
Kamar Ferry saat ini bagai sebuah ring tinju bagi Sora, wanita itu sudah terlanjur masuk di dalam pertandingan. Mau tidak mau dia harus melanjutkan pertandingan tersebut. Atau dia memilih keluar dan kalah sebelum pertempuran dimulai.
"Ra.." suara Ferry yang memanggil namanya sukses membuat bulu-bulu di sekujur tubuh Sora kembali merinding. Suara Ferry seperti sebuah magnet yang berhasil menarik dirinya.
Sora memutar bola matanya, ia seakan tidak tahu harus menjawab apa. Namun, ia tidak bisa membohongi hati kecilnya. Tubuh, hati dan pikiran Sora saat ini sedang tidak sinkron. Hatinya ingin, tapi akal sehatnya menolak.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Ferry yang hasratnya sudah menancap di ubun-ubun sejak tadi, langsung menyerang Sora tanpa ampun. Meski tangan Sora memegang dada bidang milik Ferry, seakan menahan agar tubuh keduanya tidak bersentuhan. Sora menciptakan jarak antara dirinya dan pria tersebut, namun Ferry tidak peduli.
Pria itu sudah tidak sanggup lagi memendam rasa yang selama ini ia tahan. Sudah terlalu lama Ferry menantikan moment seperti ini. Mungkin inilah waktu yang tepat, untuk mencurahkan segala yang selama ini ia tahan.
Tanpa ijin dari Sora, Ferry yang terkesan hangat itu berubah menjadi buas. Ferry mencengkram pergelangan tangan Sora, hingga wanita itu tidak bisa mengerakkan kedua tangannya. Kini tidak ada lagi yang menjadi pemisah antara dada Ferry dan Sora.
Sora dapat merasakan dentuman jantung Ferry yang begitu cepat dan tak beraturan. Begitu pula dengan Ferry. Pria itu juga mampu merasakan, tiap detak jantung Sora yang berdegup dengan kencang. Dua insan itu kini menuruti nafsu duniawi mereka. Keduanya sedang terlena dengan rayuan setan yang mengoda.
"Mau?" tanya Ferry, ia menawari Sora lewat bisikan di telinga wanita itu. Entah sudah berapa kali ia meningalkan bekas kecupan di sekitar leher Sora. Yang pasti terlihat jelas leher Sora banyak noda merahnya. Kulitnya yang bersih, membuat bekas jejak Ferry begitu kentara.
Entah apa yang akan Sora katakan nanti, jika Alan melihat lehernya yang penuh dengan stempel yang melegenda itu. Tidak mungkin Alan tidak tahu bekas gigitan apa itu? yang jelas bukan gigitan sebuah serangga. Namun, untuk saat ini tidak ada yang peduli.
Baik Sora maupun Ferry sudah sama-sama tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti, mereka hanya ingin menikmati moment yang begitu hangat ini.
Tangan Ferry sudah semakin berani saja. Hanya saja ia begitu kesulitan melepaskan pelindung terakhir milik wanita tersebut. Hanya itu yang melekat di tubuh bagian atas Sora. Seperti baju zirah yang melindunginya dari Ferry.
__ADS_1
Entah mengapa Ferry terlihat begitu kesulitan melepas pengait benda itu. Barang kali, mungkin karena ia merasa grogi saat ini. Bagi Ferry, ini merupakan pengalaman pertama baginya. Belum lagi, ia melakukan nya dengan lawan main yang merupakan istri orang. Sudah dapat dibayangkan, bagaimana perasaan seorang Ferry saat ini. Jantungnya yang serasa memburu disertai hasrat yang mengebu. Ah, rasanya sudah mau meledak itu si Ferry.
Lantas apa yang dilakukan Sora? wanita itu hanya memberi tatapan yang menolak, namun tubuhnya dengan suka rela menerima setiap hujaman yang diberikan Ferry. Ya, untuk saat ini mereka baru bermain-main dengan indra perasa masing masing. Karena Ferry belum berhasil melepaskan benda terakhir, yang seperti baju zirah bagi Sora.
Sampai detik ini pun, Ferry belum bisa melepaskan pengait yang super mini itu.
Dengan tidak sabar, akhirnya pengait itu lepas sudah. Syukurlah, setelah berjuang cukup lama, akhirnya bisa lepas juga. Dengan puas Ferry melempar benda itu menjauh darinya.
Ferry begitu takjub dengan mainan barunya. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Ferry, karena selama ini ia tidak pernah berkencan. Baginya, bekas patah hati yang telah ditinggalkan Sora saat dulu begitu membekas. Hingga ia memilih menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Tidak ada yang mampu mengobati rasa patah hatinya, luka hati pria tersebut hanya bisa terobati oleh sang pembuat luka itu sendiri. Sora, ya hanya Sora lah yang mampu membuat ia terluka sekaligus mengobati luka tersebut.
"Ngak, cuma geli," ucap Sora, tangannya kini melingkar di leher Ferry. Ia merasa kebahagiaan yang luar biasa. Sebuah sensasi aneh menyeruak dalam tubuhnya. Ah, mungkin aku sudah tidak waras, pikir Sora.
"Sora, ayo kita menikah!" tiba-tiba Ferry bersuara, ia lantas menghentikan semua aktifitas nya.
Sora membelalakkan kedua bola matanya. Kata yang terucap dari bibir Ferry membuat dirinya tersadar atas perbuatan nya.
"Aku sudah menikah, Mas!" ucap Sora, seakan masih tidak percaya atas apa yang ia dengar.
"Menikahlah denganku,"
__ADS_1
"Maksud Mas apa?"
"Tinggalkan Alan, hidup lah bersamaku!"
Bibir Sora seperti terkunci rapat, ia kembali tidak bisa memberi jawaban untuk pria yang menatap dirinya dengan sendu. Meski ia tidak memungkiri, bahwa hatinya kini ada nama Ferry.
Keduanya kini hanya saling menatap, Sora berjibaku dengan pikirannya. Bagaimana bisa Ferry melamar dirinya ketika dia sudah menikah?
Sedangkan Ferry, ia rasanya tidak bisa lagi membendung semua rasa yang terlanjur mengembang dalam hatinya. Saat ini ia sudah tidak ingin menjadi yang kedua. Ferry ingin memiliki Sora untuk dirinya sendiri. Ia ingin menjadi pria satu-satunya yang menempati hati Sora.
"Maaf Mas," hanya kata itu yang keluar dari bibir Sora. Wanita itu kini menjadi dilema, hatinya tak menentu. Sora berada dalam dua pilihan. Menceraikan Alan atau memutus hubungan cinta terlarangnya..
Bersambung
***
Hai Para Pembaca dan Author kesayangan... Terimakasih atas dukungan kalian semua. Jangan bosan-bosan dukung author ya...
Pencet tombol Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima. Semua dukungan kalian sangat berarti bagi author.
Author sampaikan rasa terima kasih yang besar untuk para pembaca yang sudi mengikuti kisah Sora, author yakin masih banyak kurang disana sini. namun author akan berusaha memperbaiki.
__ADS_1
Terimakasih ❤