Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Satu Hati Dua Cinta


__ADS_3

"Kalau aku memang wanita penghibur bagaimana?" ucap wanita muda itu dengan lantang, tatapan mata wanita tersebut begitu tajam. Stella menatap kedua bola mata Alan tanpa rasa takut sedikipun. Tidak ada rasa takut dalam diri wanita itu. Stella begitu berani, jiwanya sudah lama berkelana. Tubuhnya sudah kebal dengan semua rasa takut yang sudah menjadi sahabatnya sejak ia bergelut dengan dunia malam.


Lembah hitam yang ia tinggali selama ini, membuat Stella tumbuh menjadi wanita yang tangguh. Rasa perih bagai makanan sehari-hari, cacian dan umpatan sudah biasa keluar masuk dari ruang dengarnya.


Stella yang malang, masa muda ia habiskan bersama para pria hidung belang yang datang menghampiri dirinya. Jalan hidup yang terjal ia lawan, semua demi penghambaan pada uang yang membuat bola matanya semakin berbinar- binar. Itulah Stella, ia sudah biasa menukar tubuhnya dengan rupiah yang tidak seberapa bagi para pria kaya raya yang membeli jasanya.


Alan menatap sinis pada wanita muda yang tidur satu ranjang dengan dirinya. Ia memandang remeh pada raga Stella yang sudah melayani nafsunya. Pria tersebut seakan lupa dengan rasa yang ditinggalkan oleh Stella.


Sikap Alan seperti kacang lupa akan kulitnya, setelah selesai bermain dengan Stella ia ingin membuang Stella begitu saja. Hal itu sama persis seperti yang dilakukan oleh para pria hidung belang kebanyakan.


Tidak terima dengan tatapan Alan yang seakan menghina dirinya, Stella pun mulai bereaksi. Dengan harga diri yang memang tidak ada harganya, Stella mulai bangkit. Dengan kasar ia meninggalkan Alan yang yang masih terbaring disisinya.


Stella merasa terhina, meski dirinya memang sudah sangat hina. Namun, hati kecilnya menolak sangat keras segala bentuk hinaan yang dilontarkan Alan pada dirinya.


Ia tetaplah seorang wanita, Stella masih memiliki apa itu yang namanya perasaan. Dengan sangat angkuh, Stella menaikkan dagunya. Ia berjalan meningalakan Alan dengan kesal.


"Hey... Kau mau kemana?" teriak Alan. Pertanyaan Alan mampu menghentikan langkah Stella untuk sesaat.


Wanita muda tersebut langsung mengerem kedua kakinya. Tubuh Stella spontan terdiam mematung, ia menghentikan langkah kakinya. Namun ia gengsi untuk menoleh ke arah pria yang bertanya pada dirinya. Stella lebih memilih diam, berharap Alan akan menghampiri dirinya.


Stella sedang bermain-main dengan imajinasinya, berharap Alan akan memeluknya dari belakang. Dan segera meminta maaf atas ucapannya yang terdengar sedikit kasar bagi Stella.


Ia berharap pria tersebut kembali memperlakukannya dengan lembut dan sangat mesra. Tanpa Stella sadari, sudut bibirnya saat ini mulai tertarik ke samping. Wanita muda itu tersenyum dengan lamunan yang ia ciptakan. Pikirannya begitu senang, ia mengira Alan menginginkan dirinya kembali.


Plok...


Sebuah amplop coklat muda jatuh tepat di bawah kaki Stella. Alan telah melempar sebuah amplop coklat yang berisi segebok uang untuk Stella, sebagai konpensasi atas perbuatannya pada Stella.


Wanita muda itu kini tambah semakin marah, ia benar- benar merasa Alan sudah menginjak injak harga dirinya. Dengan tatapan sini, Stella menyambar amplop coklat tersebut. Tanpa menoleh pada Alan, Stella meningalakan Alan dengan segebok uang yang sudah di lempar ke arahnya. Walau merasa sangat terhina, Stella tetap memungut uang pemberian dari Alan.

__ADS_1


Uang tetaplah uang, wangi uang sedikit menghibur rasa sakitnya. Baginya hari ini mungkin ia akan mengalah dulu pada Alan, namun Stella tidak yakin pada kesempatan yang akan datang. Akan tiba masanya, Alan sendiri akan bertekuk lutut di hadapan dirinya. Wanita itu mengeluarkan senyum yang penuh dengan misteri. Ambisinya sudah mulai mencuat.


Stella kini sudah memakai pakaiannya kembali, sedangkan kemeja Alan ia letakkan di sembarang tempat. Sebagai tanda bukti bahwa ia sudah melakukannya dengan sang pemilik rumah.


Wanita muda itu sudah berdiri di depan gerbang rumah Alan. Ia sedang menunggu sebuah taxi yang sebelumnya sudah ia pesan.


Tidak menunggu waktu lama, taxi yang Stella pesan sudah datang menghampiri dirinya. Dengan gaya anggunya, wanita muda itu membuka pintu mobil.


"Antarkan saya ke apartemen jalan Puri Indah Pak," perintah stelah pada driver taxi online yang ia tumpangi. Dan mobil pun melaju ke tempat tujuan.


Stella meningalakan kediaman Alan, namun hatinya berjanji bahwa ia akan segera datang kembali. Wanita itu akan datang bukan sebagai tamu yang tidak diundang. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia yakin akan segera menempati rumah yang megah itu. Tekadnya begitu kuat, ia akan mengejar apa yang menjadi keinginan hatinya.


Satu jam berlalu, Stella sudah sampai di sebuah apartmen yang cukup mewah untuk sekelas wanita penghibur seperti dirinya. Jangan tanya harta yang dimiliki Stella, selain pandai memikat hati para pria ia juga pintar mengatur keuangan.


Wanita muda itu sangat lihai memindahkan nominal uang dari rekening suami orang ke rekening pribadinya. Jangan tanya suami siapa. Pelangannya selama ini dari kalangan pejabat dan para pengusaha, baik yang masih muda maupun yang sudah tua renta.


Stella sudah sejak lama melalang buana di dunia yang gelap dan penuh dosa ini. Tempat hiburan malam baginya seperti rumah kedua. Dan minuman alkohol sudah seperti air putih yang ia tengak setiap hari.


Ada sebuah rasa yang tertinggal di ujung hatinya, bayang -bayang wajah Alan berlarian di dalam kepalanya.


"Sial...," umpat Stella. Ia membanting kedua kakinya tepat di atas ranjang. Ia merasa sangat prustasi dan kesal jika mengingat Alan.


Tidak biasanya ia terbawa perasaan ketika dalam sebuah permainan. Namun, kali ini Stella seperti jatuh pada lubang yang ia ciptakan sendiri. Ia semakin kesal ketika mengingat ekspresi Alan yang justru melempar dirinya dengan uang.


Stella seperti benar-benar telah kehilangan harga diri tanpa sisa. Tangannya kembali mengepal, kedua giginya saling bertautan.


"Tunggu saja tanggal mainnya!" bisik Stella dengan lirih.


Tidak ada yang mendengar bisikan yang keluar dari bibir lembutnya, karena ia hanya tinggal seorang diri tanpa keluarga atau teman. Stella seperti orang gila saja, ia berbicara sendiri beberapa kali. Jika ada yang menyaksikan dirinya saat ini, pasti sudah mengira ia orang gila.

__ADS_1


Di lain tempat, Sora sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah. Ia ingin segera tau hasil dari rencana yang ia ciptakan terhadap suaminya. Berkali- kali ia menatap jarum jam yang menempel pada tangannya.


Masih ada waktu satu jam sebelum waktunya pulang. Sora memilih bermain-main dengan smartphonenya. Ia sedang melihat beberapa postingan teman-temanya di media sosial. Begitu banyak sekali temannya yang memposting foto keluarga mereka. Dan banyak pula yang memposting foto-foto putra putri mereka. Semua sangat nampak lucu di mata Sora. Ia semakin tidak sabar memiliki seorang buah hati, nada telpon masuk membuyarkan lamunan Sora.


"Sora," sapa orang di seberang telpon.


"Iya," jawab sera dengan sedikit hati yang berdebar.


"Apa kabar?"


"Baik Mas,"


"Sibuk?"


"Ini masih di kantor, mau pulang tapi belum waktunya," ucap Sora dengan perasaan yang aneh. Ia seperti gadis remaja yang ditlepon oleh pacarnya. Dengan sembunyi sembunyi agar tidak ketahuan Papa Mamanya. Sora seperti maling yang takut ketahuan.


"Bisa ketemuan?" tanya pria di seberang dengan penuh harap tentunya.


"Emmm... Bisa,"


"Aku jemput ya, sekarang?"


"Iya.." jawab Sora dengan suara kalemnya.


Bersambung


***


Hai para Pembaca dan para Author semua, terimakasih atas dukungan kalian selama ini. Jangan bosan-bosan memberi dukungan ya, Salam hangat dariku 💕

__ADS_1


Terimakasih ❤


__ADS_2