Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Benih Alan


__ADS_3

Ditenga hujan lebat disertai petir yang menyambar, Riana sama-sama mempertahankan ego mereka masing masing. Baik Alan maupun Riana tidak ada yang mau beranjak dan mengalah. Alan masih tengelam dalam kesedihan yang tak berkesudahan, sedangkan Riana bertahan dengan cinta sebelah tangannya.


Cukup lama mereka bertahan pada pendirian mereka, hingga beberapa waktu kemudian saat hujan telah reda, ketika langit kembali cerah. Alan bangkit, ia berbalik hendak pulang. Dan alangkah terkejutnya ia. Riana tersungkur di atas tanah pemakaman di belakannya.


Ternyata gadis itu pingsan tanpa sepengetahuan Alan. Pria itu baru sadar ketika ia berbalik akan pulang.


“Riana!” pekik Alan. Ada raut kecemasan tergambar jelas diwajahnya. Ia tidak mengira gadis kuat itu akan tumbang juga. Aduh Alan, Riana juga seorang wanita. Bisa jadi ia membusungkan dada berkata bahwa ia kuat, ia tangguh tapi hati wanita itu rapu, fisiknya pun demikian tidak sekuat perempuan.


Beda sekali kan dengan Soramu? Wanita yang sepanjang hidupnya selalu menangis, namun memiliki ketanguhan yang hebat, sayang sekali. Soramu telah pergi. Akankah ia kembali?


Alan merengkuh tubu Riana, ia membopong tubuh gadis itu menuju mobilnya. Matanya sekilas melihat sosok Sora, ia seperti mengingat bagaimana wanitanya direngut di depan matanya. Alan mulai panik, kejadian ini mengingatkannya pada Sora yang telah pergi meninggalkannya.


“Bangun Riana, Riana!” teriak Alan berkali kali. Tubuh Riana kala itu sangat dingin, guyuran air hujan yangmenerpanya berjam jam membuat gadis itu akhirnya tumbang. Alan pun membawanya ke dalam mobil. Mereka langsung menuju rumah sakit terdekat.


“Suster, selamatkan wanita ini!” ucap Alan ketika sampai di rumah sakit. Kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu mendadak muncul dalam kepalnya. Rasa kehilangan sepertinya telah memporak porandakan pikiran waras pria tersebut, mendadak Alan menjadi linglung.


“Bapak tunggu di luar, biar Dokter yang akan menangani,” ucap seorang perawat sembari menutup pintu kamar.


Alan keluar dari ruangan tersebut. Ia lantar menghubungi Ayah Riana.


Beberapa saat kemudian, Dokter muncul menemui Alan. “Bapak tenang saja, istri bapak tidak apa-apa. Kami suda memberikan infus, semoga lekas sembuh,”


Setelah mengatakan hal itu, Dokter pun berlalu.


“Istri?” gumam Alan dengan lirih. Ngawur sekali Dokter tersebut, siapa yang bilang Riana adalah istrinya? Istrinya hanya satu. Soraya, kini telah pergi jauh. Entah ke surga atau terjerumus dalam neraka?


Alan masuk dalam kamar, ditatapnya Riana dari kejauhan. Menatap wajah tak berdaya itu Alan kembali teringat Soranya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, memejamkan matanya sejenak. Perasaanya sangat diluar kendalinya, mendadak ia kacau. Rumah sakit hanya mengingatkannya pada takdir buruk yang menghantui jiwanya.


Tidak kuasa berlama lama menatap Riana yang terbaring lemah seperti Sora kala itu, Alan langsung pergi negitu Ayah Riana datang. Ia juga sudah menjelaskan banyak hal pada Ayah Riana tersebut.


Alan kembali pulang, menahan beban kesedihan dalam hatinya.

__ADS_1


LIMA TAHUN KEMUDIAN


Di sebuah apartemen mewah seorang wanita membuka tirai jendela kamarnya, secercah sinar menerpa wajah cantiknya. Ia menatap langit yang cerah dengan perasaan bahagia. Wanita itu sedang menikmati terpaan angin yang menyapa harinya yang indah.


“Selamat pagi dunia,” ucapnya lirih. Disela sela bahagianya terselit sendu yang tak menentu.


Cekrek, terdengar pintu kamarnya di buka.


“Bundaaa...” seorang anak kecil berusia empat tahun lebih, menghambur dalam pelukannya.


“Eh, anak Bunda sudah bangun.” Ucapnya seraya memeluk Ale, putra semata wayangnya.


Wanita tersebut lantas mengendong putra kesayangannya. Mereka menuju ruang keuarga. Pantaskah disebut ruang keluarga? Karena mereka hanya tinggal berdua? Meski berdua, mereka tetaplah disebut keluarga.


Lalu kemana sang ayah? Mengapa Ale hanya tinggal bersama bundanya selama ini?


Ya, mereka sedang dalam persembunyian. Mencoba menjalani hidup baru dengan memalsukan kematian. Sora menatap wajah putranya, Ale Manco Kardinov.


Tidak diragukan lagi Ale putra siapa, dari wajahnya sudah jelas ia putra Ayahnya bukan putra dari selingkuhan Sora. Wanita itu sengaja menghilang dari peredaran lantaran ingin bebas dari belengu masa lalu yang buruk. Noda hitam yang tak akan bisa hilang, Sora memilih mengasingkan diri bersama putranya yang kala itu masih dalam kandungan.


Lantas bagimana sekarang Alan? Apa yang terjadi pada pria tersebut setelah lima tahun berlalu?


Di sebuah rumah yang amat besar, di kediaman barunya Alan sedang makan pagi bersama Pak Danu dan istrinya, Riana.


Pernikanan merekasudah berjalan satu tahun ini, Butuh waktu bertahun tahun bagi Riana untuk mendapatkan hati Alan. Usaha Riana selama ini akhirnya membuahkan hasil, Alan telah menerima dirinya. Entah itu cinta atau malah rasa kasian.


“Pak, Alan berngkat dulu!” ucapnya pada Ayah mertua yang nampak menyeruput kopi buatan Riana.


“Iya, hati-hati Al,” pesan Pak Danu.


Riana hanya diam ketika Alan meninggalkan rumah tanpa pesan padanya. Begitulah rumah tangga Alan dan Riana selama ini. Meski Alan menerima Riana menjadi istrinya, bisa dihitung berapa kali Alan menyentuhnya.

__ADS_1


Riana bagai istri penganti yang dibutuhkan Alan ketika pria tersebut merindukan mendiang istrinya, jangan tanya berapa air mata yang keluar dari dalam mata Riana. Hampir tiap malam ia merana lantaran Alan bersikp dingin pada dirinya.


Sora masih mengakar kuat dalam hati pria tersebut, Riana tidak pernah bisa mengantikan posisi Sora, tidak pernah.


Apartemen Sora, “Bunda, besok Bunda ke sekolah yah. Ale mau pentas,” ucap Ale sembari memainkan mobil mobilan yang berserakan di lantai ruang kerja Bundanya.


“Memang Ale mau pentas apa? Coba kasih bunda lihat!” ucap Sora sembari pandangannya tetap fokus pada berkas yang ada di depannya.


Sebagai single parent, Sora kembali bekerja. Biasanya ia memiliki satu orang suster yang khusus mengurusi Ale. Namun hari ini, susternya libur karena balik kampung. Terpaksa Sora momong sambil bekerja. Untunglah, Ale anak yang tidak rewel.


Ia lebih dewasa dibandingkan usianya, mungkin karena Ale mengerti. Mereka hidup hanya berdua, susah senang hanya mereka berdua. Ale dan Sora saling mengisi ketika merasakan kesepian. Kadang Sora berkeinginan menghubungi suaminya, namun ia urungkan.


Dia tidak berani bertemu dengan suaminya itu, Sora merasa amat bersalah pada Alan. Biarlah ia menghilang dari kehidupan Alan untuk selama-lamanya. Ia sudah sangat bahagia dengan hadia yang Alan berikan padanya, Ale menjadi kado paling indah dalam hidup Sora. Seorang putra telah lahir dari rahimnya. Sebuah keajaiban yang sangat ia rindukan sebelumnya.


Lalu apa kabar ferry? Pria tersebut saat ini masih ada di New York. Ferry sudah berkarir di sana, bersama ibunya ia tinggal disana. Sudah menikah? Belum. Ia masih memendap rasa pada Sora. Yang ia tahu selama ini Sora selamat, hidup bahagia bersama Alan. Itu adalah yang Mama Ida katakan selama ini.


Suatu saat Ferry ingin kembali ke tanah air, namun tidak sekarang. Mama Ida melarang keras putranya kembali ke Indonesa. Ia beralasan, bila Alan mengetahui kehadiran ferry, maka alan akan menyeretnya ke penjara. Itu juga kata kata Mama Ida.


Mama Ida gemar sekali menakut nakuti putranya, tapi ini semua demi kebaikan sang putra. Mama tidak ini Alan benar benar menjebloskan sang putra ke dalam penjara lantara kecelakaan maut yang merengut nyawa Sora.


Kembali ke Indonesia, Alan sedang meeting bersama para klien. Alan menolak laporan yang diberiakn pegawainya. Ia ingin semua direkap ulang, banyak laporan yang tidak sesuai. Wajah semua kariawan nampak tegang. Selepas kepergian Sora, Alan memang banyak berubah. Ia sekarng jarang tersenyum, yang ada alisnya terus menyatu seharian. Selalu adahal yang membuatnya marah dan tidak suka.


Dreeett... drettt


Getaran ponsel milik Sora membuat Ale mendekat ke bundanya.


“Bunda, teleponnn.. BUNDA TELEPONN!” Ale lari lari membawa ponsel milik budanya.


Sora yang sedang berada di kamar mandi, beteriak pada Ale. “Iya, Sayang! Bentar ya.Bunda bentar lagi selesai.”


Sora keluar dari kamar mandi, ia latas mengambil ponsel yang sudah beganti tempat. Tentunya Ale yang bermain main dengan telponnya. Ia begitu terhenyak, tak kala menatap layar ponselnya. Sebuah panggilan masuk membuat hatinya bergetar. Bagaimana ada yang mengetahui nomernya? Ini adalah nomer baru, tidak adayang tahu. Kecuali teman-teman kerjanya.

__ADS_1


“Halo ..haloo..” Rupanya Ale tadi memecet tombol hijau. Suara dari seberang membuat hati Sora bergetar.


Siapa sih yang menelepon Sora?


__ADS_2