Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Hubungan Yang Mendingin


__ADS_3

Cahaya matahari yang terang, sudah berganti sinar dari sang bulan. Tanda siang kini menjelma menjadi malam. Sora tak kunjung menginjakkan kakinya di rumah. Ia masih di tengah jalan bergelut dengan kemacetan.


Sedangkan Alan yang ada di dalam rumah, berkali-kali menengok daun pintu utama. Suasana di sekitarnya tampak sepi, hanya dia seorang yang ada di dalam sana. Pak Dadang penjaga rumahnya sedang balik kampung. Sedangkan Sora yang memilih untuk berkarir setelah mereka menikah, belum juga pulang kerja.


Harusnya Sora sudah sampai beberapa saat yang lalu. Namun, pertemuannya dengan Ferry membuat wanita itu terlambat pulang ke rumah.


Merasa cemas karena istrinya tak kunjung pulang, Alan mencoba menghubungi Sora. Ia menyambar telpon gengam milikinya yang tergeletak di atas meja.


"Dimana Ra?" ucap Alan setelah Sora mengangkat panggilan telpon darinya.


"Masih di jalan Mas,"


"Macet ya?" tebak Alan.


"Iya Mas, di depan ada tabrak lari sepertinya. Makanya macet sekali," jawab Sora dengan mencari alasan, agar suaminya tidak mencurigai dia yang terlambat pulang.


"Ya sudah, hati-hati Ra,"


"Iya Mas,"


Panggilan telpon pun terputus. Sora kembali fokus di belakang kemudi. Kepalanya mulai berpikir, meresapi kejadian demi kejadian yang terjadi akhir -akhir ini. Di mulai dari ia yang mendapat kadidat untuk istri bagi sang suami, dan permainan rasa antara dirinya dengan Ferry.


Sora terlihat gamang, masa depannya sulit ia tebak. Ia kini berjibaku dengan banyak kemungkin. Mungkinkah rasa cintanya pada Alan semakin memudar? Sora pun mengambil napas dalam- dalam, mencari jawaban di setiap pertanyaan. Satu jam berlalu, akhirnya Sora sampai di depan rumahnya.


Alan yang mendengar deru suara mesin mobil milik Sora, segera turun ke bawah. Ia membantu membuka gerbang untuk sang istri. Ini adalah tugas Pak Dadang sehari-hari, namun terpaksa harus Alan kerjakan sendiri saat ini.


"Loh, Pak Dadang kemana Mas? kok mas yang buka pintu gerbangnya?" tanya Sora yang mendapati Alan membuka pintu untuk dirinya.


"Pak Dadang lagi balik kampung, Istrinya sakit," jawan Alan seraya menutup pintu gerbang kembali.

__ADS_1


"Berapa hari Mas?"


"Tidak tahu, aku suruh balik kalau istrinya sudah baikan,"


Mendengar kebaikan dari suaminya yang sangat pengertian terhadap orang lain, ada sebuah penyesalan yang menyeruak dalam lubuk hati Sora. Ia merasa semakin bersalah pada sang suami. Belum lagi setelah mengingat apa yang sudah ia beri pada minuman Alan tadi pagi.


Ada juga penyesalan yang tak kalah hebatnya, yaitu sebuah perselingkuhan yang terjadi di belakang suaminya. Sora semakin dirundung beban serba salah yang memang ia ciptakan sendiri.


"Ayo masuk," ucap Alan yang menatap istrinya hanya diam setelah memarkir mobilnya.


"Eh.. Iya Mas. Oh ya, bagaimana dengan wanita muda yang kita tolong semalam Mas?"


"Sudah pergi!" ucap Alan dengan ketus.


"Kau yang mengusirnya," ucap Sora. Namun, itu hanya terucap dari hatinya saja. Sedangkan bibirnya hanya diam tak bersuara. Kali ini ia tak akan membahasnya,


Sora sudah tahu semuanya, sejak banyak sekali kasus pencurian di dalam rumah besarnya. Sora dan beberapa petugas keamanan khusus telah memasang kamera CCTV di sebagian tempat di rumahnya.


Matanya nampak nanar kala itu, padahal rencananya sudah berhasil. Namun hati Sora bukannya puas, justru merasa tercabik- cabik menyaksikan aksi suaminya dengan perempuan lain.


Ingin rasanya ia lari dalam pelukan Ferry, seorang pria pengecut yang tidak berani mengungkapkan rasa cinta pada dirinya. Semua Ferry ungkapkan, ketika sudah terlambat. Kini dia sudah menjadi milik orang.


Sora kembali berjibaku dengan pikirannya, lama- lama ia merasa gila sendiri. Hanya sebuah kedamaian yang ia dambakan, sebuah keluarga yang damai dengan kehadiran anak di tengah mereka.


Namun, kenyataan pahit kembali menampar dirinya. Fakta bahwa pernikahan yang ia jalani tidak membuahkan anak, membuat ia merasa terbebani dalam menjalani pernikahan nya bersama Alan. Berbagai gunjikan datang dari berbagai sisi.


Bahkan saat ini godaan datang dari berbagai arah, ingin rasanya ia menyerah. Menjadi kalah dan mencoba berperang dengan yang lainya. Siapa tahu jika ia mencoba dengan Ferry akan membuahkan hasil. Sora tersenyum kecut, ia mengumpati pikiran tidak warasnya.


Perempuan itu mendesis, melangkahkan kakinya dengan enggan. Rasanya berat sekali masuk ke dalam rumahnya sendiri yang bagai penjara.

__ADS_1


Alan sudah bersikap sangat biasa, bentuk wajahnya pun datar- datar saja. Tidak ada penyesalan atau kecemasan dalam raut mukanya. Membuat Sora semakin jengkel bila menatapnya.


Malam semakin larut, Sora tidak bisa menutup kedua bola matanya. Ia terjaga semalaman. Dalam benakknya terngiang- ngiang. Sebuah gambaran akan aksi Alan dan Stella nampak jelas dalam bayangnya.


Sora memilih bangkit dari ranjang, ia ingin menenangkan hatinya. Ditatapnya Alan yang nampak tertidur pulas. Laki -laki yang selama ini ia cintai mengapa mendadak ia musuhi. Sora semakin kesal dengan sikapnya sendiri.


Ia kini duduk di balkon kamarnya, pandangan matanya menerawang jauh ke atas langit yang hitam pekat. Tidak ada cahaya bulan, tidak ada bintang- bintang yang bersinar. Hanya awan mendung yang mengantung, langit pun sama muramnya dengan suasana hati Sora.


Merasa bosan, mau tidur pun tak bisa. Sora memilih memainkan ponselnya, ia melihat akun media sosial. Satu persatu ia menatap postingan teman -teman sosmednya. Sesekali bibirnya tersenyum, ketik ada unsur yang menghibur di laman sosial media miliknya.


Sora menghabiskan malam dengan berselancar di dunia maya. lama kelamaan Sora penasaran dengan Ferry, ia ingin tahu keseharian pria itu. Maka jari- jemarinya pun menati-nari indah di atas layar ponselnya. Sora berselancar menelusuri kehidupan Ferry selama ini.


Setelah sekian lama, akhirnya ia menemukan akun milik Ferry. Dilihatnya foto profile milik kekasih gelapnya itu. Bibirnya kembali menyemburkan senyum yang bertubi-tubi. Tidak ada potret gadis dalam laman media sosial milik laki-laki itu. Membuat hati Sora semakin membuncah dan merasa bahagia.


Rasa kesalnya terhadap Alan, yang sudah tidur dengan wanita lain sedikit terobati. Sora menemukan sebuah pelarian yang bisa menghibur lara hatinya. Cukup lama ia mengamati keseharian Ferry lewat postingan di akun sosmednya.


Hanya aktifitas pekerjaan dan beberapa potret dirinya melakukan kegiatan di alam liar. Begitulah Ferry yang dulu ia kenal. Meskipun dari keluarga berada, ia begitu sangat biasa. Tidak pernah menyombongkan apa yang dimilikinya.


Ada sebuah postingan, yang membuat Sora sedikit memfokuskan pandangan matanya. Wanita itu ingat betul, sebuah background tempat Ferry berpose di dalamnya. Kafe tempat ia nongkrong bareng teman-temanya dulu. Dan tempat ia bertemu dengan Ferry setelah sekian lama tidak berjumpa.


Nampak dalam gambar tersebut, entah dalam rangka acara apa. Yang pasti Ferry berpakaian rapi duduk di sebuah meja dan disekitarnya banyak pegawai kafe yang memakai seragam sedang mengitari Ferry.


Sora semakin penasaran, dilihatnya beberapa foto yang saling berkaitan. Dari sana, Sora dapat menebak. Bahwa selama ini Ferry sudah mengambil alih bisnis kafe tersebut. Tapi untuk apa? Wanita itu menjadi semakin tertarik dengan kehidupan Ferry.


Bersambung


***


Hai... Para Pembaca dan Author tercinta, Mohon dukungannya ya... Like, Komen, Vote dan bintang lima jangan lupa ya.. Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Terimakasih ❤

__ADS_1


Salam hangat dariku 💕


__ADS_2