Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Hati Yang Tak Berteman


__ADS_3

"Sora, bangun. Jangan seperti ini Sora." Alan terus saja membisikkan banyak kata di telinga istrinya.


Tidak ada balasan dari Sora, ia masih memilih diam dan menutup matanya.


Pukul satu dini hari, Alan terbangun dari tidurnya, ia tertidur dengan kepala bersandar di bibir ranjang tempat Sora berbaring. Alan ingin Sora nya kembali. Ia menunggui Sora sepanjang malam. Berharap Sora dapat melewati masa kritisnya.


Tit.. tit... tit.. Semua terdengar normal, sampai dengan pukul 4 ketika adzan subuh berkumandang. Nada itu berganti nyaring dan panjang.


Tiiitttttt..........


Alan menatap wajah istrinya, dia menarik napas dengan dalam. Matanya tak lagi berkaca kaca, bendungan Alan sudah jebol. Bibirnya bergetar hebat, dadanya sudah sangat sesak.


Pria tangguh itu mendadak lemas tak berdaya, memeluk tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa.


"Sora," ucapnya lirih. Tangannya semakin erat memeluk tubuh istrinya. Bulir bening sudah mengalir deras di wajahnya yang tampan.


Wajah itu kini berubah sendu, sorot matanya kosong tak terarah. Alan seperti kehilangan separuh jiwanya. Soranya kini hilang, pulang ke tempat ia berasal.


Alan membelai wajah Sora, ia menyentuh rambut Sora dengan lembut. Sampai air matanya berjatuhan di wajah Sora. Alan mungkin terlalu mencintai, hingga kepergian Sora membuat lubang yang besar di hatinya.


Sejenak kemudian Alan mulai tenang, ia mencium pipi Sora dan keluar untuk memanggil para tenaga medis.


"Iya Bapak Alan, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang perawat yang dijumpai Alan di lorong rumah sakit.


Bibir Alan ingin berucap, namun seperti ada yang tertahan di dalam sana.

__ADS_1


Merasa ada yang tidak beres dengan keadaan pasien. Perawat langsung menuju kamar Sora dirawat. Setelah memeriksa denyut nadi pasiennya, perawat langsung menatap layar monitoring.


Meskipun bukan salah satu anggota keluarga, terlihat jelas. Mata perawat tersebut mulai berkaca-kaca. Sebelum ia meninggalkan kamar tersebut, perawat sempat mengusap matanya. Dengan buru-buru ia menemui dokter yang sedang berjaga.


Tidak butuh waktu lama, beberapa perawat dan dokter langsung berlarian ke kamar Sora. Lalu dimana Alan?


Pria itu meringkuk di lorong paling ujung. Meluapkan semua emosinya, menagis sejadi-jadinya. Kehilangan orang yang ia cintai membuat ia menguras air mata. Tidak peduli beberapa pengunjung yang tidak sengaja lewat memperhatikan dirinya. Alan terus saja larut dalam kesedihan.


Hatinya sudah patah, kematian yang berhasil mematahkannya. Takdir cintanya sudah berakhir. Mautlah yang mengakhiri kisah cinta Sora dan Alan. Cinta yang rumit, penuh ujian dan goncangan.


Cinta yang sempat membara bagai lava di dalam gunung berapi, lalu mencair bagai es di kutub utara. Terlalu banyak ombak yang mengejar cinta mereka, hingga maut lah yang menjadikan kapal mereka karam.


Tragedi cinta yang tragis harus Sora alami, cinta buta Ferry membuat semua mengalami nasib yang mengenaskan. Hingga Sora harus kehilangan nyawa. Pergilah Sora, pergilah yang jauh. Mungkin dunia ini tidak pantas kamu tinggali.


Dunia ini mungkin begitu kejam, dengan para penghuninya yang selalu menghujat dan merasa paling benar. Pergilah Sora, pergi yang jauh. Hingga kamu lupa, sakit itu apa.


Pria itu sudah kehabisan air mata, ia nampak murung. Beberapa jam lalu ia mengabari Ibunya. Ibu Alan yang kurang begitu suka dengan Sora karena tidak bisa memiliki anak cukup shock mendengar kabar dari putranya. Sebenci apapun ia dengan anak mantunya, ia tetap seorang ibu.


Ibu Alan juga merasa kehilangan yang sama, pagi itu juga ia menyusul Alan ke tempat barunya. Harusnya di tempat baru menjadi awal yang indah untuk pernikahan Sora dan Alan. Namun takdir berkata lain, Sora harus mengakhiri apa yang belum ia mulai.


Kabar kematian Sora juga sudah didengar oleh Mama Ida, bagaimana dengan Ferry? Mama Ida sengaja tidak memberitahu putranya. Mama Ida sendiri tahu dari para perawat yang heboh membicarakan kematian Sora. Kepedihan Alan ketika ditinggal sang istri menjadi perbincangan hangat di kalangan para tenaga medis, terutama para perawat yang menangani Sora selama koma.


Semua memandang iba dan ikut terenyuh menyaksikan Alan. Pria itu terlihat tengelam dalam kesedihan. Seorang laki-laki yang kehilangan cintanya terlihat begitu menyedihkan. Seperti pecundang yang kehilangan arah, tidak berdaya.


Mama Ida memutuskan cepat-cepat mengurus andministrasi di rumah sakit, sepertinya ia akan pergi jauh. Ia akan membawa Ferry, Mama Ida merasa Alan akan memungut pertanggung jawaban pada putranya.

__ADS_1


Pagi itu juga, ayah Ferry mengirim helicopter untuk menjemput putranya. Mereka akan kabur, meninggalkan Alan dengan diam-diam. Ferry sendiri dengan berat hati mengikuti rencana Mamanya, yang ia tahu dirinya akan dibawah pergi jauh dari Sora. Mama Ida menyembunyikan fakta, bahwa Sora telah tiada.


Mama Ida juga tidak ingin anakknya menjadi gila, bila tahu hal yang sebenarnya. Bisa-bisa Ferry akan depresi lebih berat. Mama Ida tidak ingin Ferry malah dirawat di rumah sakit jiwa.


"Ayo, cepat Ferr!" perintah Mama Ida sembari mengangkat tas menuju lantai paling atas.


"Kenapa, Mama terlihat buru-buru sekali?" Ferry menatap curiga pada Mamanya.


"Mama sedang memburu waktu, nanti Kita ketingalan pesawat," Mama Ida mencari-cari alasan.


"Sini biar tasnya Ferry yang bawah!" bujuk Ferry.


"Tidak usah, Mama kuat. Ayo sini cepat jalannya," wajah Mama Ida nampak tegang. Pandangan matanya mencari kesana kemari. Ia tidak ingin ada yang tahu kepergian dirinya dan Ferry. Jangan sampai Alan dan keluarganya memergoki aksi kabur diam diam mereka.


Setelah susah payah, akhirnya mereka sudah sampai atap. Sebuah helicopter menyambut kedatangan mereka.


"Mengapa tidak pakai mobil Ma?" Ferry semakin penasaran dengan rencana Mamanya.


"Tidak apa-apa, Mama rasa lebih cepat lebih baik," ucap Mama Ida. Ia langsung masuk dalam helicopter tersebut diikuti oleh putranya.


Sepanjang perjalanan Mama Ida diam seribu bahasa, ada perasaan yang menganjal dalam hatinya. Namun ia tidak ingin putranya maauk penjara atau masuk rumah sakit jiwa, dengan terpaksa ia membawa lari Ferry jauh dari jangkauan Alan.


Di tempat berbeda, suasana masih berkabut sendu. Alan masih tengelam dalam kesedihan. Tidak banyak berkata, ia hanya diam ketika beberapa orang mengajaknya berbicara. Alan hanya sesekali menjawab penghiburan mereka dengan anggukan pelan.


Mereka yang menghibur Alan dengan kata-kata yang menguatkan hanya seperti angin bagi Alan, angin yang sekedar lewat. Ada namun tidak bearti. Hatinya terlanjur luka begitu dalam. Tidak ada yang bisa menghibur dirinya, hanya waktu yang bisa mengikis luka karena ditinggalkan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2