Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Riana


__ADS_3

Sora dan Riana tengah asik mengobrol cukup lama, ditemani martabak telur dan terang bulan.


Alan cukup senang, karena istrinya memiliki teman bicara di tempat baru ini. Semoga keduanya akan tetap rukun.


Sedangkan Pak Danu, ia menatap serius para putrinya. Pak Danu ingin segera menikahkan putrinya tersebut. Bulan lalu ada seorang pria yang melamar putrinya itu. Namun, Pak Danu belum memberikan jawaban. Karena Riana beralasan belum siap untuk menikah.


Sora masih berbincang dengan Riana, kini obrolan mereka tidak sekedar alat kecantikan. Namun sesuatu yang lebih dalam.


"Riana suda punya pacar?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari bibir Sora.


"Belum Kak, tapi bulan lalu ada yang datang ke rumah untuk melamar Riana," kata-kata Riana langsung terhenti. Ia menatap wajah Ayahnya yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Terus," Sora jadi penasaran dengan asmara teman barunya.


"Riana tidak suka,"


"Loh, kenapa gak Suka?"


"Gak tahu kak, belum klik saja di hati Riana,"


"Memangnya kamu suka type cowok yang bagaimana Na?"


"Yang bisa membuat hati Riana berdesir pokoknya kak."


"Kamu cantik loh, masak gak ada yang klik?"


"Cinta itu dari hati kak Sora, Riana gak bisa kendalikan pada siapa nanti hati Riana akan berlabuh,"


"Kamu pilih pilih paling ya Riana?" Sora kembali mengorek teman barunya itu.


"Ya ampun, bukan begitu kak. Belum ada yang menyalakan lampu di hati Riana saja. Lagian Riana saat ini fokus kerja. Oh ya, kak Sora sekarang kesibukannya apa?"


"Aku baru saja resign Na, mau fokus program hamil sama Mas Alan."


"Kalian happy banget ya kelihatannya,"


Dalam hati Sora berbicara, Riana belum tahu saja. Apa yang selama ini menerpa kehidupan rumah tangganya. Ia sudah dihempas badai, diterjang ombak dan banyak cobaan lainnya. Itulah manusia, yang terlihat tidak seperti kelihatannya.


"Alhamdulillah kalau kamu lihatnya begitu Na,"


Pembicaraan mereka terhenti ketika Pak Danu mengajak Riana putrinya untuk pulang. Karena waktu sudah malam.


"Ayo Riana, sudah malam. Biar Pak Alan sama istrinya istirahat," pamit Pak Danu.


"Senang bisa ngobrol panjang lebar sama kak Sora, kapan-kapan kita sambung lagi kak," ucap Riana.

__ADS_1


"Sering sering mampir lah kesini Na," ujar Sora. Dan di jawab angukan oleh Riana.


Akhirnya Pak Danu serta putrinya meninggalkan rumah baru Alan dan Sora. Sedangkan sang pemilik rumah kembali masuk ke dalam. Sora membawa dua piring yang masih berisi martabak telur dan terang bulan.


"Oh ya Ra, malam ini batal ya ke supermarket nya. Mas besok gak bisa nganter, besok hati pertama kerja. Ngak enak misalkan bolos atau telat," ucap Alan, ia memulai obrolan malam dengan istrinya.


"Iya Mas tidak apa-apa, nanti aku belanja di dekat rumah saja. Sekalian nunggu mobil Kita datang, sepertinya besok sudah sampai."


"Ya sudah, ayo tidur. Sudah ngantuk banget," Alan mengeser tubuhnya mendekati Sora, ia menyingkirkan sebuah guling yang menjadi dinding pemisah diantara mereka berdua.


Pria itu dengan lembut memeluk tubuh istrinya, ia pun mengecup pucuk rambut Sora. Ini adalah potret kehidupan rumah tangga yang harmonis, yang selama ini mereka dambakan.


Kicauan burung terdengar merdu, matahari bagi bersinar dengan gagahnya. Cahayanya seakan tak pernah habis menyinari bumi ini. Sora terbangun, ketika sinar mentari masuk menembus cela-cela jendela kamarnya.


"Mas bangun," tangan Sora menepuk pundak Alan dengan pelan.


Suami Sora tersebut langsung membuka matanya.


"Sudah pagi ya? perasaan baru tidur sebentar," Alan mengusap kedua bola matanya. Ia seakan mengusir rasa kantuk yang masih hinggap pada dirinya.


"Nanti Mas Alan telat, mandi dulu sana. Aku mau ke warung kelontong di ujung jalan sana."


"Mau cari apa?"


"Cari sesuatu Mas, kulkas kita kosong!"


Sepuluh menit kemudian, Sora keluar dari kamar mandi. Ia sudah selesai mandi bebek, mandi yang cepat secepat kilat. Sora pun melangkah keluar, namun ketika akan membuka pintu. Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok...


"Iya sebentar!" sahut Sora dari dalam.


Sora membuka pintu rumahnya, ia sedikit terkejut. Karena sosok yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.


"Riana, ada apa?" tanya Sora dengan cemas, karena putri Pak Danu tersebut bercucuran air mata.


"Tolong Riana Kak," Gadis itu langsung menghambur pada tubuh Sora. Ia memeluk Sora seakan meminta perlindunga.


"Sebentar, ayo masuk dulu," Sora merangkul tubuh Riana.


Sora menyuruh Riana untuk duduk terlebih dahulu, ia akan mengambil air minum untuk gadis tersebut.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Alan yang keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk yang meililit di pinggangnya. Dadanya terlihat kotak-kotak, membuat kaum hawa yang melihatnya akan sedikit terkena.


Alan yang tidak tahu di rumahnya sedang ada tamu Langsung masuk dalam kamarnya. Ia merasa malu karena tidak memakai baju. Sedangkan saat Alan masuk kamarnya, Sora muncul dari dalam dengan teh hangat untuk Riana.

__ADS_1


"Minum dulu Na," Sora memberikan segelas teh hangat untuk putri Pak Danu.


"Ada apa? Ceritakan pada Kak Sora?"


Setelah meminum teh hangatnya, Riana langsung memeluk tubuh Sora kembali.


"Bantu Riana Kak, Riana tidak mau harus menikah dengan orang yang tidak Riana sukai!" ucap Riana dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Memangnya siapa yang memaksa mu untuk menikah?" tanya Sora penasaran.


"Putra temen Ayah kak, sebulan yang lalu keluarga Mas Kianu datang ke rumah. Kedatangan mereka untuk melamar Riana. Tapi Riana tidak suka dengan Mas Kianu. Riana memang mengenalnya cukup lama, tapi Riana hanya menganggapnya seorang teman biasa," ucap Riana panjang lebar.


"Kamu sudah mengatakan, kalau kamu tidak mau?"


"Sudah Kak, Riana bilang kalau Riana belum siap."


"Terus?"


"Keluarga Mas Kianu tetap memaksa, Ayah juga sulit berkata tidak. Karena mereka sudah lama menjadi teman baik,"


"Terus Kakak bisa bantu apa Riana? Kakak orang baru disini," Sora binggung harus menolong dengan cara apa.


"Kakak bisa menolong ku, bolehkah aku sembunyi di rumah ini?" wajah Riana memelas, ia seperti sudah putus asa. Riana lari dari perjodohan yang tidak ia inginkan.


"Hah?" Sora sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Tolong Kak, aku tidak punya tempat untuk berlari kecuali ke rumah ini."


"Sebentar, aku tanya Mas Alan terlebih dulu. Kamu tunggu disini Na!"


Sora langsung masuk dalam kamarnya, ia dengan bisik bisik berbicara pada Alan. Sebenarnya tidak perlu bisik bisik juga, karena Alan sudah mendengar semuanya sejak awal.


"Bagaimana ini Mas? Riana ingin sembunyi di rumah ini untuk sementara waktu."


Akankah Alan membuka pintu rumahnya untuk perempuan lain.


Bersambung


****


Hai Para Pembaca dan Author kesayangan.


Jangan lupa dukung author ya.


Tekan tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya.

__ADS_1


Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Terimakasih 🍒💕💕💕


__ADS_2