Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Wanita Gila


__ADS_3

Mentari pagi hari ini dengan ceria menebarkan sinar hangatnya. Menyapa para penduduk bumi yang masih memiliki nyawa. Sora mulai membuka kedua matanya, seraya mengeliat melemaskan ototnya yang serasa kaku. Berkali kali ia mengosok matanya yang telah terbuka. Setelah sadar sepenuhnya, Sora langsung bangun dari posisinya semula menuju kamar sebelah. Rasanya ia ingin memeriksa kondisi wanita muda yang ia tolong semalam.


Cekrek...


Istri Alan itu membuka pintu kamar tamu, Sora memang sengaja tidak menguncinya. Pandangan mata Sora langsung tertuju pada ranjang yang telah kosong. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia bertanya tanya. Kemana gerangan gadis muda yang ia tolong semalam? Kakinya kembali berjalan, menuntun tubuhnya ke kamar mandi. Barang kali wanita muda itu berada dalam sana.


Tapi apa yang Sora dapati? kamar mandi kosong tak berpenghuni. Kakinya kembali melangkah, kali ini Sora terlihat terburu-buru. Beberapa tempat ia telusuri, namun tak kunjung mendapati sosok wanita yang ia cari.


"Mas, Mas ...," teriak Sora, suaranya mengema di seluruh ruangan. Ia nampak cemas, memikirkan di mana wanita muda yang ia tolong semalam. Mengapa mendadak hilang dari pengawasannya.


"Mas Alan," teriak Sora kembali. Ia begitu terkejut menyaksikan pemandangan di hadapannya.


Alan yang masih tertidur di sofa, mendengar teriakan Sora langsung terbangun. Ia pun sama terkejutnya dengan Sora. Bagaimana tidak, wanita muda yang semalam ia tolong ternyata tidur dipelukannya. Wanita muda itu tertidur di atas sofa bersama dirinya.


Mata Sora masih terbelalak, tubuh dan otaknya belum bisa mencerna apa yang ia saksikan saat ini. Apa maksud sang suami, tidur dengan wanita lain di dalam rumahnya sendiri.


Alan yang menyaksikan istrinya diam terpaku, dengan kasar menyingkirkan tubuh wanita muda tersebut. Wanita muda itu nampak masih tidur lelap, entah tidur betulan atau pura-pura. Baik Sora maupun Alan sama-sama tidak tahu.


"Apa yang Mas lakukan?" pekik Sora, ada nada amarah pada kata yang ia ucapkan. Ia sangat terkejut, dengan pemandangan yang saat ini ia saksikan.


Alan yang tidak tahu menahu, hanya meremas kepalanya. Entah apa lagi yang terjadi, batinnya dalam hati. Pasalnya ia tidak tahu, bagaimana bisa ia tidak menyadari ada wanita yang memeluk tubuhnya ketika tidur.


Sora nampak kecewa pada Alan, bagaimana bisa suaminya tidur dengan wanita lain di depan mata kepalanya sendiri. Dirumahnya pula, hal itu membuat Sora kecewa berat.


Sora langsung meningalakan Alan dan wanita muda yang nampak masih lelap dalam tidurnya. Sora langsung masuk ke dalam kamarnya. Tanpa suara, Sora menangis di sudut kamar. Ia merutuki sikapnya sendiri, bukankah ia yang meminta Alan menikah lagi? Tapi ternyata kenyataan jauh lebih menyakitkan.

__ADS_1


Baru melihat Alan tidur dengan perempuan lain hatinya sudah terbakar api cemburu. Kini ia meraung meratapi nasibnya, Sora berjibaku dengan rasa kecewa dan amarah. Ia tidak menyangka Alan menghianati dirinya.


"Ra, kamu dengerin aku dulu. Jangan mikir yang bukan-bukan," Alan datang ke dalam kamar, ia langsung menyusul istrinya. Tidak mau Sora sampai salah paham terhadap dirinya.


Sora tak bergeming, ia sudah terlanjur kecewa. Penjelasan yang di ucapkan suaminya tak mampu masuk dalam nalarnya. Ia tetap menggangap Alan sudah tak setia.


Sebuah omong kosong, bila Alan selama ini menolak wanita lain. Buktinya, semalam Alan malah tidur dengan wanita asing yang baru mereka jumpai.


Sora yang masih dibalut rasa marah, memilih diam dari pada mencaci maki suaminya. Baginya menenangkan hatiya jauh lebih penting. Hatinya saat ini sedang kacau, bila ia lepas kendali maka hanya akan keluar kata kata yang akan saling menyakiti. Sora memilih diam dari pada berkata yang menyakitkan.


"Tingalkan aku sendiri Mas," pintanya pada Alan yang sedari tadi memperhatikan dirinya.


Alan yang tahu betul karakter sang istri, dengan tidak rela meninggalkan kamar Sora. Ia kini menghampiri wanita muda yang semalam tidur bersama dirinya.


Sampailah Alan berdiri tepat di samping wanita muda yang misterius itu, Alan memutar ingatannya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari orang lain mendekat padanya ketika ia tidur?


***


Flashbacks


Selepas kepergian Dokter Rini, Sora pergi sebentar ke kamar wanita muda yang misterius itu. Namun Sora tidak sampai ke dalam kamar, ia hanya berdiri di ambang pintu. Wajah Sora kala itu seperti memikirkan hal yang amat serius.


Ia sempat melirik ke arah ruang tamu, suasana sudah terasa lebih hening dari pada semula setelah kepergian Dokter Rini. Mungkin suaminya sudah tertidur di sofa. Pikir Sora.


Sora pun langsung kembali ke dalam kamarnya, ia mengambil sebuah botol obat. Entah obat apa yang sedang ia pegang. Yang pasti wajah Sora sedikit tegang. Ia seperti seorang pencuri di dalam rumahnya sendiri.

__ADS_1


Perlahan ia masuk ke dalam kamar wanita muda yang ia selamatkan. Sora mengambil sebuah botol yang ada pada saku bajunya. Ia mengeluarkan sebuah kapsul dari botol tersebut.


Sora dengan penuh kehati hatian, membuka kapsul obatnya. Ia perlahan memasukkan serbuk yang berasal dari dalam kapsul ke dalam gelas yang telah berisi air.


Sora mengintip wanita yang masih terlihat pingsan itu, ia pun mengaduk gelas yang bersisi obat dengan ibu jarinya. Sora tidak punya waktu untuk kedapur mencari sendok. Terpaksa ia mengunakan ibu jarinya.


Setelah serbuk obatnya telah larut. Sora perlahan mendekati wanita muda tersebut. Dengan hati hati ia meminumkan minuman yang berisi obat pada wanita muda tersebut.


Beberapa saat kemudian, air dalam gelas sudah berkurang volumenya. Hanya tersisah separuh saja dari isi semula. Melihat gelas yang masih berisi setengah, Sora langsung membawa gelas beserta isinya ke kamar mandi.


Ia ingin menghilangkan jejak, jangan sampai ada yang menaruh curiga pada rencananya. Setelah merasa semua sudah beres. Kini Sora tinggal menunggu reaksinya, ia dengan sengaja tidak mengunci kamar yang di tinggali wanita muda tersebut.


Sora melangkahkan kakinya dengan pelan, menuju kamarnya sendiri. Ia hanya tinggal menunggu hasil dari apa yang di kerjakan, tergambar senyum tipis di sudut bibirnya.


Sora mungkin telah hilang akal sehatnya, dengan sengaja menjebak dua manusia Demi egonya.


Flashback End


Sedangkan Alan kini masih berjibaku dengan pertanyaan yang tidak kunjung mendapat jawaban.


Lain halnya dengan si wanita muda. Ia masih nampak tidur pulas. Entah obat apa yang masuk dalam tubuhnya.


Di dalam kamar utama, Sora telah menikmati aktingnya, sebagai istri yang tersakiti. Ia tersenyum puas, seakan beban di pundaknya selama ini telah terangkat. Semburat senyum aneh kembali nampak di ujung bibirnya.


"Sora apa kamu sudah tidak waras?" ucapnya lirih. Dengan bibir yang masih mengeluarkan senyuman ia mengumpat pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2