
Ibu mertua Sora sudah pulang dari kediaman Alan. Ibu berhasil menyulut api pertengkaran di antara Alan dan istrinya. Tanpa rasa bersalah, ibu melangkahkan kakinya dengan ringan. Akhirnya apa yang ia inginkan segera tercapai. Sebuah pernikahan kedua untuk putranya. Ia terlihat sangat senang ketika Sora memberikan lampu hijau pada Alan untuk menikahi perempuan lain.
Berbeda dengan perasaan Ibu, kini perasaan Sora menjadi kacau balau karena pernyataan nya sendiri. Di depan ibu mertua dan suaminya, ia sudah meminta Alan untuk menikah lagi. Sora meremas kepalanya, ia begitu prustasi dengan keadaan ini.
Pagi ini harusnya ia pergi jalan-jalan, menikmati momen romantis mereka berdua. Namun karena kedatangan ibu yang tiba-tiba, membuat rencananya yang semula gagal total. Ia sendiri tidak berani mendekati Alan. Wajah suaminya terlihat menyeramkan bagi Sora. Pria yang tampan itu sedang marah besar pada dirinya karena pernyataan Sora.
Sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal untuk seorang wanita. Mana ada seorang istri dengan suka rela mencari istri untuk suaminya sendiri. Mana ada wanita yang mau hatinya di bagi-bagi. Perasaan marah bercampur kecewa berkecamuk di benak Alan.
Sampai Hari menjelang sore, Sora tidak berani bertemu Alan suaminya. Alan masih belum keluar dari ruang kerjanya. Lengkap sudah kesepian dan kesedihan yang ditanggung oleh Sora. Ibu mertua yang selalu merundungnya, kini suaminya sendiri acuh karena masalah tadi pagi.
Sora merasa lelah, ia memilih berbaring di sofa ruang tamu hingga malam menjelang. Ia terbangun ketika bulan sudah menggantung di langit-langit malam. Sora melirik ruang kerja suaminya. Masih tertutup rapat, belum ada tanda-tanda penghuni nya telah keluar. Dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, Sora mengetuk pintu kamar suaminya.
"Mas, Mas Alan," panggil Sora sembari mengetuk pintu ruang kerja Alan.
Sora tidak mendapat sahutan dari dalam, ia pun memegang gagang pintu kemudian memutarnya. Ternyata ruang tersebut sudah koson. Alan tidak ada di dalam ruang kerjanya. Sora menutup kembali pintu ruang kerja Alan. Ia melangkahkan menuju pintu depan. Sora hendak menanyakan pada Pak Dadang perihal keberadaan suaminya.
"Pak, Mas Alan kemana ya?" tanya Sora ketika melihat Pak Dadang yang sedang berjaga di pos depan. Rumah Alan terbilang cukup besar, di gerbang utama terdapat sebuah pos jaga. Pak Dadang lah selama ini setia menjaga rumah yang lebih mirip kuburan itu. Bukan karena kesan horornya. Namun, rumah itu sunguh nampak sepi. Dari depan atau di dalam seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
Makanya kedua pasutri itu tidak betah tinggal di dalam rumah. Mereka lebih memilih mencari hiburan di luar rumah. Andai saja ada anak kecil di sana, mungkin semua akan jauh berbeda. Sora kembali menelan pil pahit dalam hidupnya. Kenyataan bahwa ia tidak kunjung hamil membuat hatinya semakin gunda gulana.
Pandangan mata Sora kini tertuju pada penjaga rumahnya. Pak Dadang ternyata tidak tahu menau kemana Tuannya pergi. Sora pun berlalu, ia memilih masuk rumah nya kembali.
__ADS_1
Pagi telah menjelang, Sora menatap sekeliling kamarnya. Hatinya begitu lega, setelah mendapati sosok Alan di sampingnya. Alan tertidur dengan masih mengenakan pakaian lengkap dengan sepatunya.
Sora mencoba melepaskan sepatu suaminya, rasanya ia seperti merawat seorang bocah. Alangkah bahagianya bila ia benar-benar bisa memiliki bocah kecil di dalam kehidupan nya. Sora kembali tengelam dalam lamunannya. Alan terbatu-batuk, membuat Sora tersadar dan mengalihkan perhatiannya pada sang suami.
"Pulang jam berapa Mas?" Sora bertanya pada suaminya seraya meletakkan sepatu yg Alan kenakan di rak sepatu yang tidak jauh dari sana.
Alan tidak menjawab, ia masih nampak marah pada Sora. Melihat suaminya yang tidak merespon pertanyaan yang ia ucapkan, Sora kembali bersuara.
"Masih marah Mas?" tanya Sora kembali. Kali ini ia menatap ke dua mata Alan. Secara tidak langsung, ia meminta jawaban dari suaminya. Bukan hanya diam membisu, membuat Sora tidak enak hati saja.
"Hemmm," hanya itu yang keluar dari bibir Alan. Sepertinya kemarahan suaminya masih terus berlanjut, batin Sora.
"Aku minta maaf ya," ucap Sora berusaha mengalah dan mengambil hati suaminya. Sora memasang wajah memelas di depan Alan, agar suaminya tidak marah terhadap dirinya.
"Hammmm ... hemmm...hammm hemmmm," Sora menirukan suaminya, aksinya tersebut berhasil membuat gerakan sedikit pada bibir Alan. Laki-laki itu nampak menahan senyumnya di bibirnya.
Sora dapat melihat dengan jelas senyum itu, walau hanya secuil. baginya tidak masalah, yang penting Alan sudah tidak marah lagi krpafa dirinya. Sora pun ikut tersenyum bersama suaminya.
"Kenapa kamu tersenyum, aku masih marah," kata Alan dengan nada bercanda tentunya.
"Mana ada orang marah kok bilang-bilang!" ledek Sora pada suaminya.
__ADS_1
"Aku benar-benar marah kamu, Ra."
Kali ini Sora tidak berkutik, karena Alan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sora. Membuat hati Sora kembali berdesir. Sora terlihat salah tingkah, ia kemudian memalingkan wajahnya. Namun Alan segera menangkap dagu Sora.
"Dengarkan aku Sora, Aku hanya akan mengatakannya sekali. Jadi dengarkan dengan baik-baik. Jangan pernah mencarikanku istri lain. Istriku cuma satu, hanya kamu. Jika kamu melakukannya lagi, aku tidak bisa berjanji. Mungkin aku akan benar-benar pergi," ucap Alan, seperti ada nada ancaman dalam kalimat yang di ucapkannya.
Alan melepaskan tangannya yang semula memegang dagu Sora. Sedangkan Sora masih terpaku dengan ucapan suaminya. Alan menantang Sora, bila Istrinya terus memaksa dia menikah lagi. Alan tidak bisa berjanji akan terus setia. Hantinya hanya ada satu. Terukir nama Sora seorang. Jika sora terus memaksa perempuan lain masuk dalam hatinya, mungkin Alan akan berpaling.
"Kamu tidak kerja?" tanya Alan tiba-tiba yang menyadarkan Sora dari lamunanya. Sora masih hanyut dengan kata kata yang telah diucapkan Alan barusan. Ia tidak bisa membayangkan bila harus berpisah dengan suami yang dicintainya. Jika memang harus berbagi hati, ia rela. Namun tidak ingin berpisah. Biarlah Alan menikah lagi, namun ia tetap akan menjadi istri pertama untuk Alan.
Sora ternyata masih belum sadar juga, Alan tidak suka kesetiannya di permainkan. Ia hanya punya satu hati. Dan hatinya tidak untuk di bagi. Keputusan Alan sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat.
"Sora.." panggil Alan yang tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya.
Sora yang mendengar pertanyaan dari suaminya, menyawab dengan gelagapan.
"Ah iya, kerja kok. Mungkin agak siang," jawab Sora.
"Ya sudah, maaf untuk yang kemarin. Rencana kita jadi gagal," Alan terlihat sedikit menyesal.
"Iya, tidak apa-apa. Lain kali saja," kata Sora. Ia tidak enak hati, lantaran karena sora lah acaranya gagal dan berantakan. Sebenarnya bukan salah Sora sepenuhnya, ini berasal dari kunjungan mertuanya yang mendadak. Membuat Sora tidak menyiapkan diri untuk bertempur dengan sang mertua.
__ADS_1
Tentunya bukan pertempuran secara fisik, itu hanya sebuah pertempuran kecil bersenjatakan kata-kata yang bisa melukai siapa saja yang mendengarnya. Rasanya cukup menyakitkan. Lebih sakit dibandingkan dengan luka fisik. Lidah yang tajam lebih berbahaya dari pada sebuah pedang.