Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Marahnya Seorang Pendiam


__ADS_3

Raut wajah Sora panik seketika, ia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia harus mencari cara, pokonya jangan sampai Alan curiga. Biarpun tidak memiliki keturunan dengan Alan, Sora masih mencintai suaminya tersebut. Dengan Ferry, ia hanya main-main. Sora tidak pernah serius dengan asmara yang terlarang itu. Selama ini ia hanya mengikuti hasratnya yang sesaat.


Sekarang Sora sedang mencari cara untuk menyamarkan bekas hisapan itu, ia pun keluar dari kamar mandi. Wanita itu mengambil tas yang tergeletak di meja kamar Ferry.


"Loh, cepet banget!" tutur Ferry yang melihat Sora keluar dari kamar mandi miliknya.


"Ada yang harus aku bereskan," ucap Sora sekilas, ia menyambar tas miliknya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi kembali.


Sora mengeluarkan semua isi dalam tasnya di atas wastafel, ia sedang mencari alat untuk menutupi stempel di sukujur lehernya. Satu persatu ia menatap benda yang semula berada dalam tas miliknya. Yes, ucapnya dalam hati. Untunglah ia selalu membawa foundation, essence cream dan bedak kemana-mana. Sora merasa terselamatkan dengan kehadiran alat kecantikan yang selalu menyertai kemanapun dia berada.


Sora buru-buru membilas mukanya dengan air keran yang mengalir. Tidak lupa ia menggunakan facials foam untuk wajahnya agar lebih bersih seketika. Kali ini tangannya dengan terampil, menutup setiap tanda stempel dengan foundation yang ia miliki.


Berkali-kali ia memoles tanda yang masih memerah itu. Ini karena kulitnya yang bersih, membuat tanda tersebut begitu kentara di sekujur lehernya. Sora dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewatkan oleh dirinya. Kali ini ia berperan bak sebagai make up Artis professional, dengan lihai ia menutupi semua barang bukti yang Ferry tinggalkan.


Setelah hampir setengah jam ia bergelut dengan barang bukti yang terpatri di lehernya, kini Sora bisa bernapas lega. Dengan bangga ia menatap hasil karyanya lewat kaca. Ia merasa puas dan tenang, kini ia bisa pulang dengan aman dan selamat.


"Lama sekali, katanya tadi gak mau mandi?" kata Ferry sembari memakan bubur ayam yang ditinggalkan Mama Ida tadi pagi.


"Hemm.." Sora tak menangapi perkataan dari Ferry. Ia sibuk merapikan pakaian dan memasukkan semua barang-barang ke dalam tas. Setelah selesai semuanya, Sora pamit pada Ferry.


"Mas aku pulang ya," ucap Sora.


"Hemmm.. Hati-hati," Ferry memberi kecupan di kening Sora. Sebenarnya ia enggan melepas Sora. Namun, secara hukum ia akan kalah bila merebut Sora begitu saja. Pria tersebut akan berlapang dada, untuk kali ini ia akan bersabar. Sampai palu hakim diketuk di atas meja, ia akan sabar menunggu Sora jadi janda.


"Bye," Sora meningalkan kediaman rumah pacar gelapnya. Ia menatap ke atas, dilihatnya awan yang berarak di atas langit yang membumbung tinggi. Ingin rasanya ia terbang bebas, mengepakkan sayap-sayap nya. Sora menarik napas dengan dalam, rasanya ia terlanjur salah langkah.


Ditempat yang berbeda, Alan sudah kelihatan rapi. Suami Sora itu kini sudah terlihat segar dengan rambut yang masih basah. Hari ini ia sedang tidak ke kantor, ia beralasan sakit pada istrinya. Pada kenyataannya, ia hanya ingin mengintrogasi sang istri. Felling nya terlalu kuat untuk dapat di bohongi. Buaya kok dikadalin.


Di depan gerbang rumahnya Sora langsung turun dari mobil, ia hendak membuka pintu gerbang sendiri. Tidak tahunya Pak Dadang sudah siap membuka pintu untuk dirinya.


"Kapan datang Pak?" sapa Sora pada pria paruh baya yang sudah lama mengabdi pada keluarganya.


"Beberapa waktu yang lalu," jawab pak Dadang seraya membuka pintu gerbangnya lebih lebar.


"Gimana Ibuk?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat, sudah mendingan," seutas senyum tergambar pada wajah pak Dadang, wajah yang penuh dengan kerutan di dahi dan pipinya. Rambut nya pun hampir beruban sebagian.


"Syukurlah. Ya sudah, saya masuk dulu Pak," Sora melangkah perlahan ke dalam rumahnya. Ketika sampai di depan pintu, ia mengintip ke dalam. Sora mengendap-ngendap masuk rumahnya sendiri. Ia tak jauh beda dengan maling kotak amal masjid, matanya kesana kemari memeriksa adakah orang yang melihat dirinya.


Setelah dirasa cukup aman, wanita itu langsung masuk kamarnya. Sora mungkin lupa, Alan tadi sudah bilang jika dirinya tidak ke kantor.


Suasana mendadak senyap, ketika Alan menatapnya dengan dalam.


"Eh Mas," sapa Sora. Ia menjadi salah tingkah menghadapi suaminya.


"Bagaimana kondisi teman mu?" pancing Alan.


"Sudah membaik," ucap Sora sembari memancarkan senyum yang nampak dipaksakan.


"Mas katanya gak enak badan, ayo ke rumah sakit," bujuk Sora, ia sedang mengalihkan perhatian suaminya.


"Karena kamu sudah pulang, sakitnya hilang,"


Sora hanya nyengir, ia tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tak tahu harus berkata apa. Kembali lagi ia memasang senyum palsunya.


"Ya sudah Mas, aku siap-siap dulu. Aku mau berangkat kerja,"


"Gak Mas. Aku masuk kok, tapi sedikit telat. Aku udah ijin tadi dan hari ini gak bisa bolos, ada rapat akhir tahunan yang diikuti sama kepada cabang," tutur Sora.


"Ya sudah, aku mau ke tempat ibu. Aku antar sekalian ya?" tawar Alan.


"Oke!" jawab Sora, ia pun bersiap-siap.


Alan menatap punggung istrinya dengan pandangan yang penuh arti, sesuatu sedang terselip disana. Entah apa yang suami Sora pikirkan saat ini.


Beberapa saat kemudian, Sora sudah siap. Ia sudah rapi dan siap berangkat bekerja.


"Ayo Mas!" ucapnya ketika melihat Alan duduk termenung di teras rumah.


Alan sedang mengamati mawar merah yang telah mekar di taman bunganya.

__ADS_1


"Cantik, namun penuh duri," ujar Alan.


Sora yang mendengar kata-kata dari suaminya seketika itu langsung diam. Apa Alan sedang menyindir dirinya?


Alan saat ini sedang memperhatikan penampilan istrinya. Ia menatap pakaian Sora dari atas sampai bawah.


"Apa tidak gerah? memakai pakaian musim dingin seperti itu?" tanya Alan penuh selidik.


"Enggak, gak gerah kok. Enak banget malah, hangat. Sepertinya aku masuk angin, karena terlalu lama tidur di rumah sakit, AC nya kencang banget," tutur Sora. Ia bersikap senormal mungkin, agar Alan tidak curiga terus menerus.


"Ya sudah, ayo berangkat,"


Baik Sora maupun Alan kini sudah di dalam satu mobil. Suasana kaku tergambar jelas di dalam sana. Alan hanya diam menatap kedepan.


Dalam hati Sora, ia yakin betul ada yang menganggu pikiran sang suami. Wanita itu sudah hafal betul dengan sifat suaminya. Jangan-jangan Mas Alan mengetahui ia telah berselingkuh, namun Sora menepis semua rasa curiganya. Mungkin suaminya lelah, batin Sora. Ia berusaha mengusir semua pikiran buruknya.


Sepanjang perjalan sampai depan kantor, Alan hanya diam tanpa suara.


"Mas aku masuk dulu ya," ucap Sora.


"Aku jemput jam berapa?"


"Jam Lima Mas,"


"Masuklah," ucap Alan dengan dingin.


Sora masuk ke dalam kantornya, ada persaan aneh yang ia rasakan. Sora bergidik ngeri, ia takut hal yang ia takutkan segera terjadi.


Alan mencengkram kemudinya, sorot matanya menajam. Ia seperti menahan kemarahan dalam dirinya. Sebenarnya ada apa dengan suami Sora? Hingga ia nampak marah, namun ia sembunyikan dari istrinya.


Bersambung


***


Hai Para Pembaca dan Author kesayangan jangan bosan-bosan dukung author ya 🍒

__ADS_1


Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Jangan lupa Tekan tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya...


Terimakasih untuk dukungan kalian semua ❤🍒


__ADS_2