
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" raut wajah Alan sudah mulai pucat pasi. Segala kemungkinan yang tidak-tidak sudah memenuhi kepalanya. Dari kemungkinan yang paling buruk, semua sudah bersarang dibenaknya. Alan dengan kepingan hati yang tersisa berharap pada dokter untuk menyelamatkan nyawa istrinya.
"Sabar, Bapak tenang dulu. Pasien masih dalam penangan kami," Dokter meninggalkan Alan yang tengelam dalam ketidakpastian.
Setelah kepergian Dokter tersebut, beberapa Dokter yang lain masuk ke dalam ruangan Sora. Mulut mereka semua tertutup masker dengan rapat, Alan dapat merasakan suasana genting yang sedang melanda kamar tempat Istrinya dirawat. Para Dokter terlihat begitu tegang dan tergesa-gesa. Entah apa yang telah terjadi pada belahan hati Alan tersebut.
Alan terdiam, ia tersungkur di lantai rumah sakit yang dingin. Ada perasaan sesak tiba-tiba menyeruak menembus dadanya. Rasa perih dan takut akan kehilangan seorang sang pendamping hidup yang menemani selama ini membayang-bayangi dirinya.
Di dalam kediamannya, hati Alan mulai berbicara.
*Sora,
Bisahkan kamu bertahan sedikit saja? Kita jemput bahagia Kita bersama-sama.
Sora, jangan biarkan aku berjalan di tempat yang berbeda.
Sora, bukalah matamu, bertahanlah untuk diriku.
Alan masih hanyut dalam kata yang terselip doa dan banyak pengharapan*.
Pria itu sedang menunggu takdir cintanya, berpisah atau tetap bersama. Alan menanti garis Tuhan yang diciptakan untuk dirinya dan Sora.
Waktu berjalan begitu lamban, Alan berkali kali melihat ke arah pintu dimana istrinya masih terbaring. Para Dokter pun tak kunjung keluar dari dalam ruangan. Ada apa dengan Sora? Beribu pertanyaan muncul dalam hatinya.
Tap.. tap ..tap...
Suara langkah kaki mendekat ke arah Alan, semakin lama langkah tersebut semakin jelas terdengar. Alan sempat meilirik dari bawah, siapa pemilik langkan kaki tersebut.
"Apa lagi yang kamu inginkan? Lihat perbuatanmu. LIHAT!" Alan mencengkram kera baju Ferry.
Ferry tidak melawan, ia hanya diam. Membiarkan Alan melampiaskan amarahnya pada dirinya. Apapun yang Alan lakukan, ia akan menerima. Asal ia dapat melihat Sora.
"Ijinkan aku melihatnya!"
"Brengkessss!"
Bukkkk....
Sebuah tinju mendarat di wajah Ferry, membuat hidung pria tersebut mengeluarkan darah. Ferry diam, tidak melawan. Ia hanya ingin diijinkan bertemu dengan Sora. Semua pukulan dari Alan akan ia terima dengan lapang dada.
"Sekali saja, Biarkan aku bertemu Sora," Ferry masih bersikeras untuk menemui Sora.
Karena dalam susana hati yang buruk, Alan mulai terpancing emosinya.
Bakkk... Bukk...
__ADS_1
Berkali-kali ia menghajar Ferry dengan tangan dan kakinya, rasanya ia ingin menyeret Ferry ke dalam neraka sekarang juga.
Ferry yang sudah babak belur, banyak noda darah yang menodai pakaiannya. Diam, ia hanya diam. Ferry masih berusaha memohon pada Alan untuk boleh bertemu dengan Sora.
Dengan persaan geram, Alan menendang tubuh Ferry yang sudah tersungkur di lantai. Beberapa suster yang lewat ingin menolong Ferry. Namun Ferry melambaikan tangannya, ia tidak butuh pertolongan. Ia hanya butuh Sora.
"FERRRRRRRRRY!" Mama Ida berteriak histeris menyaksikan putranya yang dihajar habis habiskan oleh Alan.
"Singkirkan dia dari sini atau saya tidak menjamin keselamatan anak Tante," ancam Alan. Mata Alan menatap tajam pada Ferry yang sudah tidak berdaya.
Mama Ida hanya bisa menangis menyaksikan nasib putranya, ia tidak mungkin marah pada Alan. Karena kecelakaan yang terjadi adalah ulah anaknya. Bila sampai Sora kenapa napa, bisa bisa Alan akan memenjarakan putranya.
"Maaf... Maafkan Tante dan anak tante," Mama Ida tidak mampu berkata kata lagi, bibirnya seperti tertahan untuk bersuara. Semua rasa berkecamuk dalam dadanya, menatap Ferry saat ini, rasa marah dan kasihan menjadi satu.
Mama Ida menangisi nasib putranya, jatuh cinta dengan cara yang salah. Ia pun membawa Ferry menjauh dari jangkauan Alan. Sempat menolak, namun akirnya menurut apa kata mamanya saat Mama Ida memohon iba pada putranya tersebut.
Setelah keributan yang terjadi, pintu pun terbuka. Beberapa Dokter keluar, salah satu menemui Alan yang sudah harap harap cemas menghawatirkan kondisi istrinya.
"Kita tunggu hingga besok pagi, semoga istri bapak bisa melewati masa kritis malam ini," ucap Dokter, sembari menepuk pundak Alan.
Antara senang dan sedih, bila Sora tidak bisa bertahan hingga malam nanti, maka ia akan benar-benar kehilangan istrinya tersebut. Alan mengusap wajahnya dengan kasar, hatinya mulai resah. Apakah ini waktunya melepas Sora? Tidak! Hati Alan menolak dengan keras.
Alan mempersiapkan diri bertemu dengan Sora, ia menguatkan hatinya agar terlihat kuat di depan Sora yang terbaring lemah.
Cekrek... Alan masuk dalam kamar dimana Sora masih tidak berdaya, langkah kakinya terasa berat. Ditatapnya dari kejauhan wajah pucat istrinya.
Waktu itu di sekolah mereka mengadakan acara outbound di alam bebas, Sora nampak antusias dalam kegiatan tersebut. Dari jauh Alan menatap Sora dengan penuh kekaguman. Terlihat Sora begitu ceria bersama teman-temanya. Alan ingin sekali mendekati Sora, namun para gadis gadis adik kelasnya selalu mengerubungi dirinya.
Sampai pada suatu kesempatan, di malam yang gelap. Di bawah sinar rembulan, Alan mencari sosok Sora. Ia menghampiri tenda yang ditempati oleh Sora.
"Cari siapa kak?" tanya salah satu orang yang tendanya dibukak oleh Alan. Wajahnya begitu berbinar-binar, sepertinya ia mengidolakan sosok kakak kelasnya itu. Terlihat jelas sekali kalau ia menyukai Alan.
"Maaf salah tenda," Alan berlalu begitu saja, ia melanjutkan pencariannya kembali. Meninggalkan para pengemarnya terlena oleh pesonanya.
"Sora," pekik Alan ketika mendapati Sora akan masuk dalam tendanya.
"Eh... Ada apa Kak?"
"Dari Mana?"
"Kamar mandi," jawab Sora singkat.
"Ikuti aku!" perintah Alan.
"Sudah malam, mau kemana?"
__ADS_1
"Sudah ayo!" karena Sora tidak langsung menuruti kemauannya, Alan pun mengandeng lengan Sora.
Mereka mencari tempat yang sepi, namun tidak jauh dari lokasi tenda mereka berdiri. Di sebuah hamparan rerumputan yang tipis, Alan merebahkan tubuhnya.
"Lihatnya, bintang nampak indah diatas sana," setelah menatap langit yang penuh bintang, Alan beralih menatap ke dalam mata Sora. Ada bintang tak kalah indah di balik sana.
"Indah banget Kak," Sora ikut berbaring di atas rerumputan di bawah langit yang bertabur bintang.
Keduanya sama sama menikmati malam yang indah.
"Sora, di bawah taburan bintang ini. Aku akan mengucapkan sebuah sumpah. Sebuah janji dari hatiku yang paling dalam," ucap Alan, matanya masih menatap cahaya bintang yang berkilauan.
"Ish, apa sih Kakak!"
"Jangan menikahi pria lain, selain denganku!" ucap Alan.
"Itu bukan sumpah atau janji kak, itu terdengar lebih seperti larangan dan perintah." Sora memandang sinis Alan.
"Aku anggap itu sebagai janji!" Alan bersikukuh.
"Mana ada janji seperti itu?" Sora bangkit dari posisinya semula, sekarang ia duduk bersila. Menikmati pemandangan gelap namun indah, mengandung banyak kedamaian.
"Pokoknya kelak akulah yang akan jadi suamimu!" kata Alan dengan rasa percaya diri.
"Jika aku tidak mau?"
"Aku pemaksa!"
Sora terkekeh mendengar perkataan dari Alan Kakak kelasnya.
"Segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik," ucap Sora. Ia kemudian menatap wahaj Alan yang juga sedang menatap dirinya.
"Kalau aku memaksa dengan cara seperti ini bagaimana?" Alan mendekatkan wajahnya ke arah Sora. Jarak antara mereka hanya beberapa centi saja.
"Bagaimana kalau begini?"
Cup..
Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Sora. Membuat Sora membulatkan kedua bola matanya. Ia terkejut dengan serangan mendadak yang diberikan Alan padanya. Ada desiran lembut yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Malam yang indah, keduanya sudah hanyut dalam lautan asmara. Darah muda mereka sedang bergejolak, meletup-letup menyemburkan percikan cinta. Alan dan Sora berkasih sejak mereka masih muda hingga sekarang.
Alan kembali ke masa sekarang, ingatannya yang indah berubah suram. Karena Sora nya kini terbaring tidak berdaya.
"Soraaaa," bisik Alan ditelinga istrinya.
__ADS_1
Bersambung