
Sora mengawali pagi ini dengan perasaan yang sedikit was-was. Semua karena ketegangan kecil yang terjadi dengan suaminya. Alan menegaskan ia tidak akan menikah. Jika Sora memaksa, terpaksa Alan akan pergi meningalkan dirinya. Itu karena Alan tidak bisa menjanjikan hatinya selalu setia bila nanti ada orang lain selain Sora sebagai istri kedua.
Namun Sora tidak bisa membiarkannya, ia harus tetap mencari istri lain untuk Alan suaminya. Ini semua karena keluarga Alan terus menuntutnya untuk segera memberi keturunan untuk keluarga Kardinov.
Sora dengan beban perasaan yang bergelayut dalam benanaknya mencoba mencari jalan keluar dari masalahnya. Ia harus memikirkan cara bagaimana agar keluarga suaminya tidak merundung dirinya terus-menerus.
Sembari memikirkan solusi dari persoalan hidup yang terus menganggu pikiranya, Sora memijit keningnya yang terasa sangat pusing. Ini karena ia terlalu fokus dengan kebahagiaan orang lain, hingga ia mengabaikan kebahagiaannya sendiri.
Satu jam sudah berlalu, Sora nampak rapi dengan baju kerja yang ia kenakan. Ia sudah bersiap untuk berangkat kerja.
"Mas, kok belum siap-siap?" tanya Sora yang melihat suaminya masih santai.
"Aku mau ke luar kota, mungkin tiga hari nanti aku tidak pulang," ucap Alan.
"Kok gak bilang-bilang Mas, bajunya belum aku siapkan,"
"Tidak apa-apa, nanti aku siapkan sendiri. Sudah jam berapa ini? Cepatlah berangkat, nanti telat, belum lagi kalau macet!"
"Iya, ya sudah. Aku berangkat dulu ya Mas," Sora mencium punggung tangan suaminya, Ia akan berangkat kerja. Pak Dadang yang melihat Sora keluar dari rumah menuju garasi, langsung membuka pintu gerbang rumah untuk Sora yang telah siap di depan kemudinya.
Sora melajukan kendaraan yang ia tumpangi menuju jalan raya yang nampak ramai. Hari senin merupakan hari paling sibuk, jalanan seperti menyempit karena banyakknya kendaraan yang lalu lalang. Sesekali terlihat kemacetan di setiap lampu merah yang dilewati Sora.
Meski tangannya di atas kemudi, pikiran Sora menerawang kemana-mana. Hingga ia hampir saja menabrak pengedara mobil lainnya. Nampak seseorang yang keluar dari dalam mobil yang hampir Sora tabrak. Seorang pria yang familiar di mata Sora.
"Mas Ferry," ucap Sora dengan lirih. Ia masih sedikit tegang karena hampir celaka.
__ADS_1
Ferry mengetuk pintu mobil Sora, sebenarnya Ferry hendak memeriksa keadaan orang yang ada di balik kemudi. Namun ketika Sora menurunkan kaca mobilnya, Ferry seperti mendapatkan angin segar. Perempuan yang ia sukai diam-diam selama ini, kini bertemu dengannya tanpa disengaja. Mungkin sudah jodoh, batin Ferry. Ia bertekad akan mendapatkan hati Sora kali ini.
"Sora, kamu baik-baik saja?" tanya Ferry dengan rasa khawatir pada perempuan yang sudah lama ia taksir.
"Aku baik-baik saja Mas, lah.. Mas sendiri bagaimana? maaf aku tadi kurang hati-hati," ucap Sora sembari keluar dari dalam mobilnya.
"Tidak apa-apa, semua baik baik saja. Asal kamu tidak apa-apa aku tidak khawatir," terdapat makna yang tersembuyi di balik kata kata yang di lontarkan Ferry.
Karena dirasa tidak ada yang serius, keduanya kembali menuju kendaraanya masing-masing. Saat akan memasuki mobil miliknya, Ferry kembali mendekati Sora.
"Sora, nanti malam ada waktu?" tanya Ferry.
"Ada apa Mas Ferry?" Sora penasaran, mengapa Ferry perduli ia ada waktu apa tidak nanti malam.
"Kita lama tidak bertemu, setiap ada acara reuni tahunan kamu tidak pernah hadir. Maukah kamu nanti makan malam dengan ku, ya sekedar ngobrolin masa-masa SMA dulu," ajak Ferry.
Malam harinya, Sora sedang berada di rumah sendirian. Alan sedang keluar Kota meninjau beberapa proyek baru dari perusahannya. sekitar pukul tujuh malam, handphonnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Ferry yang tadi siang ia temui. Belum juga membaca pesan yang dikirim oleh teman lamanya. Ferry langsung menghubungi Sora
"Sora, aku tunggu kafe tempat kita nongkrong bareng anak-anak dulu." ucap Ferry.
"Wah masih ada Mas kafenya?" tanya Sora, ia seakan-akan tidak percaya. Sudah beberapa tahun berlalu namun kafe tempat mereka bermain saat masa muda ternyata masih ada dan masih eksis sampai sekarang.
"Iya, masih ada," jawab Ferry singkat.
"Ya sudah, tunggu dulu. Aku baru akan berangkat," Sora memutus telpon dari temannya.
__ADS_1
Sora berjalan menuju mobilnya yang sudah terpakir rapi. Pak Dadang tiba-tiba datang menyapanya.
"Mau keluar Non?"
"Iya Pak, mau makan di luar. Bosen makan di rumah sendirian," ucap Sora dengan senyum ramah pada pak Dadang yang sudah lama setia menjaga rumahnya. Pak Dadang pun kembali membuka pintu gerbang untuk Sora.
Sora melaju menembus angin malam, entah apa yang ia cari. Sora hanya ingin suasana yang berbeda. Ia bosan sendirian di rumah yang megah itu. Sora sepertinya mencari kebahagian lain yang berusaha ia kejar. Sebuah kebahagiaan yang tidak ia dapatkan di rumah yang besar dan mewah.
Sora lebih membutuhkan sebuah perhatian dari seseorang yang mengerti dirinya, bukan sekedar hanya materi semata. Kali ini ia merasa tidak masalah bila hanya makan berdua dengan Ferry. Meski ia rasa pertemuan dirinya dengan Ferry seperti sebuah pelarian. Sebuah pelarian dari rasa kesepian yang ia rasakan saat ini.
Di sebuah kafe yang nampak antik dengan berbagai macam furniturnya, Ferry tengah duduk dengan santai. Ia sedang menunggu kehadiran Sora.
"Pak Ferry mau minum apa?" tanya seorang karyawan kafe pada dirinya.
"Nanti jangan panggil nama saya ya, kalau teman saya datang!"
"Baik Pak," karyawan tersebut hanya menganggukkan kepalanya.
Ferry tidak ingin Sora tahu, bahwa ia telah membeli kafe ini dari pemilik lamanya beberapa tahun lalu. Selama ini Ferry berusaha mengumpulkan jejak masa lalu yang berkaitan dengan Sora. Ferry mulai terobsesi dengan Sora, namun ia tidak berani mengungkapkan nya. Ia hanya menjadi pengagum rahasia yang tidak pernah berani menyatakan rasa cintanya.
Berkali-kali Ferry menatap jam tangan yang ada di tangannya. Sora tak kunjung nampak kehadirannya. Setelah cukup lama menunggu, penantian Ferry akhirnya berakhir. Sora datang melangkah perlahan mendekati dirinya.
Ferry melambaikan tangannya dengan senyum yang merekah. Sora hampir saja terkesima dengan wajah yang bersahabat itu.
.
__ADS_1
"Ingat Sora, kamu sudah menikah. Rencanamu mencari wanita lain untuk Alan, bukan pria untuk dirimu sendiri," Sora mendesis lirih. Ia kesal pada dirinya, kenapa mudah sekali untuk tergoda. Ia merutuki dirinya lagi. Sora mengigit bibir bawahanya, seakan menyalakan kode bahaya.
Sora mulai tergoda, kehadiran Ferry yang tiba-tiba mampu mengusir rasa sepi yang menderanya. Sora akan bermain hati sedikit, sekedar mengairi hasratnya yang mulai kering. Ia berjanji akan mengakhiri sebelum perasaannya benar-benar terjerumus dalam pesona pria lain. Sora hanya ingin main-main.