Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Pasangan Kadaluarsa


__ADS_3

Hari itu Ferry terlihat marah, itu bisa dilihat dari sorot mata laki laki tersebut. Mata yang semula teduh kini menyiratkan sendu dan benci yang mengebu. Luka akibat ditinggalkan oleh cinta pertamanya membuat seorang Ferry menjadi lemah.


Namun, rasanya sudah cukup ia menangisi nasib cintanya yang tragis. Kini saatnya bagi Ferry, merebut apa yang selama ini menjadi keinginannya. Kemudinya membalas rasa sakit yang ada di hatinya.


Ferry sudah terlihat rapi, namun pakaian yang ia kenakan tidak seperti biasanya. Ferry jauh terlihat rapi dengan setelan jas warna hitam serta sepatu dengan warna senada. Ia seperti pengusaha sukses, entah apa yang sedang ia rencanakan yang jelas ada sebuah tekad kuat yang tergambar jelas di wajahnya.


Drettt... Drettt...


Handphone milik Ferry bergetar, tangannya langsung merogoh saku jas yang ia kenakan.


"Hallo," suara Ferry terdengar berat di sambungan telpon.


"Kapan kamu pulang ke rumah Fer?" Mama Ida mencemaskan putranya. Suaranya terdengar sedikit bergetar. Ia sedikit senang, karena akhirnya Ferry mengangkat telpon darinya.


"Tunggu sampai urusanku selesai Ma, Ferry matikan ya Ma. Saat ini ada yang harus Ferry lakukan," tanpa mendengar jawaban dari Mamanya, Ferry langsung memutuskan pangilan telponnya.


Ferry keluar dari sebuah bangunan, tempat yang ia tinggali cukup besar dibanding bangunan disekitarnya. Tempat yang Ferry tinggali saat ini lebih menonjol dari pada bangunan di kanan kirinya.


Ia sekarang sudah pindah di kota yang sama dengan Sora, wanita yang membuatnya merana. Dengan langkah mantap, Ferry akan meminta bayaran secara tunai pada wanita yang sudah membuang dirinya seperti sampah.


Di tempat yang berbeda, Sora sudah pulang ke rumahnya. Ketika membuka pintu, Sora hampir terhenyak. Karena Alan duduk terpaku di ruang tamu.


"Haduh Mas, Mas membuatku terkejut saja!" kata Sora sembari meletakkan kantong belanjaann yang ia beli barusan.


"Iya, aku tadi nyari kamu. Bangun tidur kamu sudah tidak ada," Alan memejamkan kedua matanya. Seolah ia merasakan sesuatu yang tidak enak. Sebuah firasat buruk mengelayut dalam pikirannya.


"Ada apa Mas? Muka mas kok aneh begitu?"


"Tidak apa apa," jawab Alan menutupi gunda di hatinya.


"Mas gak ke kerja?" tanya Sora, ia memperhatikan Alan yang hanya diam saja.


"Iya ini mau mandi," suami Sora itu langsung bangkit, menyambar handuk yang ada di gantungan dan bersiap untuk mandi.

__ADS_1


Sedangkan Sora sendiri, ia akan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Tidak butuh waktu lama bagi Sora untuk memasak, karena kini keterampilan masak memasaknya lumayan sudah berkembang.


Cekrek..


Alan keluar dari kamar mandi, rambutnya yang selesai keramas masih basah. Air masih menetes turun hingga ke pundaknya yang lebar. Ia keluar dari kamar hanya dengan memakai handuk yang meililit di pinggangnya. Dadanya yang kotak-kotak membuat siapa yang memandanginya akan menelan ludah. Lukisan alam yang memanjakan mata kaum hawa.


"Ra, pakaian Mas dimana ya?" Alan mendekati istrinya yang masih berjibaku di dapur.


"Ada, di lemari gantung. Kemarin sudah aku setrika kok," jawab Sora, tanpa menoleh pada sumber suara. Ia tetap fokus dengan apa yang ia lakukan.


Bukannya mencari pakaiannya, Alan justru menghampiri sang istri yang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka. Pria itu malah memeluk Sora dari belakang, membuat Sora terhenyak untuk sesaat.


"Ya ampun, mengagetkan saja Mas ini," ujar Sora.


Tidak peduli dengan reaksi keterkejutan dari istrinya, Alan justru memutar tubuh Sora. Hingga kini mata mereka bebas saling memandang tanpa ada halangan diantara keduanya.


Sora yang tinggi badannya jauh lebih rendah dari sang suami, hanya mampu mendonggak menatap paras tampan Alan yang sedang mengoda dirinya. Sora dapat bebas menikmati pemandangan yang menyejukkan matanya itu.


Wanggi sabun yang keluar dari tubuh Alan menusuk dan mengusik ketentraman jantung Sora, apalagi suaminya terus menatap dirinya dengan intense. Hal itu lantas membuat detak jantung Sora mengalun tidak beraturan.


"Aku dapat mendengar irama jantungmu Sora," ucap Alan sembari menggoda istrinya.


Sora hanya diam, ia malah semakin mempererat pelukannya. Rasanya ia ingin berlama lama di tempat yang paling nyaman itu. Ia juga bisa lebih leluasa, menikmati wangi tubuh Alan yang membuatnya menelan ludah.


Setelah pelukan yang cukup lama dan dalam, Alan pun melepas tautan tubuh mereka. Ia menatap dalam ke mata Sora, seakan mencari sesuatu yang terpendam dibalik sana. Perlahan ia menurunkan wajahnya, sehingga jarak wajah mereka menjadi cukup dekat.


Cup...


Alan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir manis Sora. Membuat bibir itu seketika terkembang. Istrinya tersenyum malu malu kucing, pipinya langsung bersemu merah jambu. Mereka seperti ABG yang baru berpacaran.


Nyatanya, mereka adalah pasangan kadaluarsa. Pasangan suami istri yang sudah lama hidup bersama. Namun kali ini rupanya Alan ingin beromantis ria dengan sang istri. Dari pagi ia sudah bersikap manis, dimulai dengan pelukan dari belakang yang ia lakukan.


Sebuah romansa yang hangat, inilah yang diidam idamkan oleh hati Sora selama ini. Tidak perlu kemewahan yang serbah wah, perhatian yang kecil dan tulus cukup membuatnya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.

__ADS_1


"Wajahmu memerah, seperti kepiting rebus," ledek Alan sembari mencubit pipi Sora yang cubby.


Sora hanya bisa menjawab candaan Alan dengan sebuah senyuman, hatinya masih berdesir karena ulah Alan pagi ini.


"Mengapa hanya tersenyum, katakan sesuatu," tambah Alan.


"Apa yang harus aku katakan Mas? Biarlah hati ini yang berbicara," Sora memegang tangan suaminya dan meletakkan tangan Alan tepat di jantungnya.


"Kamu sakit jantung Ra," tanya Alan terkekeh. Dengan jelas tangannya dapat menangkap irama jantung Sora yang seakan memburu dirinya.


Sora langsung tersenyum, sebuah senyum kecut mencuat di ujung bibirnya. Membuat Alan langsung menangkapnya dengan sempurna.


Cup.. Cup..Cup..


Tiga kecupan menghantam Sora dengan cepat dan berurutan. Membuat wanita itu tertawa lepas, Sora merasa bahagia mendapat perlakuan yang manis dari sang suami secara bertubi-tubi. Ia merasa menjadi wanita yang paling bahagianya untuk saat ini.


"Sudah sudah, cepat pakai baju!" Sora melepas dekapan hangat suaminya. Ia rasa sudah cukup waktu bermain-main dengannya. Nanti Alan terlambat berangkat kerja.


"Iya, Mas ganti baju dulu ya. Sora gak mau ngintip?" goda Alan.


Seketika mata Sora langsung membulat sempurna, membuat Alan langsung melangkah menjauh meninggalkan istrinya.


Beberapa menit kemudian, Alan sudah keluar dari kamar. Pria itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Alan pun menghampiri Sora yang sedang membuat kopi panas untuk dirinya.


"Harum sekali Sora," ucap Alan sembari memeluk Sora dari belakang.


"Yang harum itu aroma kopinya atau aku Mas?


Bersambung


***


Wah, author lagi sedih. Rate Istri Untuk Suamiku mulai menurun. Semangat author untuk menulis pun langsung down.

__ADS_1


Bantu Rate Bintang Lima ya teman teman 🤗


__ADS_2