
Sebuah mobil merah terparkir di depan kediaman Alan. Seorang wanita seksi keluar dari dalam mobil tersebut. Kakinya yang jenjang keluar terlebih dahulu sebelum anggota tubuhnya yang lain. Rambutnya yang panjang tertiup angin, siapa yang memandang wanita itu mungkin akan jatuh hati padanya. Terutama bagi mereka para buaya darat, sudah pasti terlena oleh pesonanya. Sebuah lukisan hidup yang indah. Namun sayang minim ahlak, wanita berpakaian kurang bahan itu kini sedang asik mengintip di depan gerbang rumah Alan.
Matanya kesana kemari, ia ingin mengintip sang penghuni rumah. Namun aksinya gagal, karenan ada petugas keamanan kompleks yang sedang patroli. Di sekitar sana banyak aksi pembobolan rumah kosong akhir akhir ini. Na'as bagi Stella, karena ia dicurigai komplotan para pencuri dengan modus wanita pengoda yang seksi.
"Maaf, bisa tunjukkan identitas nya mbak?" tanya salah satu dari dua petugas patroli yang sedang berkeliling.
Jelas Stella merasa tersinggung berat. Karena para petugas memandang rendah pada dirinya.
"Yang sopan ya Pak, saya ini calon penghuni rumah ini," ucap Stella dengan kedua tangannya bertenger di pinggangnya yang ramping seperti berbie.
"Maaf kalau boleh tau, mbak kerabat atau siapanya pemilik rumah? karena setahu saya yang tinggal di rumah ini hanya Pak Alan beserta istrinya, bu Sora,"
"Saya istri mudanya," ucap Stella dengan percaya diri. Kontan membuat kedua petugas itu saling bertatap mata. Keduanya sama-sama tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Stella. Melihat dari pakaian yang dikenakan Stella, ia sudah mirip dengan pelakor di dalam sinetron. Petugas otomatis memandang dirinya dengan sebelah mata.
"Mari ikut kami mbak," pinta petugas satunya lagi. Ia bersikap lebih halus dan sopan. Mungkin ia tertarik dengan tubuh Stella yang terekspos kemana-mana. Tubuh Stella dibiarkan terbuka seperti gorengan yang di jual terbuka di tepi jalan tanpa penutup di atasnya.
Sungguh murah sekali nilai seorang Stella. Dengan gratis, para pria bisa menikmati tubuhnya yang dibiarkan tanpa penutup yang pas.
"Kalian jangan kurang aja ya! Saya ini calon penghuni rumah ini!" ucap Stella dengan ngotot
Namun, aksi brutalnya segera terhenti. Karena sebuah mobil melintas di depan mereka. Mobil itu terparkir tepat disisi mobil warna merah milik Stella. Seorang ibu-ibu keluat dari kursi penumpang.
"Bentar Pak, tunggu ya. Itu ada ribut-ribut, saya mau cek dulu," ucap ibu Alan pada Bapak supir yang mengantar dirinya.
Ibu berjalan mendekati Stella dan dua petugas keamanan. Wanita paru bayah itu penasaran dengan kerumunan yang ada di depan rumah putranya.
"Ada apa Pak kok ribut-ribut," tanya ibu. Karena sudah sering mengunjungi kediaman sang putra, para petugas sudah familiar dengan ibunda Alan tersebut.
"Ini bu, ada yang mengaku istrinya Bapak Alan," kata para petugas.
"Istri apa? Sora maksudnya?" Ibu masih tidak mengerti arah pembicaraan kedua petugas itu.
"Ibu siapa?" tanya Stella dengan lancang.
"Saya Ibunya Alan," ucap ibu dengan ketus.
Wajah Stella langsung berubah, ia memasang topeng rubahnya kembali. Di depan ibu Alan, ia bersikap semanis mungkin.
"Bu kenalkan saya Stella," wanita muda itu mengulurkan tangannya ke arah ibunda Alan.
"Stella siapa?" mata ibu menatap penampilan Stella dari atas sampai bawah. Ia terlihat tidak suka dengan wanita yang ada di depannya.
"Ibu tidak mengenalnya?" tanya petugas keamanan kompleks yang sedang patroli.
"Kenal apanya, saya aja baru pertama kali melihatnya."
__ADS_1
"Tapi, dia bilang istrinya Pak Alan," ucap petugas.
"Istri apanya, istrinya Alan ya cuma satu Sora itu. Yang tidak hamil hamil juga." Nada bicara Ibu mulai meninggi bila membahas keluarga putranya yang tak kunjung mendapat momongan.
"Mari mbak, ikut kami. Mbak harus memberikan keterangan di kantor kami,"
Melihat situasi yang tak menguntungkan, Stella ikut saja. Dengan berat hati ia meninggalkan kediaman Alan. Ia merasa kali ini bukan waktu yang tepat untuk datang ke rumah Alan. Sebab ibu dari pria yang ia incar, sepertinya tidak menyukai dirinya.
Stella mengikuti para petugas, sedangkan Ibu masuk ke dalam rumah. Ia ingin berjumpa dengan putra semata wayangnya.
"Alan.. Alan..." teriak ibu dari ruang tamu.
Alan yang sedang duduk santai sembari membaca koran, berdiri menghampiri sang Ibu.
"Gimana kabarnya Bu?" tanya Alan.
"Ibu baik baik saja. Ini ibu tadi belikan jamu buat kamu. Semoga cocok, agar kamu cepet punya anak,"
"Bu, jangan mulai lagi," ucap Alan dengan lirih.
"Hemmm.." Ibu meletakkan beberapa ramuan obat kuat untuk anaknya di atas meja. Minum sehari sekali ya, kalau mau tidur.
"Apa lagi kali ini, Bu?" Alan sudah merasa jenuh dengan Ibunya yang selalu memberikan dirinya ramuan obat kuat.
Ibu menghentikan kata-katanya, ia menuju meja dan mengambil air putih yang ada di atas sana.
"Tuh, mereka itu adek-adek ibu. Tapi sudah di panggil Nenek. Ibu kan juga ingin seperti itu Al,"
"Sabar dong Buk,"
"Sabar terus, sabar ibu rasanya sudah habis," ucap ibu sembari memakan kue kering yang ia bawa untuk Alan dan Sora. Ibu merasa kesal bila harus terus bersabar.
Alan engan menangapi sang Ibu yang selalu memperdebatkan hal yang itu-itu saja. Iama lama Alan pun bosan juga.
"Eh keman istrimu?" tanya ibu kemudian.
"Belum pulang Bu,"
"Pantas susah hamil, lah sepertinya sibuk banget itu istrimu." celetuk ibu, membuat Alan diam membisu.
"Eh Ibu sudah makan? Ayo makan, temeni Alan." Pria itu seolah-olah ingin mengalihkan perhatian ibunda yang tertuju pada kekurangan Sora.
"Ayo ibu juga belum makan," ucap ibu dengan semangat kalau diajak makan.
"Bentar, Ibu mau apa? aku pesankan GoFood dulu,"
__ADS_1
"Kok pesen dulu? Istrimu gak masak?" sepasang bola mata ibu menatap tajam, seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Sora kerja Bu, gak ada waktu buat masak-masak," Alan nampak membela Sora, karena sang istri kembali terkesan buruk di mata ibunya.
"Ibu sudah tidak habis pikir dengan pilihan mu, membiarkan Sora tetap bekerja membuat kalian susah punya anak. Kalian hanya bertemu saat sama-sama lelah,"
"Kasian kalau Sora malah tinggal di rumah bu,"
"Ah terserah lah, kamu memang gak pernah nurut kata Ibu,"
"Jangan gitu Bu, Alan tidak bermaksud begitu,"
"Sudah -sudah, cepet pesan makan sana,"
"Ibu mau makan apa?"
"Terserah, yang penting membuat perut ibu kenyang."
"Ya sudah, Alan pesankan nasi goreng mawut premium ya But,"
"Iya, terserah,"
Sedangkan di sudut tempat lainnya, Sora masih berjibaku dengan lembaran kertas yang ada di mejanya. Wajah lelah tergambar di paras ayunya. Perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh bunyi ponselnya.
"Belum pulang Ra?" suara Ferry di seberang telpon.
"Belum Mas," ucap Sora dengan malu-malu. Ia seperti ABG yang baru mengenal cinta.
"Masih lama? Aku sudah ada di parkiran."
Entah mengapa hati Sora mulai berdesir kembali. Jantung nya berdegup tak teratur, seperti ia baru selesai maraton mengelilingi lapangan. Suara Ferry seperti letupan kembang api bagi Sora, ah mungkin dia sudah mabuk cinta.
Sora langsung membereskan semua berkas yang berserakan. Ia akan melanjutkan pekerjaan nya besok lagi. Masih ada hari esok, hari ini ia tidak sabar bertemu dengan pacar gelapnya.
Sora mengecek kembali mejanya, setelah dirasa sudah rapi. Ia menyambar tas yang ada di sudut meja. Sora mengambil peralatan make up dari dalam tas nya, dengan lihai ia memoles bibirnya kembali agar terlihat lebih merona. Ia juga menaburkan bedak di kedua pipinya. Setelah selesai berhias ala kadarnya, Sora kembali berkaca. Entah mengapa hatinya dag dig dug... Saat akan menemui pria lain yang bukan suaminya.
Sora merasakan sensansi yang menantang dalam menjalani asmara rahasianya dengan Ferry. Adrenaline nya seakan terpacu, sebuah hubungan yang membuat dirinya bersemangat. Sebuah cinta terlarang yang membawa nikmat sesaat.
Bersambung
***
Hai para pembaca dan para author, tetap dukung author ya... 🍒 pencet tombol like, Komen, vote dan kasih bintang lima ya... Dukungan kalian sangat berarti bagi author. Terimakasih ❤
Peluk hangat dariku 🤗
__ADS_1