
Alan tanpa pikir panjang membawa Sora dan Ale putra putranya pulang bersama mereka. Tidak peduli dengan apa yang terjadi nantinya. Yang penting mereka harus berkumpul tak terpisahkan. Setidaknya itulah yang ada dalam benak Alan saat ini.
Mereka semua masuk ke dalam mobil. Ale duduk di pangkuan sang Bunda, dari tadi ia terlihat ceria. Mungkin karena ada sosok Alan di sampingnya. Ale selama ini hanya tinggal bersama Bunda dan seorang suster yang menemaninya sehari hari. Jadi wajar anak itu terlihat begitu gembira saat ini.
"Ale, apa kamu senang? Kita akan ke rumah Ayah?" Tanya Alan sembari tetap fokus pada kemudinya.
Tidak menjawab dengan kata-kata, Ale hanya mengangguk kepalanya berulang. Lucu dan sangan mengemaskan, Alan begitu menyukai sosok poto kopian dirinya itu.
Sora sendiri juga ikut senang, kebahagiaan hanya seputar Ale dan Alan. Dua laki-laki yang paling ia cintai di dunia ini. Bagi Sora mereka seperti separuh jiwanya, bila salah satu dari mereka tidak ada maka hidupnya tidak ada artinya.
Tidak terasa, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup megah. Pagarnya menjulang tinggi membedakan rumah yang satu dengan yang lainnya.
"Sudah lama tinggal di sini Mas?" Tanya Sora ketika mobil berhenti tepat di depan garasi.
"Satu tahun," ucap Alan datar. Pikirannya mulai bercabang. Ia pindah kemari setelah menikah dengan Riana. Aduh, Alan binggung nanti ceritanya bagaimana ke Sora.
"Bunga-bunganya indah sekali, seperti ada yang merawatnya,"
Jleb, waduh... Alan tambah makin pusing. Kepalanya mulai berkunang-kunang. Bagaimana nanti? Duh Gusti.
"Ayo masuk dulu!" Ajak Alan. Ia enggan menceritakannya sekarang, nanti saja. Batin Alan.
"Ayo sini, Jagoan Ayah!" Alan langsung mengendong Ale di atas pundaknya. Mereka bertiga pun memasuki rumah Alan yang baru nan mega.
Rumah terlihat tertata rapi dan indah, pilihan korden pun nampak serasi. Pasti yang mendesain semua ini memiliki seni yang tinggi. Pikir Sora.
"Duduklah dulu, akan aku ambilkan minum." Alan pergi ke dapur untuk mengambilkan minum buat Sora dan putranya.
Sora bangkit dari duduknya, matanya menelusuri tiap sudut ruangan. Saat asik mengamati furniture rumah Alan yang baru, mata Sora tiba-tiba mulai berkaca-kaca.
Bulir bening tak mampu ia tahan lagi setelah melihat sebuah potret yang terpampang di sebuah pigura yang besar. Itu adalah foto pernikahan suaminya dengan gadis yang ia kenal.
Hati Sora hancur berkeping keping, dadanya sesak nyeri tak terkira. Ia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi padanya.
"SORA," Pekik Alan ketika melihat Sora menatap nanar pada pigura yang menempel di dingin ruang tamu.
Sora tak bergeming, ia pun merosot. Bersimpuh di atas lantai yang dingin. Hatinya hancur menjadi kepingan yang tak bersisah.
__ADS_1
"Sora, dengar aku Sora!" ucap Alan yang mencoba memberi penjelasan pada Sora perihal pernikahannya.
Setelah mengumpulkan kekuatan yang tersisa, Sora bangkit. Meraih tangan Ale putranya.
"Ale, ikut Bunda. Ini bukan rumah Kita." ucap Sora dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Jangan pergi, jangan mencoba lari dariku lagi Sora!" ucap Alan dengan penuh nada ancaman. Mungkin ia sudah lelah, karena selama ini Sora meninggalkan dirinya dalam kesunyian dan kehampaan. Matanya merah menyala menatap Sora.
"Mas sudah menikah lagi, untuk apa aku di sini?" Tanya Sora dalam tangisnya.
"Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah ini tanpa seijinku!" Seru Alan.
"Tapi Mas sudah menikah!" Teriak Sora, hingga putranya merasa ketakutan. Karena melihat Bundanya selama ini yang tidak pernah berteriak mendadak berteriak pada pria yang katanya adalah sang Ayah.
Alan langsung berjaan menuju Ale, ia mengendong putranya.
"Kamu mau memisahkan kami lagi?" Alan yang semula marah kini tak berdaya, meskipun kenyataannya bahwa ia sudah beristri. Cintanya hanya untuk Sora.
Apa lagi mereka ternyata sudah memiliki Ale, hati Alan tak kuasa menerima takdir yang rumit ini.
"Langkahi dulu mayatku!" Alan kembali menegas. Baginya ia hidup juga percuma bila Sora terus saja menghindar darinya.
"Mas sudah bahagia, buktinya sudah menikah lagi dan melupakan Sora," gumam Sora lirih. Matanya sudah sembab parah. Suaranya juga sudah semakin serak. Kehadiran ini bagai petir yang menyambar hatinya yang paling dalam.
"Kata siapa aku bahagia? 1000 Hari lebih aku hidup dalam kesedihan yang dalam, tanyakan pada Riana berapa aku putus asa dan hampir menyusulmu ke neraka? Tanyakan pada dia yang masih hidup!" Teriak Alan.
Selama ini Riana menjadi pengobat bagi Alan. Kepergian Sora seperti racun yang mengerogoti jiwa Alan selama ini. Pria tampan itu hampir mengakhiri hidupnya, menyusul Sora untuk selama lamanya. Namun di gagalkan oleh Riana. Bagai seorang dokter, Riana menyembuhkan luka hati Alan dengan sabar dan tak kenal putus asa.
Sora tak bisa berkata-kata, ia mulai sadar. Ini semula bermula darinya, semua ini adalah kesalahan terbesar Sora.
Ia mengusap ke dua pipinya yang sudah basah, mendekati Ale yang masih dalam pelukan Ayahnya.
"Berikan Ale padaku, Mas." pintanya dengan tatapan penuh permohonan.
"Ale akan tetap di sini, begitu juga dengamu. Kita tidak pernah bercerai, kamu masih istriku sepenuhnya," Alan mencoba mencari alasan agar Sora memyerah untuk lari darinya.
"Lalu bagaimana dengan Riana?" Kembali lagi Sora berkaca-kaca, nasib apa ini yang sedang menimpa mereka bertiga.
__ADS_1
"Keputusan ada di tangan Riana, urusanku hanya kamu, Sora. Kamu dan Ale yang paling penting dalam hidupku." Tutur Alan dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Aku wanita, aku tahu betul bagaimana di posisi Riana. Mungkin ini saatnya kita benar benar harus berpisah,"
"Bicara apa kamu, Ra? Sampai mati pun aku tidak akan melepasmu!" ancam Alan.
Keduanya tidak sadar, sedari tadi sepasang mata menyaksikan perdebatan sengit mereka. Riana menatap dengan nanar, rasanya tak sanggup mendengar lagi ungkapan perasaan sang suami kepada istri pertamanya.
Matanya sudah mulai basah, hatinya terasa pedih mendapati kenyataan Sora, istri pertama suaminya telah kembali.
Tidak tahan lagi dengan apa yang di saksikannya, Riana pun lari dari sana. Tanpa sengaja kakinya menyengol sebuah pot bunga. Menimbulkan suara yang membuat Sora dan Alan menyadari kehadiran Riana.
"Riana," pekik Alan.
Riana lari dengan kencang menuju jalanan. Hatinya kalut hingga ia tidak menyadari sebuah mobil melesat ke arahnya.
Bruakk...
Tubuh Riana terpental di tengah aspal hitam pekat. Darah berkucurkan keluar dari sekujur tubuhnya.
"Rianaaa," Alan berlari mendekati tubuh Riana yang berlumuran darah.
Sora pun sama, ia berlari dengan mengendong Ale.
Alan membopong tubuh Riana di bibir jalan, "Bertahan Riana, bertahanlah!"
"Sora, panggil ambulan. Cepat!" titah Alan. Wajahnya cemas melihat darah yang sangat banyak.
Dengan susah payah Riana meraih tangan Alan. Ia mengengam dengan erat. Kemudian ia menatap Sora.
Sora pun berjongkok, agar bisa mendengar apa kata Riana.
Riana dengan sisa sisa kekuatan yang ia punya, menyatukan tangan Alan dan Sora. Ia menatap senyum pada Ale yang menatapnya untuk yang terakhir kalinya. Beberapa detik kemudian, Riana telah memejamkan mata untuk selama lamanya.
Riana meninggalkan dunia dengan tenang, mungkin di dunia ini tidak ada cinta untuk dirinya. Alan hanya untuk Sora.
TAMAT
__ADS_1