
Seorang Pria tampan keluar dari mobil, sebuah senyum mengalir begitu saja menyapa wanita yang paling ia rindukan. Wajahnya menyiratkan sebuah kepuasan, akhirnya ia menemukan kepingan hatinya yang berlayar.
Pria dengan setelan jas itu berjalan perlahan, dengan langkah pastinya ia mendekati Sora yang sudah gemetaran. Bukan karena Sora belum sarapan atau Sora jatuh cinta. Ia gemetaran karena takut pada sosok yang berjalan mendekat ke arahnya.
Wajah pria itu bukannya seram seperti setan, hanya saja menatap bayang wajah tersebut mampu memporak porandakan hati Sora dengan seketika. Kakinya seakan lemas menyaksikan pria gagah itu semakin mendekat.
"Sora," ucap pria tersebut dengan suara yang berat namun sangat lembut caranya mengucapkan.
Ferry langsung menengelamkan wajah Sora tepat di dadanya yang bidang. Ia seperti baru menemukan oase dalam hatinya setelah berkelana cukup lama di gurun Sahara.
"Aku merindukan mu," ucap Ferry sekali lagi, ia seperti bertemu kekasih hatinya yang telah lama pergi. Ia memeluk erat tubuh Sora pujaan hatinya itu. Rasanya ia tidak akan melepas Sora.
Sora sendiri tidak bisa berkata-kata, tubuhnya sudah lemas dalam dekapan Ferry. Ia seperti tidak punya kekuatan untuk mendorong pria yang telah memeluknya dengan hangat itu. Atau jangan jangan Sora menikmati dekapan hangat yang Ferry tawarkan untuk dirinya.
Setelah cukup puas memeluk tubuh Sora. Ferry menarik pergelangan tangan wanita pujaan hatinya itu, Sora mulanya melawan. Sora mencoba menarik tangannya dengan kuat, namun tenaganya kalah jauh dibanding Ferry yang bertubuh besar dan kekar itu.
Cukup mudah bagi Ferry menaklukkan tubuh Sora yang mini. Tidak perlu banyak tenaga, Sora sudah berada dalam kuasanya.
"Ikutlah bersamaku sebentar, apa kamu mau melihat orang orang menyaksikan Kita?" ancam Ferry.
Dengan berat hati, Sora pun mengikuti langkah Ferry menuju mobil yang sudah parkir di halaman rumahnya. Sora bahkan belum sempat mengunci pintu rumah, Ferry begitu memaksa dirinya. Hingga ia tidak sempat mengunci pintu rumahnya.
Ferry dengan sigap memasang sabuk pengaman di pinggang Sora, membuat wanita tersebut merasa tidak nyaman.
Setelah selesai memasang sabuk pengaman untuk Sora, kini ia sendiri memasang sabuk di pinggangnya.
"Kita mau kemana?" akhirnya Sora membuka suara.
"Aku tidak akan menculikmu Sora, apa kau sudah membaca email dariku?" pertanyaan yang keluar dari bibir Sora di balas pertanyaan oleh Ferry.
Sora tidak menjawab, namun ia menganggukkan kepala dengan pelan.
"Semua?" Ferry menatap wajah Sora sesaat karena ia juga sedang fokus mengendarai mobilnya.
__ADS_1
"Hemmm.." gumam Sora tanpa menatap pria yang duduk di sampingnya.
"Kamu takut padaku, Sora?" Kini Ferry menepikan mobilnya di bibir jalanan yang nampak sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Ini jauh dari hiruk pikuk jalanan Ibu kota yang besar.
Sora yang sedari tadi mendapat tatapan penuh harap dari Ferry tidak lagi mampu bersuara, hatinya kembali teringat dengan janji yang ia ucapkan pada Alan. Bila Sora bisa, ia ingin lari yang kencang menjauh dari laki laki yang kini menatap dirinya dengan dalam.
Wajah sendu itu seakan mengadu, Ferry perlahan memegang punggung tangan wanita yang sudah sangat ia rindukan. Kini ia enggan bertanya dan mengeluarkan suara. Cukup kebisuan menjadi alunan yang tak terdengar di ruang dengar mereka.
Masing-masing tengelam dalam lamunan yang mereka ciptakan. Haruskah Ferry menyerah dan mengaku kalah? Tentu tidak, ia bukan Ferry yang dulu. Yang hanya mampu menahan cinta dalam diam. Ia bukan pria pengecut yang lari dari perasaan yang ia rasakan.
Sampai titik darah penghabisan, ia akan memperjuangkan perasaan cintanya kepada Sora. Terima atau tidak, ia tidak akan mundur dan mengalah pada Alan.
"Ra," Ferry kembali menyebut nama Sora, tangannya masih mengengam tangan Sora yang halus dan lembut itu.
"Apa kita mati saja?" tambah Ferry, pandangan matanya menatap kosong ke depan. Sebuah mini bus sedang melaju menuju arah mereka.
Sora tidak terkejut, ia tahu Ferry seperti apa. Pria yang dikenalnya pendiam itu memang cukup membuatnya terheran heran. Namun ia tahu betul, Ferry hanya asal bicara.
Tidak mendapat tangapan dari Sora, Ferry langsung memutar tubuhnya, hingga keduanya saling menatap dengan sempurna.
"Aku dengar!!! Aku dengar semuanya Mas!" Sora sedikit berteriak, masalahnya adalah ia sedang berada dalam posisi yang tidak enak. Ia terlihat prustasi menghadapi sikap Ferry saat ini.
"Kenapa nadamu meninggi Ra? Kamu marah sama Mas?" tidak mau Sora berteriak padanya, Ferry langsung mencengkram pergelangan tangan Sora.
"Bukannya Mas sudah membaca pesan yang aku tinggalkan, harusnya Mas paham. Bukannya malah mencariku sampai kesini!"
"Shittt.. Mudah sekali bagimu Ra? Kamu membuang ku dengan begitu saja seperti ini! Aku rasa ada yang salah pada dirimu!" mata Ferry yang dulu sendu kini menyiratkan kemarahan. Ia manatap tajam pada Sora bagai mata elang yang mengincar mangsanya.
"Iya, aku salah. Semuanya aku yang salah. Oleh sebab itu, tolong maafkan aku. Dan biarkan aku hidup bahagia bersama suamiku!"
"Kamu gila Ra!!! teriak Ferry.
"Aku memang gila!!! Makanya tinggalkan aku!! Mereka berdua saling berteriak, sama sama prustasi pada keadaan yang tidak mungkin menyatukan cinta terlarang keduanya.
__ADS_1
"Jangan harap aku akan melepasmu. Sampai ke neraka pun akan aku kejar!!! ancam Ferry dengan perasaan yang berapi api. Semoga mobilnya tidak terbakar. Karena dua orang yang ada di dalamnya sedang sama sama terbakar api amarah. Marah pada takdir dan kenyataan yang pahit bagi mereka berdua.
Sora membuang muka, ia memalingkan wajahnya membelakangi Ferry. Kini pandangan matanya menatap ke luar jendela mobil. Ia benar benar merasa tertekan dengan masalah yang ia buat sendiri. Seharusnya ia tidak berani bermain api. Kini ia harus merasakan rasa panas terbakar amarah Ferry.
"Antarkan aku pulang," pinta Sora kemudian.
"Tidak semudah itu!" rupanya pria itu masih menahan marah dalam dadanya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tuntut Sora, kini ia yang menatap tajam para pria yang bernah terbang ke awan bersama dirinya.
"Tinggalkan Alan, ikut denganku. Mari kita pergi ke tempat yang paling jauh!" pinta Ferry dengan tegas. Sepertinya ia serius dengan ucapannya.
"Maaf,"
Mendengar kata yang keluar dari bibir Sora, emosi Ferry langsung memuncak. Dengan paksa ia menarik bahu Sora.
Sora yang ketakutan bercampur marah, tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya sudah berkaca kaca, ia telah dilanda kegundahan yang berat.
"Kamu masih milih Alan?"
Bukannya menjawab, Sora hanya mengangguk. Semakin membuat amarah Ferry membuncah.
"Ya sudah!!! Kita mati sama-sama!"
Ferry langsung tancap gas, mobilnya melesat seperti Michael Schumacher yang sedang lomba balap. Di kepalanya hanya ada kemarahan, kekecewaan dan keputusasaan. Dari pada Alan yang mendapatkan Sora, ia pikir lebih baik ia mati bersama Sora.
Bersambung
***
Horee... setelah sekian purnama. Akhirnya bisa double up. Author terharu 😅✌✌✌
Jangan lupa dukung author ya 🍒
__ADS_1
pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya ♥
Semangat ❤