Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Alan atau Ferry?


__ADS_3

Sinar rembulan masih mengelayut manja di atas langit yang muram. Seakan menjelaskan isi dari perasaan Sora. Ia masih duduk terdiam disisi Ferry, pernyataan cinta Ferry yang mendadak membuat Sora tampak linglung. Seketika itu, ia menjadi orang bodoh yang tidak tahu harus melakukan apa.


Andai saja ia masih sendiri, mungkin akan dengan senang hati menerima cinta Ferry. Kenyataannya, Sora sudah bersuami. Dan yang paling penting, ia juga mencintai suaminya. Hanya saja kehadiran Ferry dalam hidupnya saat ini, membuat Sora sedikit merasa goyah. Ia seakan justru membagi hatinya pada dua orang pria.


"Sora!" Ferry menyebut nama perempuan yang sedari tadi hanya diam di sampingnya.


"Iya Mas,"


"Aku tahu kamu sudah menikah, tapi aku juga tidak bisa menghentikan perasaan yang ada dalam hatiku," ucap Ferry sembari mengengam tangan Sora.


Sora dengan nuraninya yang masih tersisa, langsung dengan cepat menarik tangan nya dari gengaman Ferry. Ini tidaklah benar. Ini adalah sesuatu yang salah, batin Sora.


Merasa ada penolakan dari perempuan yang duduk di sampingnya, Ferry terdiam untuk sementara. Baru sekejap ia merasakan manisnya madu, sekarang ia mendapat penolakan dari Sora. Ferry merasa harus menelan pil pahit kembali. Haruskah ia mundur dari perang yang baru ia perjuangkan?


Ferry bukan pria yang pengecut seperti saat ia masih muda, kini ia berubah menjadi sosok pria yang berani bermain api. Baginya ia akan tetap memperjuangkan cintanya. Sudah tanggung, sudah terlanjur hatinya terpaut pada Sora.


Karena merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memaksakan kehendaknya, Ferry pun mengalah. Ia menepis egonya, Ferry melajukan lagi mobilnya menuju kafe. Ia hendak mengantarkan Sora, karena mobil yang Sora pakai terparkir di sana.


Beberapa saat kemudian, Sora sudah sampai di kafe yang menyimpan banyak kenangan masa mudanya. Sora membuka pintu mobil tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Sora masih terguncang dengan apa yang melanda dirinya saat ini. Sebuah kejadian di luar prediksinya membuat ia nampak kacau. Rasa suka dan bersalah datang secara bersamaan kepada dirinya.


Saat akan menuju mobilnya sendiri, Ferry yang semula di depan kemudinya bangkit menghampiri Sora. Ferry dengan terang terangan berani mengecup kening Sora.


"Pikirkan lagi perasaanku, aku akan selalu menunggu!" ucap Ferry di telinga Sora dengan lirih.


Bisikan yang berhembus dari bibir Ferry mampu membuat Sora bergidik ngeri. Ia merinding, semua bulu-buluny berdiri. Perasaan yang tidak asing kembali mengerogoti hatinya. Ia nampak terpaku, tidak merespon aksi kejutan dari Ferry yang bertubi-tubi. Perempuan cerdas itu mendadak kehilangan akal sehatnya karena asmara yang liar.


"Hati-hati di jalan Ra,"


"Iya"


Ferry kembali masuk dalam mobilnya, meski tubuhnya kini telah menjauh dari Sora. Hatinya tetap terpaut pada perempuan yang sudah bersuami tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Sora kembali menata hatinya. Meski ada dua Pria yang masuk dalam hidupnya, ia harus tetap memilih salah satu diantara keduanya. Namun, hatinya begitu serakah. Rasa kesepian yang semula mendera dirinya, membuat Sora menginginkan kedua-duanya. Kesetian Sora kini harus di pertanyakan, kembali ia merutuki sikapnya sendiri. Sora di landa kegalauan yang panjang.


Setelah bergelut dengan keresahan yang tak kunjung pergi dari kehidupannya, Sora kembali memulai aktifitas seperti biasanya. Hari ini Alan akan pulang, Sora berusaha bersikap biasa saja. Ia tidak ingin Alan menjadi curiga pada dirinya.


"Sora," panggil Alan yang sudah sampai di kediaman rumah mereka.


Sora yang mendengar suara sang suami, melangkahkan kaki mungilnya menuju ke sumber suara.


"Sudah pulang Mas?"


"Iya Ra, dapat penerbangan paling awal," ucap Alan sembari mendekat pada istrinya. Rasanya Alan rindu sekali pada Sora.


Sora menjadi tambah merasa bersalah, ketika Alan mencium keningnya. Ingatannya kembali ketika Ferry semalam telah mencium keningnya juga.


Alan yang biasanya suka pulang malam, ditambah aksi mabuk-mabuklanya kini berubah menjadi hangat. Alan menjadi lebih perhatian semenjak Sora berencana mecarikan istri baru untuk suaminya. Sora benar-benar dilanda kegalauan. Alan yang semula ingin ia relakan mendadak begitu manis. Suaminya menjadi lebih perhatian, sama seperti Ferry ketika memperlakukannya.


"Kamu sakit Ra?" tanya Alan setelah mengecup kening istrinya. Ia melihat wajah Sora yang nampak pucat.


"Kamu memikirkan Aku, ya?"


Sora menelan ludah, ketika ia mendengar ucapan dari suaminya. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan dua pria yang masuk secara bersamaan di dalam hatinya. Sora hanya bisa merutuki dirinya sendiri.


Melihat Sora yang malah melamun, membuat Alan melepaskan jas yang ia kenakan. Alan duduk di atas sofa untuk melepaskan sepatu yang ia kenakan. Sora datang mendekati Alan, ia membantu meletakkan sepatu suaminya pada tempatnya.


"Aku antar ke Dokter ya,?" tanya Alan yang melihat istrinya nampak lesu.


"Tidak apa-apa Mas, tidak usah. Aku baik-bsik saja kok," tolak Sora. Ia merasa tidak sakit, Sora hanya lelah karena banyak pikiran. Ia terlalu berpikir keras tentang asmara liar yang memburu dirinya.


"Ya sudah kalau begitu, siapkan air hangat ya. Tubuhku lelah banget, aku mau mandi," perintah Alan.


"Iya Mas, Aku siapkan dulu,"

__ADS_1


Sora berjalan menuju ke dalam kamar mandi, ia akan menyiapkan air hangat untuk suaminya. Tanpa Sora ketahui, Alan mengikuti dirinya dari belakang.


Setelah menyalakan air hangatnya, Sora hendak berbalik keluar dari kamar mandi. Namun langkahnya mendadak terhenti, ketika mendapati Alan sudah berdiri di hadapannya.


"Ya ampun, membuat terkejut saja Mas. Jantungku hampir copot," protes Sora yang berhasil terkejut karena aksi Alan.


"Hahaha... Kok seperti lihat hantu saja Ra?"


"Bukan begitu Mas, Aku hanya kaget saja," ucap Sora sembari melangkah menuju pintu keluar.


"Mau kemana?" Alan memeluk Sora yang hampir sukses keluar kamar, ia sudah di ambang pintu ketika Alan merengkuh tubuhnya.


"Aku mau menyiapkan sarapan dulu," Sora menjawab dengan gelagapan. Hatinya pagi-pagi sudah berdesir lembut karena sikap Alan.


"Aku mau sarapannya sekarang,"


"Iya, lepasin dulu. Akan aku siapkan dengan cepat," bujuk Sora. Pelukan Alan begitu kuat hingga ia tidak bisa lepas dari jeratan lengan suaminya.


"Aku mau sarapan yang lain,"


Alan tanpa aba-aba memutar tubuh Sora. Kini posisi keduanya saling berhadapan dengan sempurna. Mata Alan menatap lembut ke dalam mata Sora yang bening dengan bulu-bulunya yang nampak lentik.


Sora tidak mampu berkutik, ketika Alan mulai mendekatkan wajahnya. Sora seperti terbang ke surga. Akhir-akhir ini ia begitu banyak di hujani cinta dari dua orang pria.


Sedangkan Alan yang tidak mengerti rahasia hati Sora, dengan segenap jiwanya Alan mencurahkan kasih sayangnya pada Sora saat ini. Alan dengan lembut memegang dagu Sora, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Sora.


Tidak butuh waktu yang lama, kini Alan dan Sora telah hanyut dalam asmara mereka. Setelah kecupan lembut yang pertama, Alan kembali mematuk bibir Sora yang menurut dirinya, rasanya begitu manis.


Sora benar-benar merasa diburu oleh dua pria sekaligus. Dua orang pria dengan hasrat yang membara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2