
"Dua duanya," ucap Alan sambil mengecup pipi Sora yang sudah bersemu merah.
Entah mengapa Alan menjadi sangat mesra pada dirinya, sejak mereka pindah rumah. Pasangan Alan dan Sora seperti pengantin baru saja. Hari hari Sora berisi canda ria dan tawa, tanpa ia ketahui. Bahaya sedang mengancam kebahagiaan keduanya.
"Awas ini panas," Sora memperingati suaminya yang terus memepet tubuhnya.
"Sini, biar aku yang bawa," dibawanya cangkir kopi ke meja depan oleh Alan. Ia tidak ingin Sora menyentuh kopi yang panas. Makin lama ia semakin over protective pada istrinya itu.
"Haduh Mas, jangan berlebihan deh. Aku tidak apa-apa," Sora tidak ingin Alan terlalu bersikap berlebihan pada dirinya.
"Aku gak berlebihan Ra, aku hanya tidak ingin kamu terluka,"
Kedua alis Sora hampir menyatu, matanya memincing sebelah. Ia seakan tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
"Mas Alan pasti habis nonton acara raja gombal di youtub ya? Sekarang pinter banget kalau merayu," ejek Sora.
"Kata siapa aku merayu Ra, aku itu memang sayang sama kamu," tangan Alan meraih pinggang istrinya. Entah mengapa ia jadi ingin bermanja manja dengan Sora.
"Gombal, udah jam berapa ini Mas nanti telat," ucap Sora, ia sangsi menyaksikan suaminya yang bergelayut manja pada dirinya.
"Kamu gak suka ya Ra, aku peluk peluk seperti ini?" mata Alan tajam menatap wajah istrinya.
"Suka Mas, siapa sih yang menolak di manja manja sama orang yang Kita sukai. Cuma momentnya kurang pas. Jam berapa ini?"
Alan menatap jam dinding berbentuk hati yang melekat pada dinding rumahnya. Ia pun langsung menjauh dari Sora.
"Wah telat, aku ada janji jam delapan nanti sama calon investor." Suami Sora itu pun langsung siap siap. Begitu selesai sarapan bersama Sora, ia langsung tancap gas menuju kantor barunya.
Sora kini tinggal seorang diri di rumahnya yang sepi. Halaman rumah yang luas, membuat jarak yang cukup rengang antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya. Dari pada benggong tidak ada kerjaan, Sora mengeluarkan laptop yang lama tidak ia buka.
Sora duduk di atas ranjangnya yang empuk, disana pula ia bermain main dengan laptop miliknya. Baru juga ia menyalakan modem dan menyalakan koneksinya, pesan email beruntut langsung masuk satu persatu.
__ADS_1
Penasaran siapa yang mengirim email padanya, Sora pun langsung buru buru memeriksa. Setelah ia membaca siapa pengirim pesan tersebut, wajahnya seketika pucat pasi. Entah bagaiman perasaannya saat ini, yang jelas ia juga sulit mengartikannya.
Satu persatu ia baca surat elektronik yang dikirim oleh Ferry padanya, hanya itu yang menjadi penghubung komunikasi keduanya. Karena setelah memutuskan untuk memulai lembaran baru, Sora telah memblokir seluruh akses komunikasi dengan Ferry.
Sora benar-benar ingin memulai lembaran baru tanpa bayang bayang masa lalu. Namun nyatanya, Ferry bagai bayangan yang selalu mengintai kemanapun ia berada. Sora membaca bait demi bait kata yang Ferry tulis untuk dirinya.
Matanya nanar menatap rangkaian kata yang berbaris di depan mengantri untuk ia baca. Dengan hati yang disertai banyak penyesalan, ia kembali meneruskan membaca perasaan Ferry lewat surat yang telah dikirimkan pada dirinya.
Dear My Sora
Kamu salah Sora bila kamu pergi maka semua akan selesai begitu saja. Aku bahkan baru mulai tapi kamu justru pergi meninggalkan kepingan hati yang tersisa. Tunggulah aku, jangan sebut aku seorang pria jika tidak bisa memperjuangkan hati yang aku punya.
Sora berlanjut lagi membaca surat elektronik yang kedua.
Dear My Sora
Kamu percaya cinta itu buta Sora? aku tidak percaya!!! Kemanapun kamu berada aku ada disana. Menatap cintaku dari kejauhan, tunggulah sampai aku benar-benar menjemputmu dan menyandingmu tanpa ada jarak sebagai pemisah.
Setelah mengambil napas cukup dalam, Sora kembali menatap layar laptopnya. Ia pun membaca surat berikutnya.
Dear My sora
Jangan menghindar!!! Semakin kau cepat berlari dariku, aku akan semakin mengejarmu. Kamu tau Sora bahwa cinta itu gila? Sepertinya aku sudah gila karena mencintaimu terlalu dalam.
Deg, Sora seakan tidak mampu melanjutkannya lagi. Ia memilih mengambil minum dan menenangkan dirinya barang sesaat. Lama lama ia takut juga bila Ferry benar-benar nekad mencari dirinya sampai kesini.
Sembari memegang gelas yang ada di tangannya. Sora membuka tirai jendela rumah, diintipnya dari dalam. Siapa tahu ada orang diluar sana. Hati Sora jadi semakin was was, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Ferry benar-benar nekad mencari dirinya sampai kemari.
Setelah melihat hal yang tidak mencurigakan di depan rumahnya, Sora kembali masuk dalam kamar. Ia kembali menatap laptop yang ada di atas ranjang miliknya. Sora melangkah mendekati ranjang, dan mulai kembali membaca surat surat yang telah Ferry kirimkan teruntuk dirinya.
Dear My Sora
__ADS_1
Ini mungkin surat terakhir yang akan aku tuliskan untukmu Sora. Selanjutnya akan akan langsung datang padamu, menyelesaikan apa yang harus kita lanjutkan. Jangan berpikir untuk berlari dan pergi, kemanapun kakimu melangkah, hatiku akan selalu mengejar pemiliknya.
Tok tok tok..
Jantung Sora langsung berdetak hebat, ia memiliki firasat yang buruk ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dengan langkah dan tangan yang gemetaran ia mengintip siapa yang datang.
Hatinya cukup tenang, ketika ia melihat siapa yang telah datang. Itu adalah pak RT dengan kumis yang menjadi ciri khasnya. Sora pun membukakkan pintu untuk Bapak RT tersebut.
"Pagi Mbak Sora, maaf menganggu. Ada yang menanyakan alamat mbak pada saya barusan," ucap Pak RT.
Sora memutar bola matanya, ia berpikir sejenak. Menangkap apa maksud dari perkataan Pak RT nya tersebut.
"Iya, terus?" tanya Sora sembari menatap kumis Pak RT yang sama persis seperti kumisnya Mas Adam.
"Beliau sekarang ada di rumah saya sekarang. Saya mau kesini cuma mau memeriksa, apa mbak Sora ada di rumah. Kalau begitu saya permisi ya mbak, karena mbak Sora ada di rumah saya mau pulang dulu," pamit Pak RT begitu saja.
Sora menatap kepergian Pak RT yang semakin jauh dari pandangannya. Saat akan berbalik masuk ke dalam rumah, suara decit mesin mobil yang mau parkir di halaman rumah, membuat Sora memalingkan wajahnya. Ia menatap mobil asing yang masuk halaman rumahnya.
Seorang pria keluar dari dalam mobil warna hitam yang mengkilap. Sebuah senyuman terpancar dari bibirnya. Membuat Sora ingin ambruk saja.
Bersambung.
🍒🍒🍒
Hai para pembaca yang budiman, saya tidak mau bosa basi lagi ya.
Bila berkenan tolong tingalkan jejak.
Jejak kalian sangat berarti bagi kelangsungan kisah Sora.
Okey.. Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Rate Bintang Lima ya..
__ADS_1
Aku tunggu jejak kalian ✌