
Alan binggung harus memberi pengertian pada dua perempuan yang menanti jawabannya itu. Ia mencari jawaban yang pas dan logis agar tidak merasa salah.
"Ayo keluar, biar kita bicara di luar," ajak Alan sembari merangkul tubuh istrinya.
Alan langsung duduk diikuti oleh Sora yang duduk di sampingnya.
"Coba katakan intinya saja, aku ingin dengar secara langsung dari mu Riana." Alan menatap tajam ke arah Riana yang masih berkaca kaca.
"Riana tidak ingin dijodohkan Mas," ucap gadis itu, ia menengelamkan wajahnya cukup dalam.
"Apa alasanmu menolaknya?" tanya Alan dengan penuh selidik.
"Riana tidak mencintai pria tersebut Mas,"
"Adakah hal buruk yang terdapat pada diri pria itu, sehingga kamu menolak lamaranya?"
"Tidak ada, keluarganya baik sama Riana semenjak ibu meninggal. Namun Riana hanya menganggapnya sebagai kakak tidak lebih dari itu."
"Dari yang kamu katakan, pria itu tanpa cela. Keluarganya juga baik padamu. Kalau hanya masalah cinta, mungkin akan datang setelah terbiasa," ucap Alan sembari mengengam tangan istrinya.
"Riana ingin menikah dengan orang yang Riana sukai Mas, seperti kalian berdua. Menikah atas dasar suka sama suka,"
Dalam benak Alan, duh Riana. Kamu hanya melihat dari luar saja, hanya mampu menangkap sekilas. Kalau kamu mengikuti dari awal, mungkin kamu akan muak. Menjalani rumah tangga tidak hanya modal cinta, kesetiaan dan uang juga jadi faktor utama.
Alan hanya diam. Hanya hatinya yang berbicara.
"Benar kata Mas Alan Riana, bila orangnya baik. Dan keluarganya juga baik, mengapa tidak kamu coba mengenal lebih dekat dulu," Saran dari Sora.
"Jadi kalian gak bisa menerima aku disini?" tiba-tiba gadis kalem itu merubah sikapnya. Ia berubah sedikit lebih marah. Mungkin beban mental yang membuat dirinya demikian. Dipaksa menikah kan memang tidak enak.
"Bukan begitu Riana," sanggah Sora, ia jadi salah tingkah. Pak Danu selaku Ayahnya Riana sudah banyak membantu mereka berdua. Kini giliran putri Pak Danu minta bantuan, masa Sora tidak ingin menolongnya. Sora jadi dilema dengan permasalahan Riana.
"Kami tidak bisa membiarkan kamu tinggal disini Riana, kita bukan keluarga atau kerabat jauh. Dan lagi disini ada pria dewasa yang bukan siapa-siapa kamu. Aku takut malah warga akan mengngrebek Kita. Lagian kami juga warga baru, hanya kedamaian yang kami harapkan. Tapi jangan khawatir, nanti akan aku cari kosan buat kamu menenangkan diri sebentar. Tapi tidak disini, sebelumnya kami sangat minta maaf," tutur suami Sora tersebut dengan sangat panjang lebar.
Sora seakan setuju dengan saran suaminya itu, kini ia pindah tempat duduk. Sora duduk tepat di samping Riana.
"Semua pasti ada jalan keluarnya, tenang ya Na," tangan Sora memegang pundak Riana, ia seakan ingin memberikan sebuah dukungan untuk teman barunya itu.
__ADS_1
Sedangkan Riana hanya mampu menganggukkan kepala, seakan sudah pasrah dengan pilihan mereka.
"Hari ini istirahatlah dulu disini, nanti pulang kerja aku carikan tempat kos buat kamu Riana," janji Alan.
"Terimakasih Mas Alan dan Mbak Sora, maaf kalau Riana menganggu waktu kalian," kata Riana dengan sedikit penyesalan yang tergambar jelas di raut wajahnya.
"Jangan dipikirkan, aku sudah menggangap mu seperti adikku sendiri." Sora memeluk tubuh Riana yang langsing itu.
Alan kini kembali ke kamarnya, ia mau siap-siap berangkat kerja. Ia pamit pada Sora, mengecup kening istrinya.
"Mas berangkat kerja dulu ya, taksinya sepertinya sudah sampai,"
Sora hanya menangapi dengan senyum manis yang ia punya.
Riana merasa miris dengan pemandangan di depannya, baginya rumah tangga Alan dan Sora merupakan idaman bagi dirinya. Ia yakin, pernikahan yang didasari cinta pasti akan indah rumah tangganya.
Riana ternyata belum cukup dewasa, pemikirannya tidak sesuai usianya. Ia terlalu naif memandang kehidupan berumah tangga. Mana ada rumah tangga yang damai selalu? pasti banyak krikil tajam yang harus dilalui untuk sampai ketepian, pasti ada hujan badai sebelum melihat pelangi yang indah. Selalu ada cobaan dalam menjalani pernikahan, kalau hanya bermodalkan cinta. Siap siap terluka saja Riana.
Setelah Alan pergi dari pandangannya, Sora kembali fokus pada teman barunya itu.
"Aku mau belanja ke depan, kamu mau ikut?" ajak Sora.
"Ya ampun, maaf Na. Hampir saja aku lupa, ya sudah kamu silahkan duduk. Aku mau belanja dulu," Sora menutup pintu rumahnya dari luar. Agar tidak ada seorang pun yang merasa curiga kalau dia menyembunyikan seseorang.
Sora jalan kaki menuju tempat ia akan berbelanja. Dari jauh ia dapat melihat, tukang sayur sudah tidak nampak kepalanya karena tertutup dengan badan Ibu ibu yang mengerubungi. Tukang sayur seperti gula yang dikelilingi para semut jumbo.
"Wah, mbak warga baru ya?" sapa salah seorang ibu ibu yang sedang belanja disana.
"Iya Bu," jawab Sora dengan ramah.
"Kenalkan saya Bu Wati, istrinya Pak RT disini," Bu Wati langsung mengulurkan tangan guna berkenalan dengan Sora.
"Soraya Bu, panggil saja Sora,"
"Oh My God, tangan kamu halus banget Sora. Saya jadi minder. Tangan saya sudah seperti tangan kuli bangunan. Sudah kapalan semua, kasar banget pokoknya,"
Tiap kata yang keluar dari Bu Wati membuat Sora terkekeh, ia senang di tempat yang baru banyak yang ramah pada dirinya.
__ADS_1
"Masak sih halus, coba salaman sama saya," tiba-tiba ada seorang Ibu ibu berbadan tambun menerobos kerumunan.
"Sora Bu,"
"Denok, cukup panggil Denok tidak ada tambahannya," Bu Denok langsung bersalaman dengan Sora.
"Iyah, halus kok. Pasti Mbak Sora tidak pernah nyuci, masak, ngepel, nyapu iya kan?" tebak Bu Denok dengan mengebu-ngebu.
"Sora lakuin semua itu kok Bu, hanya saja tidak terlalu berat dan banyak,"
"Tuh kan apa yang aku bilang," sahut Bu Denok sembari memasukkan onde-onde ke dalam mulutnya.
"Semoga kerasan dan betah ya," tambah lagi Bu Denok sembari mengunyah onde-onde yang masih di dalam mulutnya.
Setelah acara perkenalan, Sora kini hendak memilih sayuran. Ia binggung mau masak apa.
"Mang, saya minta sayur soup satu kantong dan telur putuh satu kilo ya!"
"Baik Non," tukang sayur langsung mengambilkan barang yang diinginkan oleh pelangannya.
"Mari Bu," Sora undur diri dari perkumpulan Ibu Ibu yang masih mengitari tukang sayur.
Entah tujuan mereka itu untuk belanja atau apa, Sora saja hanya butuh waktu lima menit. Ketika barang yang ia butuhkan sudah ada, maka ia langsung pulang. Lain halnya dengan para ibu ibu disana. Belanjanya cuma lima menit, namun ngobrolnya setengah jam lebih.
Selepas Sora menjauh, Ibu Ibu langsung berbisik bisik.
"Itu pasangan mandul ya? Yang katanya sepuluh tahun lebih gak punya anak?" kata Bu Denok.
"Kuat bener Buk sinyalnya, tau dari mana?" Ibu Wati selaku istri pejabat di sana merasa kepo. Mengapa dirinya ketingalan berita hot tentang warga barunya. Sebagai istri ketua RT Bu Wati merasa KUDET.
"Tembok pun sudah tahu Bu, sekarang dinding itu punya telinga," tambah Bu Denok. Sepertinya Bu Denok ini ketua gosip di kompleks Sora.
Bersambung
Sora harus siap-siap, punya banyak tetangga yang akan selalu kepo dengan rumah tangganya.
Hidup itu memang begitu, kita yang jalani. Orang lain yang komentar. Jangan lupa komentarnya ya Kakak - Kakak pembaca yang budiman ... I Love U all
__ADS_1
๐Ingat Rate Bintang Lima. Bintang Author mulai redup ๐