
"Bagaimana tempat kerja barunya Mas?" tanya Sora sambil menatap suaminya yang fokus dengan kemudinya.
"Alhamdulillah lancar, gak ada halangan. Cuma menyesuaikan saja sama orang baru," Alan menapat sejenak wajah Sora, selanjutnya ia kembali fokus pada benda bundar yang ia pegang.
"Riana, kamu kan orang sini. Kira kira dimana daerah kos kosan yang cocok untuk kamu?" Sora ganti menoleh ke belakang, ia menatap Riana yang telah tengelam dalam lamunannya.
"Riana...," panggil Sora lagi.
"Eh iya mbak Sora, maaf saya tidak mendengar. Mbak Sora nanya apa?"
"Kami kan pendatang, jadi gak tahu persis daerah sini. Kira kira daerah kos yang bagus disebelah mana?" tutur Sora.
"Itu Mbak, ada belokan sesudah lampu merah. Aku dulu punya temen kos disana!" kata Riana sembari tangannya menunjuk belokan yang ada di ujung jalan.
"Ya sudah kita langsung saja kesana, dari pada kesana kemari tidak jelas," ucap Alan.
Suami dari Sora tersenyum langsung menuju ke tempat yang dimaksud oleh Riana. Setelah memarkir kendaraan pribadinya, Alan hendak melepaskan sabuk pengamannya. Namun bunyi telpon membatalkan niatnya.
"Hallo,"
"Hallo Al.. Maaf Bapak menggangu sebentar, Bapak mau tanya. Apa kalian melihat Riana?" tanya Pak Danu dengan nada yang cemas.
Alan diam mematung, ia binggung harus berkata apa. Pria itu pun menoleh ke belakang, dilihatnya wajah Riana yang mulai pucat. Riana sendiri menggeleng kepalanya, seolah memberi kode pada Alan. Jangan sampai membocorkan keberadaannya.
Dengan sangat terpaksa Alan mengatakan tidak tahun menahu tentang keberadaan putri Bapak Danu tersebut.
"Pak Danu tidak usah khawatir, nanti kalau ada kabar tentang keberadaan Riana, saya akan langsung menghubungi Bapak," ucap Alan dengan separuh hati. Rasanya ia tidak tega melihat Pak Danu, namun karena Riana memaksa dengan berat hati Alan berbohong.
Sora pun menatap binggung, ia jadi tidak enak hati. Lantaran selama ini yang membantu mereka kan Bapak Danu, bagaimana bisa mereka berbohong pada pria paruh bayah tersebut.
"Riana, sepertinya kamu harus menghubungi Ayah kamu. Kasian pasti Ayah kamu nyari seharian ini," bujuk Sora.
"Tapi, kalau Ayah sampai tahu aku disini. Ayah pasti maksa Riana untuk pulang Mbak," gadis itu enggan di ajak pulang oleh Ayahnya sebab bakalan dinikahkan sama Kianu. Orang yang tidak Riana cintai.
__ADS_1
"Tapi kalau begini kasihan sama Pak Danu!" Alan menatap tajam pada Riana, ia merasa kasihan dengan Ayah Riana yang cemas mencari putrinya.
"Maaf Mas Mbak, tekad Riana sudah bulat. Riana tidak mau pulang, dan untuk masalah Ayah. Biar Riana kabari Ayah lewat telephone." ucap Riana sembari merogoh sakunya.
Tidak butuh waktu lama bagi Riana untuk menyambung telpon dengan Ayahnya. Sekali tekan Ayahnya sudah mengangkat pangilan suara putrinya.
"Assalamualaikum Yah!"
"Waalaikumsalam.. Riana!!! Kamu dimana? Katakan dimana kamu sekarang, biar ayah jemput!" ucap Pak Danu dengan nada yang penuh kecemasan.
"Ayah tidak usah jemput Riana, karena Riana sekarang udah berada di tempat yang aman dan nyaman. Riana saat ini bersama Mas Alan,"
Deg, baik Sora dan Alan langsung hatinya sama sama tidak karuan. Apa maksud dari ucapan Riana barusan?
Sora seketika itu langsung berwajah masam, beda dengan suaminya. Alan cukup terhenyak sesaat, selanjutnya ia biasa biasa saja.
"Oh ya sudah, tolong berikan ponselmu pada Alan!" perintah Pak Danu.
Alan sudah memiliki firasat yang buruk ketika menerima uluran handphone dari tangan Riana, ia sudah berpikir yang buruk buruk. Mengingat beberapa saat yang lalu ia telah berbohong pada Pak Danu tentang keberadaan gadis tersebut.
"Bapak percayakah putri Bapak padamu!" setelah mengucapkan kalimat tersebut, Pak Danu memutus sambungan telponnya.
"Apa yang Ayah bilang?" tanya Riana penasaran.
Riana tidak tahu, ada dua padang bola mata yang menatap dirinya dengan tajam. Sora sedang memperhatikan dirinya sedari tadi. Namun Riana tidak tahu atau mungkin malah pura pura tidak mengetahui jika Sora memperhatikan dirinya.
"Tidak ada apa-apa, ayo... Sudah malam," Alan membuka pintu mobilnya, setelah itu ia buka pintu untuk Sora.
Menyaksikan perhatian yang sepeleh itu, Riana nampak iri. Ingin rasanya ia juga dibukakkan pintu ketika keluar. Ah.. Riana mengiris iris hatinya sendiri menyaksikan perhatian Alan pada istrinya.
Mungkin akan membahagiakan bila aku berada dalam posisi mbak Sora, batin Riana yang merasa cemburu kala itu.
"Ayo Na!" pekik Sora, karena gadis itu hanya duduk. Seakan ia enggan keluar dari dalam sana. Padahal sejujurnya, Riana juga ingin dibukakkan pintu oleh Alan.
__ADS_1
Namun gadis itu harus menelan pil hati, Alan belum sepenuhnya memperhatikan dirinya. Untuk saat ini, hanya Sora lah yang mengisi penuh hati pria tersebut.
Dengan berat hati, Riana melangkah menuju rumah kosan yang ia ketahui. Untung belum larut malam, sehingga Bu kos masih terjaga disana.
"Malam Bu," sapa Riana yang sudah kenal dengan Ibu kos tersebut.
"Siapa ya?" Bu kos bertanya tanya, ini karena terlalu banyak anak kosnya, jadi ia lupa satu persatu wajahnya.
"Riana Bu,"
"Oh.. Ya ya. Ibu ingat. Ada apa kamu kemari malam malam begini?" tanya Bu kos sambil mengerakkan kipas yang ada ditangannya. Ia sudah mirip tukang sate madura yang kemana mana membawa kipas.
"Mau cari kamar kosan Bu, apa masih ada yang kosong?"
"Yang single udah penuh. Ada juga yang untuk satu keluarga, kamu mau?"
"Gak apa apa Bu, asal ada tempat untuk bermalam malam ini," sahut Alan yang diam sejak tadi.
Ada perasaan tak enak dalam benaknya, ini karena ucapan Pak Danu yang cukup membebani dirinya. Bagaiman bisa Pak Danu mempercayakan putrinya pada dirinya? Alan mau protes tapi tidak tega. Ia terlalu sungkan pada Pak Danu yang sudah banyak menolong mereka berdua.
'Ya sudah, mari kita lihat ke dalam," ajak Bu kos, ia tidak lupa selalu mengipasi wajahnya dengan kipas yang ia pegang.
Mereka berempat mengikuti arahan Bu kos, mereka semua melewati sebuah lorong yang penuh dengan bilik kamar. Sebuah tempat kos yang cukup besar batin Sora.
"Ayo sayang," ucap Alan. Tangannya menyambar lengan Sora, mereka berdua melewati lorong, seperti melewati sebuah jalan kenangan. Hanya ditambahkan hujan gerimis maka jadilah scene tembang kenangan.
Pemandangan yang romantis dan membuat Riana semakin teriris. Ia melirik lewat ekor matanya, dengan jelas Riana dapat merasa bahwa cinta Alan pada istrinya begitu manis. Riana jadi bersemangat mendapatkan pria seperti Alan.
*bersambung
Hai para pembaca yang budiman, jangan bosan-bosan dukung author ya 🍒
pencet tombol Hati, Like, Komen,Vote dan Rate Bintang Lima.
__ADS_1
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author.
Terimakasih 💕*