Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Harapan Baru, Calon Baru


__ADS_3

Sepasang kaki menyembul dari balik selimut, terlihat jelas bulu-bulu yang berbaris rapi diatas kaki tersebut. Sepasang kaki yang lain menekuk di bawah selimut yang sama. Hawa dingin membuat Sora memeluk tubuh suaminya dengan erat. Rupanya mereka berdua sudah mulai berdamai.


Kring.... Kring... Kring... Alarm handphone Alan mengema di seluruh kamar. Sora yang lebih peka pendengarannya, langsung membuka bola matanya. Tidak terasa hari sudah pagi, padahal ia merasa baru saja memejamkan matanya.


Sora bangkit dan melepas pelukannya, ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sora menatap pantulan wajahnya di dalam cermin. Matanya sudah mirip mata panda, ada lingkaran hitam yang melingkar mengitari kedua bola matanya. Lingkaran itu bulat sempurna, layaknya fenomena halo pada bulan.


Wanita itu mengosok kedua matanya, berharap lingkaran gelap itu segera menghilang. Namun sayang, kenyataan Tak seindah angan. Akhirnya Sora mengakhiri acara gosok-gosoknya. Ia melangkah keluar kamar mandi, ingin membuat sarapan untuk suaminya.


Sora membuka pintu kulkas, di lihatnya dari atas sampai bawah. Satu persatu ia mengabsen, apa saja yang ia punya di dalam lemari pendingin yang ada di depannya. Susu murni kemasan, jus jeruk siap saji, telur, roti, apel, pisang, pepaya, kubis, kol, terong, dan banyak buah lainya. Sora mulai binggung, ia mau masak apa. Tidak mungkin ia membuatkan salad untuk suaminya, Alan kurang suka memakan tanaman hijau yang sering di makan oleh hewan yang suka mengembik itu.


Karena hanya ada bahan yang terbatas dalam kulkasnya, Sora akhirnya mengambil beberapa telur. Ia dengan lihai membuat dadar gulung, gayanya seperti chef yang professional. Padahal bentuk dadar gulungnya terlihat sedikit ambyar.


Namanya juga wanita karir, Sora hanya pandai dalam pekerjaan di luar rumah. Masalah dapur ia jauh tertinggal oleh gadis-gadis tanggung yang ada di kampung kampung.


"Finish," Sora menatap takjub pada maha karyanya yang sebenarnya cukup biasa-biasa saja. Setelah selesai membuat dadar gulung dengan bentuk abstrak, kini Sora memasak bubur ayam cepat saji. Tidak butuh waktu lama baginya menyiapkan semuanya.


"Wah mudah juga menjadi ibu rumah tangga rupanya," tutur Sora. Ia mengagumi keahlian dirinya yang masih receh itu. Di atas meja makan sudah tersaji sarapan istimewa yang biasa-biasa saja. Segelas susu murni, segelas jus, dadar gulung yang gulungannya kurang sempurna dan bubur ayam instan yang siap saji.


Sungguh sajian sarapan yang ala kadarnya, namun pengalaman memasak yang cukup berkesan bagi Sora.


"Bangun Mas, ayo sarapan!" Sora menyingkap selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"Jam berapa ini?" tanya Alan yang memang hari ini ia tidak boleh terlambat bekerja, ada pertemuan penting pagi ini.


"Baru jam enam," ucap Sora sembari melipat selimut yang semula ia kenakan. Ia juga merapikan bantal guling yang berserakan.


Mendengar jawaban dari Sora, Alan langsung bangkit. Ia langsung ke kamar mandi.


"Waduh, sepertinya buru-buru sekali!" gumamnya lirih.


Sora duduk di meja makan seorang diri, sembari menunggu sang suami. Ia menyalakan televisi, pagi-pagi seperti ini banyak acara gosip yang tersaji hampir di setiap chanel televisi.


Sora memilih chanel dengan logo intan berlian, ia sedang menyaksikan acara gosip yang dikemas sebegitu menarik. Hingga para ibu-ibu betah berlama-lama di layar kaca.


"Hal yang paling menarik itu memang kepoin rumah tangga orang," gumam Sora ketika ia menyaksikan keretakan hubungan selebritis di layar kaca.


Ia tersebut kecut, Sora seakan membayangkan dirinya sendiri yang sering menjadi buah bibir.


"Ra.." pangilan Alan sontak membuatnya berpaling.


"Eh.. Iya..."


"Serius amat, aku berangkat dulu ya,"

__ADS_1


"Loh, gak sarapan dulu?"


Alan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Udah telat, nanti belum macet juga. Aku sarapan di kantor saja,"


Bunga yang semula mekar, kini mendadak layu sudah. Tidak kehabisan ide, Sora mengambil kotak makan di dalam lemari.


"Tunggu, lima menit. Hanya lima menit!" kata Sora sembari menyiapkan bekal untuk suaminya.


Sora memasukkan beberapa makanan dalam kota yang sudah ia siapkan.


"Bawa ini Mas," Sora mengulurkan bekal makanan pada suaminya.


"Makasih ya," sebuah kecupan berhasil mendarat cantik di kening Sora. Membuat pipi wanita itu bersemu merah muda.


"Mas, aku nanti keluar bentar ya. Mau ke kantor, nyerahin surat pengunduran diri. Kemarin aku sudah telpon," Sora yang biasanya kesana-kemari tanpa ijin, kini mulai menunjukkan perubahan sedikit demi sedikit.


"Oke, langsung pulang ya," pesan Alan. Ia tidak ingin kejadian yang berlalu kembali terulang.


"Iya," Sora mencium punggung tangan suaminya. Karena Alan sudah mau berangkat kerja.


"Hati-hati," teriak Sora yang menyaksikan suaminya masuk dalam mobil warna hitam yang mengkilat.


Sora melambaikan tangan untuk mengantar kepergian suaminya. Kini ia kembali masuk kedalam rumah. Ia langsung bersiap siap untuk datang ke kantornya, tidak lupa menuju kantor pos terdekat. Sora memiliki surat yang harus ia kirimkan.


Benda hitam itu melesat meninggalkan garasi menuju gerbang. Sora mengendarainya dengan cukup santai. Untuk menghilangkan kesan sepi, Sora menyalakan lagu kesukaannya.


Suara lembut dengan sentuhan serak yang pas mengalun indah di telinga Sora. Pria berambut ikal itu sukses membuat kepala Sora bergerak mengikuti alunan musik yang ia ciptakan. Tidak heran pria berambut ikal tersebut menyambet lima kali Grammy Award karena suara emasnya.


Tidak terasa Sora kini sudah berada di depan kantornya, ia melakukan semuanya sesuai dengan prosedur. Sora juga terlihat sedikit sedih ketika berpamitan dengan rekan kerjanya. Setelah semua beres, kini tinggal pergi ke kantor pos untuk mengirim surat buat Ferry.


Malam harinya, Sora sudah terlihat selesai memasak. Pulang dari kantor pos tadi, ia sempat pergi belanja. Kali ini ia ingin memasak dengan sedikit tantangan. Sora memotong motong wortel menjadi bentuk bunga-bunga yang cantik dan sedap dilihat. Setelah itu, ia memotong dadu kentang yang sudah ia kupas. Ternyata ia hanya memasak sayur soup.


Seminggu Kemudian, karena beberapa hal rencana untuk pindah terpaksa mundur untuk beberapa hari. Ini karena Alan keteteran dengan pekerjaan di kantor, lagi pula ia tidak bisa langsung mundur begitu saja. Dan hari ini adalah saatnya mereka berdua meninggalkan rumah yang menyimpan sejuta cerita tersebut.


Sora terlihat menenteng koper mini ditangannya, sedang Alan sibuk memindahkan barangnya ke dalam bagasi mobilnya.


"Pak jaga rumah ini ya pak, untuk waktu yang lama mungkin saya tidak akan tinggal disini,"


Ucap Alan pada penjaga rumahnya.


Pak Dadang hanya menganggukkan kepala. Ia membukakkan pintu gerbang untuk majikannya. Sebuah doa terselip dalam hati pria paruh bayah itu.

__ADS_1


"Semoga kedamaian dan ketentraman menyelimuti bahtera rumah tangga kalian," bisiknya lirih.


Dan mobil Alan pun memecah kemacetan, baik Sora maupun Alan dengan hati yang baru berharap masa depan keduanya lebih cerah, secerah langit pagi yang bertabur cahaya mentari hari ini.


Di sebuah Bandara, kini mobil Alan sudah terparkir, Sora dan Alan keluar bersama-sama dari dalam mobil. Keduanya telah siap menuju tempat baru. Sebuah tempat yang akan menghapus jejak masa lalu.


Setelah beberapa jam di atas udara, kini keduanya sudah mendarat di sebuah kota kecil. Begitu sampai, Alan langsung mengambil ponsel yang ada dalam sakunya.


"Duduk dulu Ra, aku akan telpon Pak Danu. Beliau yang akan menjemput kita," ucap Alan pada istrinya.


Sora pun menurut, ia duduk di kursi tunggu bandara yang berjejer rapi. Pandangan matanya menyusuri tiap orang yang lalu lalang di depannya.


"Hallo, Pak ini Alan. Saya sudah sampai di bandara,"


"Maaf Mas Alan, saya sedang ada tamu penting ini. Tapi saya sudah suruh putri saya untuk jemput Mas Alan bersama Mbak Sora," ucap Pak Danu. Beliau adalah rekan kerja Alan yang cukup senior, sehingga Alan begitu segan dan hormat padanya.


Setelah istrinya meninggal, Pak Danu memilih berhenti bekerja dan kembali ke kampung halaman bersama putri semata wayangnya. Kenangan hidup bersama dengan Istrinya sampai istrinya meninggal, membuat ia menyerah untuk tinggal di kota besar.


Sejak saat itulah, pak Danu memilih tinggal di kota kecil bersama putrinya saja. Rencananya Alan dan Sora akan menempati salah satu rumah milik Pak Danu. Di kota kecil itu pula Alan sudah dapat persetujuan untuk dipindahkan disana.


Jadi semua nampak kelihatan sempurna, namun kita tidak pernah bisa menduga takdir yang akan terjadi pada diri kita.


"Baik Pak, saya tunggu disini bersama istri saya," terang Alan yang masih bertelepon dengan Pak Danu.


Hampir setengah jam Sora dan Alan menunggu, sampai sebuah panggilan masuk ke smartphone milik Alan.


"Hallo, apa benar ini Mas Alan? Saya putrinya Bapak Danu!" terdengar suara yang mengalun lembut di telinga Alan.


"Iya, putri Pak Danu?" tanya Alan balik.


Sora menatap suaminya yang sedang berbicara di telephone. Siapa gerangan putri Pak Danu?


Bersambung


***


Hai Para Pembaca dan Author kesayangan jangan sampai bosan mendukung Author ya. Tekan tanda Hati ♥️


Tekan tanda Like 👍


Tulis komentar 💭


Rate bintang Lima 🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Vote juga ya ✌️


Dukungan kalian sangat berarti bagi author. Terimakasih. 🍒


__ADS_2