Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Rencana Sora


__ADS_3

"Pak, Pak Alan. Dokter Rini sudah datang!" ucap Pak Dadang pada pemilik rumah. Ia mengoyang-goyangkan tubuh Alan yang telah tertidur di atas sofa. Alan yang nampak kelelahan, dengan perlahan ia membuka kedua matanya. Alan mengeliat, meregangkan otot ototnya yang serasa kaku, kemudian ia menajamkan pandangan matanya.


"Eh.. sudah datang Dok, mari masuk," ucap Alan seraya mengarahkan Dokter Rini ke dalam kamar.


"Sakit apa Sora?" tanya Dokter Rini tanpa basa basi sebelumnya.


"Bukan Sora yang sakit, tapi orang lain," jawab Alan sembari mengaruk belakang telinganya yang tidak terasa gatal. Ia juga binggung menjelaskannya pada Dokter yang selama ini telah menjadi Dokter pribadi keluarganya.


"Ada siapa lagi? Bukankah kalian cuma tinggal berdua plus dengan Pak Dadang?" Dokter Rini yang hafal betul dengan penghuni rumah, menaruh curiga pada Alan.


"Nanti saya ceritakan," ucap Alan seraya mempersilahkan Dokter Rini masuk terlebih dahulu ke dalam kamar yang berisi wanita muda yang ia tolong.


Sora nampak ketiduran di bibir ranjang, dimana wanita muda itu telah terbaring. Sora mungkin juga kelelahan, karena hari ini adalah hari yang melelahkan bagi pasangan pasutri tersebut. Lelah badan dan lelah pikiran sedang melanda keduanya.


Alan melangkahkan kakinya mendekati Sora yang telah tertidur.


"Ra.. Ra... Sora," Alan memanggil berkali kali istrinya, namun rasa kantuk yang berat membuat Sora tidur dengan lelap. Sora tak kunjung bangun meskipun Alan memanggil namanya berkali kali. Karena Sora tak bangun, maka Alan terpaksa memindahkan tubuh Sora.


Alan pun mengendong tubuh mungil Sora, ia memindahkan Sora ke dalam kamarnya sendiri. Dokter Rini yang menyaksikan peristiwa dari awal, hanya tersenyum kecil. Perasaan sedih sedikit menyeruak dalam benakknya, ia cukup prihatin dengan pasangan suami istri yang begitu romantisnya namun tak kunjung mendapatkan momongan. Sebagai sesama perempuan, Dokter Rini tahu betul apa yang dirasakan Sora saat ini.


Di kamar sebelah, setelah menidurkan Sora di atas ranjang, Alan kembali ke kamar tamu. Dari jauh ia menyaksikan Dokter Rini yang tengah memeriksa satu persatu bagian tubuh wanita muda yang misterius itu.


"Bagaimana Dok, kondisinya?" Alan perlahan berjalan mendekati Dokter Rini yang masih sibuk memeriksa pasien di depannya.


"Siapa gadis ini?" tanya Dokter Rini penuh selidik.


"Tadi kami berdua hampir menabrak gadis ini. Untung saja kami bisa menghindar," terang Alan.


"Heemmm... luka lecet pada tubuhnya lumayan banyak. Belum lagi memar di sekujur tubuhnya," Dokter Rini menyingkap sebagian pakaian yang dikenakan wanita muda itu. Ia ingin memperlihatkan secara langsung luka memar tepat di sekitar pusar wanita tersebut.

__ADS_1


dengan sekejap Alan memalingkan wajahnya, sekilas ia bisa melihat dengan jelas. Kulit yang mulus dan putih itu penuh dengan warna keabu abuan yang menghitam. Entah siapa yang telah dengan kejam menyiksa wanita tersebut. Alan nampak tidak tega menyaksikan kondisi wanita asing yang ia tolong barusan.


"Ya sudah Dok, saya serahkan semua pada Dokter. Tolong bantuannya,"


"Tapi, mungkin gadis ini tidak hanya butuh penanganan secara medis Al. Sepertinya dia juga butuh dokter untuk membantu pemulihan jiwaannya," ucap Dokter Rini.


"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Alan penasaran dengan apa yang di tuturkan oleh Dokter kepercayaan nya.


"Sepertinya, dia korban kekerasan seksual," kata Dokter Rini dengan hati hati.


Mata Alan langsung terbelalak, ia merasa kaget untuk sementara waktu. Kata-kata dari Dokter Rini seakan membuatnya langsung shock. Gadis yang hapir ia tabrak merupakan korban kekerasan. Alan menjadi semakin merasa iba dengan nasib gadis tersebut.


"Ada banyak bercak darah di daerah sensitive nya, sepertinya gadis ini korban pelecehan seksual," terang Dokter Rini sekali lagi. Kedua matanya nampak juga nampak nanar ia juga merasa iba, menyaksikan tubuh gadis yang terbaring tak berdaya di depannya.


Baru pertama kalinya, ia menangani kasus seperti ini. Dokter Rini termasuk Dokter elit, ia hanya melayani kalangan atas. Dan malam ini ia sangat terkejut sekali. Karena pasien yang ia tangani saat ini adalah pasien korban kekerasan seksual.


"Kamu tidak membawanya ke kantor polisi?" tanya Dokter Rini kemudian, memecah keheningan yang terjadi di kamar tersebut.


"Kalian segera hubungi polisi saja, takutnya nanti malah terjadi apa-apa," saran Dokter Rini yang tak ingin keluarga Alan terlihat masalah.


"Iya Dok," ucap Alan sembari mengamati gadis yang tidak berdaya itu. Pandangan matanya menelusuri tiap inci wanita muda yang baru saja ia tolong.


Keheningan kembali terjadi, Dokter Rini dan Alan sama sama tengelam dalam pikirannya masing-masing.


"Dia tidak akan kemana mana!" Teriak Sora, suaranya terdengar mengema di seluruh ruangan tersebut.


Sora sepertinya baru bangun dari tidurnya, beberapa saat lalu ia masih mendengar obrolan antara suaminya dan dokter Rini. Ia sangat keberatan bila gadis yang baru ia selamatkan dibawa ke kantor polisi.


"Tapi Sora," Dokter Rini seakan tidak setuju dengan tindakan Sora yang menerima orang asing di rumahnya.

__ADS_1


Hubungan Dokter Rini dan Sora tak hanya sekedar Dokter dan pasien, Dokter lebih menganggap Sora seperti adik sendiri. Keduanya sudah lama saling mengenal.


"Apapun yang terjadi aku tidak akan membawah dia ke kantor polisi, titik." ucap Sora dengan keras kepala.


"Kamu tidak bisa begitu Ra, gadis ini korban tindakan kekerasan. Dia juga harus segera di visum," kata Dokter Rini tidak mau kalah dengan Sora.


"Kita tunggu dia siuman dulu, baru kita bicarakan lagi," saran Alan.


"Ya sudah, itu semua terserah kalian. Yang penting, sebagai orang yang kenal baik dengan kalian. Aku sudah memberi saran terbaikku." Dokter Rini nampak sedikit marah, ia memebereskan segala peralatan medisnya.


"Aku pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saja," ucap Dokter Rini sekali lagi.


Dokter Rini bangkit dan ia menjabat tangan Alan serta Sora.


Sora mengantarkan kepergian Dokter Rini sampai pintu depan. Selain berterima kasih, Sora juga meminta maaf karena sudah merepotkan sang Dokter malam malam begini.


Dokter Rini pun pergi meningalakan kediaman Alan.


Setelah mengantar kepergian dokter Rini, Sora kembali masuk dalam rumahnya. Ia menghampiri Alan yang sedang duduk di ruang tamu. Sora memilih duduk di samping suaminya.


"Mas, jangan bawa dia ke kantor polisi ya," pintanya kembali pada suaminya.


"Hemmm," Alan masih nampak berpikir. Ia masih mencari jalan keluar terbaik, apalagi wanita muda itu belum sadar dari pingsannya.


"Kasihan Mas," ucap Sora. Ia memegang kedua tangan suaminya, seakan meminta persetujuan.


"Kita lihat nanti Ra,"


Melihat Alan yang enggan membahas lebih lanjut, Sora pun bangkit. Ia berjalan menjauh dari tempatnya semula. Kini Sora telah berada di bibir pintu kamar tamu. Sora menatap wanita muda yang masih terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


Tatapan Sora seakan mengisyaratkan sesuatu. Entah apa yang ia rencanakan dengan kehadiran gadis asing yang ada dalam rumahnya. Akankah Sora menemukan istri baru untuk suaminya?


Bersambung


__ADS_2