
“Ale makan ice creamnya pelan-pelan,” Sora mengambil tisu yang kedua, putranya itu kalau makan memang suka belepotan.
Tidak peduli dengan apa yang dikatakan Bundanya, Ale terus menikmati ice cream rasa coklat dengan wajah polosnya.
Sora tersenyum senang, menatap buah hatinya. ‘Andai kamu ada di sini Mas, menyaksikan tingkah polah Ale buah hati kita. Kamu pasti akan senang, lihatlah dia! Manik matanya sama persis dengan punyamu, bibir kalian pun sama, hidung? Ah, aku sangat merindukanmu,’ Sora bermonolog di dalam relung hatinya yang paling dalam.
Tanpa Sora sadari, Alan saat ini telah berada di dekatnya. Mereka hanya terpisah jarak beberapa meter saja.
“Bunda, Ale mau lagi. Rasa setobeli.” Ale menagih ice cream lagi pada sang Bunda.
“Jangan banyak-banyak, nanti perutnya sakit!” tolak Sora dengan halus.
Ale langsung mengeluarkan jurus andalannya, ia memajukan ujung bibirnya hingga membentuk bidang kerucut yang sempurna.
“Oke, oke.. Bunda belikan. Ale di sini, jangan kemana-mana.” Sora meninggalkan Ale sendirian, ia kembali pesan ice cream.
Saat Sora masih menunggu pesanan, saat itulah Alan berjalan melewati Ale yang duduk sendirian.
“Kamu duluan saja, aku nanti menyusul.” Ucap Alan pada rekannya.
“Baik, Pak.”
Alan tersenyum, ia mendekati Ale yang menurutnya sangat mirip dengannya saat ia kecil. “Hallo..” sapa Alan pada anak laki-laki yang seperti poto kopian dirinya.
Ale menatap wajah pria dewasa itu dengan takut-takut, Bundanya selalu bilang jangan berbicara dengan orang asing. Maka dari itu, Ale langsung lari menuju ke tempat Bundanya yang sedang memesan ice cream untuknya.
Bukkk... Ale langsung memeluk Bundanya dari belakang, Sora sempat terkejut. Ada apa dengan putranya, ia pun berjongkok dan memutar tubuhnya. Hingga keduannya saling berhadapan.
“Tunggu, sabar ya. Ice creamnya sebentar lagi siap.” ucap Sora dengan senyum manisnya pada Ale.
Tidak jauh dari sana, sepasang mata menatap dengan nanar. Alan seperti tersambar petir, baginya ini seperti mimpi. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Alan berpikir ini hanya sebuah ilusi karena rasa rindu yang sudah terlanjur mengunung.
Alan membuang napas dengan berat, sungguh ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Tangannya mengusap sudut mata yang sudah basah, pria gagah itu tidak akan kehilangan kelaki-lakiannya hanya karena sebuah air mata. Alan dengan sejuta luka di hatinya perlahan sadar.
“Sora,” ucapnya lirih. Kakinya berat untuk melangkah. Ingin ia berlari ke arah istrinya yang ia pikir telah tiada. Namun langkahnya begitu berat, Alan tercengang. Ia shock dengan kenyataan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Mataharinya telah terbit, rembulannya telah kembali bersinar. Alan menemukan cintanya yang lama hilang. “Sora,” Alan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Deg, jantung sora mendadak berdegup kencang. Ia seperti tersengat listrik dengan tegangan tinggi. Pelukan Alan membuat dinding pertahannya selama lima tahun ini runtuh. Tidak berani berbalik, Sora menangis tanpa Suara. Dalam dekapan yang sangat erat itu, Sora meluapkan kerinduannya selama ini yang terpendam jauh dalam palung hatinya.
“Lepasin Bunda, jangan sakitin Bunda hiks..hiks..” Ale menangis sembari memukul tubuh Alan yang memeluk erat Bundanya. Anak kecil itu mengira pria dewasa yang pernah iatabrak menyakiti Bundanya, terlihat dari Bundanya yang terus menangis tidak ada hentinya.
__ADS_1
“Sora.” Alan memutar tubuh istrinya. Kini ia bisa memandang dengan jelas wajah istrinya. Sama, semua terlihat sama di mata Alan. Sora masih saja menawan, tidak peduli dengan seiring berjalannya waktu. Wajah Sora tetap seperti dulu, ini berkat Sora yang rajin melakukan perawatan. Entah berapa duit ia habiskan untuk membeli skin care.
Sora tidak mampu berkata-kata, bibirnya terkunci rapat. Semua kata-kata kerinduan yang ingin ia ucapkan tertahan di dalam kerongkongan. Wanita itu hanya bisa menangis, memuat putranya semakin panik.
“Bunda.. Om jangan sakitin Bunda!” Ale kembali memukul Alan, sembari mengusap ingusnya. Ia ikut menangis tak kala menyaksikan Bundanya berderai air mata.
“Sora, siapa anak ini? Kau lihat, wajahnya begitu mirip denganku.”
Sora menganggukan kepala, ia sudah kehabisan kata-kata. Bertemu dengan Alan sudah menguras semua energinya. Ia merasa lunglai tak berdaya, hatinya masih bergetar hebat.
“Mengapa dia memanggilmu Bunda? Apa kamu menikah lagi?” Begitu banyak pertanyaan di kepala Alan, sungguh ia penasaran kemana saja Sora selama ini. Mengapa muncul dengan seorang putra yang sangat mirip dengangnya.
“Sora jawab aku!” Alan mencengkram pundak Sora, ia merasa begitu prustasi karena pertanyaannya tak kunjung dapat jawaban.
“Jangan sakitin Bunda!” teriak Ale sembari melepas seblah sepatunya dan melemparnya ke arah Alan.
“Ale jangan!” pekik Sora.
“Om jahat, Ale tidak suka!” teriak Ale.
Alan melepas cengkramannya pada Sora, kini ia merunduk dan menatap tajam ke mata Ale. Percuma bertanya pada istrinya, Sora tidak mau menjawab. Alan pun langsung ke Ale.
“Namamu, Ale?” Alan merendahkan tubunya lagi. Hingga ia sejajar dengan tinggi Ale.
“Apa nama panjangmu?” Alan igin mengorek jati diri anak laki-laki yang ia curigai itu.
“AYE MANTO KALDINOP,” ucap Ale dengan lantang namun cadelnya tidak ketinggalan.
Alan mengusap wajahnya, kembali ia membuang napas. Ada sejuta rasa lega dalam dadanya. Mata pria itu kembali berair namun bukan karena rasa sedih seperti hari kemarin. Alan mengusap wajahnya, setelah itu memeluk tubuh putranya. Sangat erat membuat Ale meronta kuat.
“Dia tidak suka di peluk,” ucap sora kemudian.
“Ale anakku kan?”
Sora mengangguk pelan. Mungkin inilah saatnya Ale merasakan kasih sayang dari ayahnya, selama ini ia sudah merasa sungguh berdosa memisahkan mereka berdua.
“Ale, ini Ayah.” Alan memeluk lagi tubuh kecil Ale.
“Om siapa?”
“ALAN MANCO KARDINOV.” ucap Alan dengan bangga, karena nama mereka sama.
__ADS_1
“Sama!” mata Ale langsung berbinar-binar.
Sora tersenyum haru menyaksikan Ale yang senang bertemu dengan Ayahnya. Ia merasa sangat bahagia, ini seperti mimpi juga bagi dirinya.
Alan sedari tadi menatap Ale, ia masih tidak percaya. Mereka berdua ternyata tidak mandul, hanya Tuhan memberi anak tidak secepat yang mereka inginkan. Alan takjub dengan poto kopian dirinya.
“Sangat mirip bukan?” Sora membuyarkan lamunan Alan.
“Sangat, apa yang terjadi? Aku bahkan melihatmu terbujur kaku. Mengapa masih hidup?” Alan mulai penasaran.
“Ceritanya panjang, Mas. Sora janji akan ceritakan semuanya.”
“Lalu, selama ini kalian dimana?”
“Kami hidup membatasi pergaulan di kota kecil, Mas. Tapi aku bersyukur Ale tumbuh dengan baik, tidak kurang satu apapun.”
“Hanya bedua?”
“Biasanya bertiga,”
Jleb, dada Alan terasa sakit. Apakah Sora menikah lagi? Apa Sora seperti dirinya, memilih memulai lembaran baru.
“Kamu menikah lagi, Ra?” hati Alan sudah ketar-ketir, telinganya takut mendengar jawaban dari bibir istrinya. Hal ini mungkin saja, karena mereka sudah terpisah hampir lima tahun lamanya.
“Untuk apa aku menikah lagi? Kita bahkan belum bercerai.”
Jleb. Alan mulai kebingungan, pasalnya ada Riana kini hadir di tegah-tengah mereka. Alan galau!
Bersambung
Hai Semuanya, senang bisa menyapa kembali. Terima kasih, masih membaca kisah Sora ♥
Author juga punya beberapa novel kesayangann, semoga kalian juga suka ya...
Kalian mau baca novel Kaya lihat drama Korea, cuss ya karya author kak shanty... semua Ada asem manisnya.
Karya Author Novia, semoga Kalian suka...nano nano... pokonya..
__ADS_1
Dari author Nurmay, yang suka manis manis, merapat ya.