Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Penghianatan Yang Manis


__ADS_3

Hari Sora sudah berbunga-bunga lantaran ia akan berjumpa dengan Ferry, seorang laki-laki yang mampu membangkitkan gairah cintainya yang sempat padam. Ferry sedang menunggu dirinya di parkiran mobil.


Mata Sora menelusuri ke semua arah ketika ia sudah sampai tempat parkir, dicarinya sosok Ferry yang harusnya sudah berada di sana. Setelah beberapa saat tak kunjung mendapati sosok Ferry, ia mengambil ponselnya. Sora hendak menghubungi laki-laki tersebut. Belum juga menekan tombol hijau pada layar ponselnya, suara klakson mengalihkan perhatian Sora.


Sebuah mobil berhenti tepat di samping Sora, dari kaca pintu depan, sebuah kepala menyembul dari dalam.


"Masuklah," ucap Ferry.


Sora melirik ke kiri dan kanan, setelah dirasa semua sudah aman barulah ia masuk ke dalam mobil tersebut.


"Mau kemana?" Sora bertanya sembari memasang sabuk pengamannya.


"Nanti juga kamu tahu Ra,"


"Jangan lama-lama, nanti Mas Alan akan merasa curiga!" kata Sora dengan nada memohon.


Mendengar Sora menyebut nama Alan, entah mengapa hati Ferry panas seketika. Ada rasa cemburu yang memaksa masuk dalam relung hatinya. Pria itu merasa iri dengan pemilik Sora yang sesunguhnya. Ferry semakin kesal, karena ia hanya sebuah pria cadangan.


"Ke rumahku ya Ra,"


"Hemm..."


Tanpa banyak kata, Ferry memacu kendaraan yang ia kendarai melaju memecah kesunyian. Baik Sora maupun Alan sama sama diam di sepanjang perjalanan. Entah sama-sama lelah atau terlalu banyak pikiran, yang jelas keduanya memiliki beban yang sedang di tanggung masing-masing.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai si rumah Ferry, karena Ferry tadi menyetir seperti Valentino Rosie. Ia begitu cepat memacu kemudinya, rasa kesal dan cemburu membuatnya ingin ngebut saja kala itu.


Kini mobil sudah terparkir rapi di dalam garasi rumahnya, Ferry dengan sigap membukakkan pintu untuk Sora.


"Ayo masuk lah, anggap rumah sendiri," ajak Ferry.


"Mungkin suatu hari nanti, jika kamu mulai lelah dengan Alan. Kemarilah, pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk dirimu Ra," suara hati Ferry.


Dengan langkah ragu-ragu Sora melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah Ferry. Rumahnya cukup tertata rapi untuk ukurang penghuni seorang pria.


"Tinggal sama siapa Mas?" tanya Sora penasaran.

__ADS_1


"Ya sendiri Ra, masih nunggu kamu,"


Deg, jantung Sora hampir saja berhenti berdetak. Wanita itu langsung berusaha menormalkan sikapnya kembali. Jujur saja ia begitu terkejut dengan keterus terangan Ferry. Entah mengapa menurut Sora, Ferry kini jauh lebih berani mengungkapkan perasaannya. Berbanding terbalik dengan saat ia muda dulu. Laki-laki itu begitu pandai menyimpan rapat-rapat rasa cintanya untuk Sora. Begitu Sora sudah berstempel milik orang, dengan berani Ferry mengungkapkan seluruh isi hatinya.


"Ra..." panggil Ferry, karena Sora terlihat melamun pasca kata-kata yang meluncur dari mulutnya.


"Iya,"


"Mau minum apa?"


"Tidak usah repot-repot, air putih saja," jawab Sora.


Ferry pun masuk ke dalam dapur, ia mengambil gelas dan membuka lemari pendinginnya. Ia mendesis, karena kulkasnya kosong. Hanya beberapa minuman kemasan yang bertenger di dalam kulkasnya.


"Mas, kamar mandinya di mana?" tanya Sora karena ia ingin memenuhi pangilan alam.


"Kamar mandi yang disana keran nya macet. Kamu masuk saja sebelah sini," Ferry menunjuk kamarnya sendiri. Ada setan jahat yang membisikkan sesuatu di telinga Ferry kala itu.


Tanpa merasa curiga sedikipun, Sora masuk ke dalam kamar pribadi milik Ferry. Karena buru-buru kebelek pipis, Sora tidak memperhatikan isi kamar pria tersebut. Baru setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, mata Sora berselancar di sepanjang ruangan pribadi milik Ferry.


Cekrek..


Suara pintu dibukak mengalihkan perhatian Sora, wanita itu langsung menoleh ke arah pintu.


"Lihat apa Ra?" tanya Ferry sembari mendekat ke arah Sora.


"Oh tidak, cuma lihat-lihat," Sora berencana akan meninggalkan kamar. Ia melangkah dengan buru-buru seperti salah tingkah.


"Mau kemana?" Ferry berhasil meraih pergelangan tangan Sora. Hal itu berhasil membuat Sora berhenti seketika.


Ferry menarik pergelangan tangan wanita yang selama ini ia gilai. Tarikan tersebut sukses membuat tubuh keduanya merapat. Mereka bertabrakan lembut seperti akan berpelukan.


Laki-laki itu sudah di ujung kesabaran, rasanya ia tidak mampu lagi menahan gejolak di dalam jiwa. Perlahan Ferry merendahkan kepalanya hingga hanya berjarak beberapa inci dari wajah Sora.


Cup..

__ADS_1


Ferry mengecup bibir yang ranum itu, terasa manis di indra perasa milik Ferry. Ada aroma cherry di dalam kecupan singkat tersebut.


Sora tertawa di dalam hatinya, bukan karena sesuatu yang lucu. Namun ia teringat sebelum bertemu dengan Ferry, dirinya memakan permen kiss rasa cherry.


"Manis ya?" Sora mulai mengoda pria yang suci itu. Pria yang menjaga hatinya bertahun-tahun untuk dirinya seorang.


Ferry tidak menjawab, ia malah kembali menempelkan ujung bibirnya.


Untuk saat ini hati Ferry terasa terbakar, hingga ia tak kuasa menahan. Ferry melepas kancing kemeja yang ia kenakan, ia membukanya satu persatu.


Mata Sora yang semula terpejam, kini terbuka sempurna. Ia dapat menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat jantungnya semakin meletup hebat. Ferry kini hanya mengenakan celana panjang. Kemejanya entah sudah ia lempar kemana.


Tangan Sora mulai menjalar, tangan yang kelewat kreatif itu tengah menelusuri dada Ferry yang kotak-kotak. Ada perasaan kagum yang membuncah pada hatinya. Pesona Ferry membuat Sora menjadi tidak tahan. Godaan yang ada di depannya terasa sayang untuk ia lewatkan.


Mendapat sentuhan halus dari Sora, semakin menambah semangat bagi Ferry.


Ferry yang semakin berani. Keduanya tengelam dalam sebuah aksi gila yang meleburkan hasrat yang terlarang.


"Ra.." bisik Ferry di telinga Sora setelah ciuman mereka usai.


"Hemm.." Sora menatap ke dalam mata Ferry. Ia dapat merasakan kegundaan yang mendera pria tersebut.


"Maukah kamu melakukannya denganku?" tanya Ferry dengan banyak pengharapan agar wanita tersebut mau melakukan permintaan nya.


Mata Sora langsung beralih, rasanya ia tidak bisa menatap wajah Ferry untuk saat ini. Ia memang sudah gila, dengan berani bermain api dengan pria lain. Namun, nalurinya menentang. Seakan melarang perbuatan yang sangat tercela itu.


Sedangkan Ferry masih diam terpaku, menanti jawaban atas permintaannya. Akankah Sora memberikan dirinya sepenuhnya kepada Ferry?


Bersambung


***


Hai para Pembaca dan Author kesayangan, jangan lupa selalu dukung author ya.... Dengan tekan tombol Like, Komen, Vote dan Bintang Lima ya... Terimakasih ❤


Salam hangat dariku 🍒

__ADS_1


__ADS_2