
Ting.. tung... Terdengar suara bel di rumah Ferry. Seorang wanita paruh baya berdiri setelah menekan bel, dengan membawa paper bag ditangannya. Ia adalah Mama Ida, pagi ini entah ada angin apa. Pagi-pagi Mama Ida sudah berkunjung ke rumah putranya.
Ting tung... Mama berkali-kali memencet Bel rumah Ferry. "Kemana si Ferry ini, mobilnya masih ada. Harusnya Ferry ada di dalam rumah. Ini juga masih pagi srkali, mungkin dia masih tidur ya...?" ucap Mama Ida pada dirinya sendiri.
Dengan keyakinan bahwa putranya masih tidur, Mama Ida tidak henti-hentinya bermain bel rumah Ferry.
Ting... tung..
Ting... tung..
Ting... tung..
Mendengar bunyi bel berkali-kali, akhirnya dua insan yang melakukan ritual sepanjang malm tersebut, bangkit dari alam mimpi mereka. Ferry yang pertama kali membuka ke dua bola matanya, ia lantas memeluk tubuh Sora. Terasa hangat, ada rasa tidak percaya. Begitu ia membuka mata, ada Sora di sisinya.
Ting...tung.. Ting tung... Mama Ida tidak merasa lelah, sedari tadi ia memainkan Bel rumah Ferry.
Ferry yang mendengar keributan di luar rumahnya, kini berdiri. Ia meningalakan Sora untuk melihat ke depan. Siapa pagi-pagi menganggu suasana hangatnya saja. Sebelum benar-benar beranjak keluar kamar, Ferry terlebih dahulu menyelimuti tubuh Sora.
"Siapa Mas?" tanya Sora, ia ternyata sudah bangun.
"Aku lihat dulu, kamu di sini saja. Jangan keluar ya!" pinta Ferry pada Sora yang tampak acak-acakan. Rambut Sora semrawut, ia seperti habis tertiup angin badai Katerina. Selepas kepergian Ferry dari kamar. Sora langsung mengenakan semua pakaiannya.
Kemudian ia pergi ke kamar mandi. Seluruh badannya terasa gerah. Sepertinya semalaman ia sudah mandi keringat berulang-ulang. Sora pun menyalakan keran air nya. Begitu air menyirami seluruh tubuhnya, Sora sempat terdiam. Ia kepikiran atas perbuatan yang ia lakukan dengan Ferry.
Ada sebuah perasaan takut, bagaimana bila sampai Alan suaminya mengetahui ulah seeing nya? Sora merasa ketakutan sendiri. Rupanya, guyuran ai membuat Sora sedikit tersadar. Namun nasi sudah menjadi bubur, ia sudah bermain api. Tinggal menunggu waktu, kapan api itu akan membakar dirinya.
Di depan rumah Ferry, dengan hanya mengenakan celana pendek Ferry mengintip lewat jendela rumahnya. "Shitt....," Ferry langsung berlari ke kamarnya. Jangan sampai Mamanya tahu, Sora menginap semalam. Bisa-bisa impian dirinya yang ingin menikahi Sora terhalang restu sang Mama. Mama Ida sudah tidak suka dengan Sora yang masih Istri orang. Jika Mama mengetahui Sora bermalam bersamanya, maka Mama akan memandang rendah pada wanita yang ia sukai itu.
Begitu masuk kamar, Ferry mencari keberadaan Sora. Di atas ranjang hanya ada selimut, Sora sudah tidak ada di sana. Begitu mendengar gemricik air dalam kamar mandi. Ferry langsung mengetuk pintu kamarnya.
"Ra.. Soraa..!" pekik Ferry yang sedang panik, ia tidak ingin Mama nya bertemu Sora di saat yang kurang tepat seperti ini. Rencananya akan hancur jika sampai itu terjadi.
"Iya.. " jawab Sora, dengan handuk yang masih membelit di tubuhnya. Sora membuka pintu kamar mandi yang terus diketuk oleh Ferry.
Melihat Sora seperti ini, meskipun dalam situasi yang genting. Ferry masih sempat-sempatnya mendaratkan ciuman di bibir Sora. Karena gemas, ia sedikit mengigit lidah Sora. "Auch..," Sora lantas memukul lengan Ferry.
__ADS_1
"Ada siapa?" tanya Sora, wajah Ferry kembali panik.
"Ada Mama, dia lagi di depan rumah!" ucap Ferry. Dan mata Sora langsung terbelalak. Gawat, bagaimana kalau sampai ketahuan.
"Kamu disini saja, jangan keluar kamar, pintunya kamu kunci dari dalam ya... Aku mau mengulur waktu biar Mama tidak merasa curiga!" pesan Ferry.
Ferry langsung memakai kaos pendek, ia mencuci mukanya sebentar. Setelah merasa sudah siap, Ferry menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ada rahasia besar yang tersimpan di dalam sana. Sebuah cinta terlarang yang membangkitkan gelora jiwanya.
Cekrek...
Begitu pintu terbuka, Mama langsung menerobos masuk seperti biasanya.
"Lama sekali kamu ini, apa tidak masuk kerja?" tanya Mama, sembari meletakkan paper bag yang semula ia bawa.
"Mama bawa bubur ayam, kamu pasti belum sarapan kan? Ayo makan sama Mama, kebetulan pas kesini Mama belum makan. Mama mau makan sama anak Mama," uca Mama Ida.
"Tumben sekali Mama ke mari cuma buat sarapan bareng. Katakan aja Ma, pasti ada maksud tersembunyi!" sindir Ferry. Ia masih ketar-ketir, takut Mama nya mengetahui keberadaan Sora di dalam kamarnya.
"Kamu itu cerdas banget, persis Mama," dengan konyol, Mama Ida memuji dirinya sendiri.
"Hahaha.. Kamu ini emang ya.. Seperti kedelai hitam Malika. Yang selalu Mama rawat penuh kasih,"
"Sudah Ma, jangan tambah ngaco. Sepertinya Mama punya tujuan pagi-pagi kesini?"
"Ini, lihat ini. Lihat dengan seksama," Mama menyodorkan handphonnya. Di layar handphone Mama Ida, ada potret gadis cantik. Usianya juga terlihat masih muda kalau di lihat dari fotonya.
"Siapa lagi ini Ma?" tanya Ferry malas-malasan.
"Ini Sasa, kamu ingat kan?"
"Sasa siapa?" Ferry menyatukan kedua alisnya, ia sedang menggali ingatannya. Sasa siapa yang mama nya maksud. Namun nama dan foto yang Mamanya berikan terasa familiar dalam ingatannya.
"Sasa Sungkar sayang," ucap Mama kemudian.
"Bukannya Sasa masih di Batam Ma?"
__ADS_1
"Sudah pulang, malah beberapa minggu yang lalu. Kebetulan kemarin Pak Taka, Ayah nya Sasa teplon Papamu,"
"Telpon Papa? Tumben Om Tak telpon?"
"Iya, Mama sama Papa juga heran. Sudah lama sekali mereka hilang kontak sama keluarga kita. Padahal dulu waktu kalian kecil, keluarga sering ke rumah."
"Terus maksud Mama apa tunjukin foto Sasa?"
"Aduh, kamu ini. Mau jadi bujang lapuk sampai tua? Mama gak rela, kamu nunggu si Sora itu. Dia kan masih berstatus istri orang. Mama gak mau, sampai kamu merusak rumah tangga orang," ucap Mama.
Dari dalam kamar, Sora dapat mendengar dengan jelas tiap kata yang keluar dari Mama. Entah mengapa, hati Sora terasa sakit.
Sedangkan di luar kamar, Ferry terus menatap pintu kamarnya. Ia sudah merasa tidak nyaman. Sora pasti mendengar semua pembicaraan dirinya dan sang Mama.
"Ya sudah, kita bahas nanti saja Ma, Ferry ada pertemuan pagi ini. Sarapannya lain Kali aja ya?" bujuk Ferry agar Mamanya cepat pulang.
"Loh kok malah ngusir Mama, kamu berangkat aja dulu. Mama juga mau beres -beres rumah. Lihat tuh, debunya dimana-mana," ucap Mama, tidak mau meninggalkan kediaman putranya.
Ferry dan Sora meski di tempat yang berbeda, keduanya kini sama-sama pusing. Bagaimana nanti kalau sampai ketahuan?
"Sudah, kamu mandi dulu saja. Mama mau sarapan, terus nanti biar kamarnya Mama yang beresin."
Pyar...
Terdengar benda jatuh dari dalam kamar Ferry, suasana hening seketika. Mama langsung menatap curiga pada putranya.
bersambung
***
Hai Para Pembaca dan Author kesayangan jangan lupa selalu dukung author ya 🍒
Pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya... Tuh bintangku tinggal 4 😅.....
Selalu dukung author ya 🍒
__ADS_1
Terimakasih ❤