berdua akan pesan taksi saja. Dan tolong kirimkan alamat lengkap ke nomor ini," pinta alan seraya mendekati Sora yang duduk dengan pandangan mata yang kosong.


"Baik Mas, maaf banget Mas gak bisa jemput," anak Pak Danu merasa tidak enak hati sendiri. Harusnya ia menyambut tamu dari kota besar itu. Bukannya malah membuat mereka terlunta lunta di tengah bandara.


"It's okay, tidak apa-apa," Alan pun mematikan ponselnya.


"Ra, Kita naik taksi ya," ucap Alan sembari menyentuh pundak istrinya.


"Bukannya kita akan dijemput Pak Danu?" wanita itu memincingkan matanya, tatapan matanya seakan menanti jawaban dari sang suami. Ada apa gerangan, sampai ia harus naik taksi.


"Pak Danu lagi repot dan harusnya putrinya yang mengantikan beliau. Tapi di tengah jalan mobilnya mogok,"


"Oh.. Ya sudah, ayo kalau begitu," Sora bangkit dari tempat duduknya, ia menyeret koper yang ia bawa, diikuti oleh Alan yang membawa koper dengan ukuran yang lebih besar.


Keduanya kini sudah di dalam taksi, baik Sora maupun Alan hanya diam disepanjang perjalanan. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah mendapat pesan singkat dari putri Pak Danu, Alan langsung memberian alamat lengkap rumah yang akan ia tinggali pada supir taksi. Sebuah hunian baru dengan harapan baru. Mereka berdua berharap bisa memulai kembali, menata kepingan hati yang sempat hancur dan berserakan.


Tidak terasa satu jam pun berlalu. Akhirnya Pasangan suami istri ini sampai juga di rumah baru mereka. Alan menurunkan semua barang bawaanya dengan dibantu Bapak supir. Semua barang di letakkan tepat di teras rumahnya.


Sebuah rumah yang minimalis, berbeda jauh dengan rumah tempat tinggalnya semula. Alan dan Sora berhrap rumah ini menjadi penghangat bagi hubungan mereka berdua. Tidak peduli besar atau kecilnya sebuah rumah yang akan ditempati. Yang paling penting adalah suasana yang terbangun di dalam rumah tersebut.


Karena merasa benar-benar sangat lelah, Sora langsung duduk di sebuah kursi di teras rumah barunya itu. Kursi kecil yang terbuat dari rotan.


Sementara suaminya, sibuk menelepon Pak Danu. Ia hendak menanyakan perihal kunci rumah tersebut.


"Hallo Pak, ini saya sudah sampai di depan rumah."


"Loh, kuncinya kan ada pada Mariana putri saya. Apa dia tidak membawanya? Tadi padahal sudah saya ingatkan berkali-kali, jangan sampai ketingalan," tutur Pak Danu dengan panjang kali lebar.

__ADS_1


"Itu Pak, begini. Tadi mobil putri Bapak mogok di tengah jalan sebelum sampai menjemput kami di bandara. Jadi akhirnya kami naik taksi untuk kemari."


"Waduh, sebentar-sebentar. Tunggu Saya ya.. Akan kubawakan kunci cadangan," Pak Danu langsung meninggalkan ruang kerjanya. Sebuah kantor kecil yang hanya memiliki segelintir karyawan.


"Bagaimana Mas?" sepertinya Sora mulai jengah dari awal sampai bandara disuruh terus menunggu.


"Sabar ya Ra, Pak Danu sedang kemari,"


Hampir setengah jam Alan dan istrinya terlunta lunta menunggu di teras rumah yang masih tertutup rapat itu. Keduanya sedang menanti kehadiran Pak Danu yang membawa kunci rumah untuk mereka.


Tin..Tin.. Bunyi sebuah klason membuyarkan acara menunggu mereka. Keduanya langsung menatap kehadiran mobil yang masuk ke halaman rumah baru mereka.


Seorang pria paruh bayah keluar dari dalam mobil yang kelihatan sudah tua. Mobil dan sang pengendara sama sama tua, batin Sora.


Pak Danu menyambut keduanya dengan senyum ramahnya yang khas layaknya senyuman orang tua kebanyakan.


Mereka berdua menjabat uluran tangan pak Danu.


"Wah, sudah lama tidak bertemu. Kamu masih tetap gagah seperti dulu Lan," canda pak Danu sembari menepuk pundak juniornya itu.


Alan hanya tersenyum menangapi gurauan pak Danu.


"Pasangan serasi, yang satu ganteng yang satu cantik. Bapak jadi penasaran, nanti hasilnya seperti apa."


Mendengar kata-kata yang keluar dari pak Danu, rasanya tubuh Sora ingin merosot lemas. Belum apa-apa, di tempat yang baru sudah membahas perkara anak dengannya. Ingin rasanya Sora lari dari kenyataan yang pahit itu.


"Mari masuk!" ajak Pak Danu seraya membuka pintu rumahnya yang kini akan ditingali oleh Sora dan Alan.


Alan pun memasukkan semua barang yang ia bawa ke dalam rumah dan Pak Danu juga membantu membawakannya.


Sora menyusuri ke seluruh penjuru ruangan, semua terlihat bersih dan rapi. Mungkin tidak sebesar rumahnya. Namun entah mengapa, setelah menginjakkan kakinya untuk pertama kali. Ia seolah merasa sesuatu yang tidak biasa, mungkin rumah ini akan menjadi permulaan yang baik untuk rumah tangganya yang sempat digoyang badai dan ombak perselingkuhan.


"Bagaimana Ra? Suka rumahnya?" tanya Alan pada istrinya tanpa peduli si pemilik asli masih berada disana menatap mereka berdua.


"Suka Mas," jawab Sora dengan senyum tulus yang tergambar di sudut bibirnya.


"Syukurlah,"

__ADS_1


Tidak ingin menganggu waktu istirahat pasangan suami istri tersebut, Pak Danu hendak pamit untuk meneruskan pekerjaannya kembali.


"Ya sudah, Bapak pergi dulu. Misalnya ada yang perlu dibantu, langsung hubungi Bapak ya. Insyaallah kalo Bapak bisa, pasti Bapak bantu,"


"Terimakasih Pak, maaf merepotkan." tutur Alan sambil memeluk tubuh pria paruh bayah tersebut.


Pak Danu baru berjalan sampai bibir pintu, tiba tiba ada sebuah mobil yang masuk halaman rumah itu.


Setelah mobil tersebut terparkir rapi di samping mobil Pak Danu, si pengendara langsung keluar dari balik kemudinya. Seorang gadis keluar dari balik pintu mobil. Tinggi badanya jauh lebih tinggi dibanding Sora, usianya juga masih berkisar dua puluhan. Sebuah usia yang keemasan, bagi seorang wanita. Itu adalah usia dimana seorang wanita mulai mekar dan sedang indah-indahnya.


Mariana berjalan mendekat ke arah Ayahnya, sebuah senyuman meluncur dari bibirnya yang merah jambu itu. Rambutnya yang ia cat pirang tertiup angin, ia berjalan dengan anggun. Sesekali ia menyibak rambut depannya. Gerakannya sama persis seperti bintang iklan untuk shampoo di layar kaca.


Bila diamati cukup jelas, ia memang mirip seperti bintang iklan yang beraliweran di televisi. Sekilas Mariana memang mirip dengan pasangan duet Sarasvati tersebut.


"Nah, itu dia putri Bapak," ucap Pak Danu sembari memeluk putrinya untuk dikenalkan pada Alan dan Sora.


"Mariana, panggil saja Riana," gadis itu mengulurkan tangannya pada Alan.


Alan dengan senyum yang ramah menyambut uluran tangan dari putri Pak Danu.


"Alan,"


Setelah jabat tangan pertama itu, Alan masuk ke dalam rumah. Ia mencari Sora yang ternyata ada di dalam kamar mandi.


"Ra," Alan mengetuk pintu kamar mandi.


"Ada apa Mas?"


"Ini ada putrinya Pak Danu,"


"Iya, tapi perut Sora lagi mules Mas. Sampaikan saja salam untuknya.


Alan pun menghampiri Pak Danu beserta Mariana.


"Istri saya masih di kamar mandi," jawab Alan sembari mengaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Mungkin ada uban atau ketombe di balik sana.


Bersambung

__ADS_1


***


Hai Para Pembaca dan Author kesayangan jangan bosan-bosan dukung author ya. Jangan lupa jejak, Pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya. Dukungan kalian sangat berarti bagi author. Terimakasih... Salam paling hangat dariku 🍒


__ADS_2